Indonesia Perkuat Daya Saing Manufaktur Lewat Ekspansi Ekspor

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia. Foto: Tangkapan layar YouTube Kementerian ESDM.

Indonesia Perkuat Daya Saing Manufaktur Lewat Ekspansi Ekspor

Husen Miftahudin • 16 October 2026 11:47

Tangerang: Penguatan ekspor, peningkatan nilai tambah produk, dan perluasan akses pasar internasional menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing manufaktur Indonesia. Upaya tersebut perlu didukung hilirisasi, penyederhanaan prosedur ekspor, kemudahan pembiayaan, serta promosi produk nasional agar semakin kompetitif di pasar global.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengatakan, penguatan ekspor perlu berjalan seiring dengan industrialisasi untuk memperbesar kontribusi produk Indonesia dalam perdagangan internasional.

"Capaian ini harus menjadi momentum untuk memperkuat ekspor nasional, meningkatkan nilai tambah produk, serta mendorong produk Indonesia semakin kompetitif di pasar internasional," ujar Bahlil saat menyampaikan apresiasi kepada penerima Penghargaan Primaniyarta 2026 dalam pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten, dikutip dari keterangan tertulis, Jumat, 16 Oktober 2026.

Bahlil, yang mewakili Presiden RI Prabowo Subianto, menegaskan hilirisasi dan industrialisasi menjadi langkah untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia.

Menurut dia, upaya tersebut perlu diiringi perluasan akses pasar melalui perjanjian perdagangan internasional, penyederhanaan prosedur ekspor, kemudahan pembiayaan, dan promosi produk yang lebih intensif. Dengan dukungan tersebut, pelaku usaha diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk memperluas pasar dan terintegrasi dalam rantai pasok global.

"Pada akhirnya, strategi ekonomi berdikari bertujuan membangun perekonomian Indonesia yang kuat, mandiri, inklusif, dan berdaya saing. Kita ingin memastikan kekayaan bangsa menjadi kekuatan bagi kemajuan Indonesia, serta memberi manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat," kata Bahlil.
 

 

Ekspor manufaktur perlu diimbangi pasokan domestik


Salah satu perusahaan manufaktur yang memperluas pasar internasional adalah PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim). Perusahaan tersebut menerima Penghargaan Primaniyarta 2026 kategori Eksportir Produk Industri Manufaktur dari Kementerian Perdagangan.

Penghargaan itu diterima Direktur Keuangan dan Umum Pupuk Kaltim Andik Cahyanto Budiarto, dalam pembukaan TEI ke-41. Penghargaan tersebut diberikan sebagai pengakuan atas kontribusi perusahaan dalam meningkatkan kinerja perdagangan luar negeri dan memperluas pasar internasional.

Andik mengatakan, pencapaian tersebut menjadi motivasi bagi perusahaan untuk memperkuat kinerja bisnis, sekaligus menjaga tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan pupuk dalam negeri.

Salah satu langkah ekspansi pasar dilakukan melalui pengiriman urea ke Australia dengan skema Government to Government (G2G) pada Mei 2026. Pengiriman perdana sebanyak 47.250 ton dari Bontang merupakan bagian dari target ekspor bertahap sebesar 250 ribu ton hingga akhir 2026.

Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok pupuk antara Indonesia dan Australia di kawasan Asia Pasifik. "Bagi Pupuk Kaltim, pengembangan pasar ekspor menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengoptimalkan kapasitas produksi, serta memperkuat posisi di tengah dinamika industri global," ucap Andik usai menerima penghargaan.

Menurut Andik, keseimbangan antara ekspansi ekspor dan pemenuhan kebutuhan domestik menjadi aspek penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis. Perusahaan, lanjutnya, terus mengoptimalkan kapasitas produksi, meningkatkan efisiensi, dan menjaga kesiapan distribusi untuk mendukung sektor pertanian serta industri nasional.


(Direktur Keuangan dan Umum Pupuk Kaltim Andik Cahyanto Budiarto saat menerima Penghargaan Primaniyarta 2026. Foto: dok Pupuk Kaltim)
 

Jaga produksi dan ketersediaan pupuk


Hingga 30 September 2026, Pupuk Kaltim mencatatkan produksi amonia sebesar 2.171.024 ton atau 79,23 persen dari target. Produksi urea mencapai 2.812.801 ton atau 81,29 persen, sedangkan NPK tercatat sebesar 263.457 ton atau 82,07 persen dari target.

Capaian produksi tersebut mendukung penyediaan produk bagi sektor pertanian dan industri. Perusahaan juga memastikan ketersediaan pupuk untuk memenuhi kebutuhan petani dalam negeri.

Berdasarkan data perusahaan, stok pupuk di gudang produsen lini I tercatat lebih dari 245 ribu ton untuk mendukung musim tanam Oktober 2026 hingga Maret 2027. Stok tersebut terdiri atas 236.417 ton urea dan 8.658 ton NPK.

"Kesiapan stok menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga kesinambungan pasokan, sehingga aktivitas produksi dan ekspor tetap sejalan dengan kebutuhan pupuk nasional," lanjut Andik.

Ia menambahkan, optimalisasi kapasitas produksi dan kesiapan distribusi menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat kontribusi terhadap industri manufaktur dan sektor pertanian Indonesia.

Penguatan pasar ekspor, menurut perusahaan, perlu berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan dalam negeri agar peluang perdagangan internasional dapat dimanfaatkan tanpa mengesampingkan dukungan terhadap ketahanan pangan nasional.

(Husen Miftahudin)