Try Sustrisno. (Instagram/@erickthohir)
Jejak Panjang Try Sutrisno Mengabdi untuk Negeri
Riza Aslam Khaeron • 2 March 2026 12:19
Jakarta: Wakil Presiden ke-6 RI, Try Sutrisno, meninggal dunia pada Senin, 2 Maret 2026. Try Sutrisno tutup usia di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang purnawirawan jenderal yang pernah menempati berbagai posisi strategis, mulai dari lingkungan TNI hingga wakil presiden.
Try Sutrisno mengembuskan napas terakhirnya di RSPAD Gatot Soebroto pada pukul 06.58 WIB. Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka yang berlokasi di Jalan Purwakarta No. 6, Menteng, Jakarta Pusat.
Tokoh yang akrab disapa Pras ini merupakan figur sentral di era Orde Baru. Sebelum menjabat sebagai Wakil Presiden mendampingi Presiden Soeharto pada periode 1993–1998, ia memegang jabatan tertinggi militer sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).
Sebagai purnawirawan jenderal TNI Angkatan Darat, dedikasinya telah mewarnai sejarah politik dan keamanan Indonesia selama puluhan tahun.
Untuk mengenang jasa beliau, berikut adalah profil lengkapnya:
Kehidupan Awal dan Pendidikan
H. Try Sutrisno bin Subandi lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 November 1935. Ia merupakan putra dari Subandi, seorang pria asal Garut, Jawa Barat, yang bekerja sebagai sopir ambulans di Dinas Kesehatan Kota Surabaya, dan Mardiyah, seorang ibu rumah tangga asal Surabaya.Masa kecilnya dilalui dalam situasi nasional yang penuh gejolak. Pasca Proklamasi Kemerdekaan 1945, saat Belanda berupaya kembali menguasai Indonesia, keluarga Try Sutrisno sempat mengungsi dari Surabaya ke Mojokerto demi keamanan.
Pada usia 13 tahun, ia berniat bergabung dengan Batalyon Poncowati untuk ikut bertempur. Meski ditolak sebagai prajurit karena usianya yang masih terlalu muda, ia akhirnya dipercaya menjadi kurir.
Tugasnya saat itu tergolong berisiko tinggi, yakni mencari informasi di wilayah pendudukan Belanda dan membantu pengadaan obat-obatan bagi Angkatan Darat Indonesia.
Setelah pengakuan kedaulatan pada 1949, Try kembali ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikan formalnya. Ia berturut-turut menyelesaikan pendidikan di Sekolah Rakyat (1950), SMP (1953), dan SMA Bagian B (1956) di Surabaya.
Ketertarikannya pada dunia militer membawanya mendaftar ke Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD). Sempat terkendala pada pemeriksaan fisik, ia mendapatkan kesempatan kedua berkat atensi dari Mayor Jenderal GPH Djatikusumo.
Setelah melewati serangkaian seleksi lanjutan di Bandung, ia akhirnya diterima dan lulus dari ATEKAD pada tahun 1959.
Tak berhenti di sana, ia terus memperdalam ilmu militer melalui berbagai pendidikan lanjutan, seperti Kupaltu di Bogor (1965), Suslapa di Bogor (1968), Seskoad IX di Bandung (1972), hingga Seskogab V di Jakarta (1977).
Karier Militer Try Sutrisno

Jenderal ABRI Try Sustrisno duduk di pesawat tempur Tornado buatan Inggris. (Facebook/Nostalgia majalah, buku & tabloid jadul)
Karier militer aktif Try Sutrisno dimulai pada 1957 ketika ia terlibat dalam operasi penumpasan Pemberontakan PRRI di Sumatra. Setelah lulus dari ATEKAD pada 1959, pengalamannya semakin kaya melalui penugasan di berbagai wilayah strategis seperti Sumatra, Jakarta, dan Jawa Timur.
Titik balik kariernya terjadi pada tahun 1974, ketika ia dipercaya menjadi ajudan Presiden Soeharto. Posisi ini tidak hanya strategis secara militer, tetapi juga memperkuat kedekatannya dengan lingkar kekuasaan tertinggi negara.
Sejak saat itu, jabatan-jabatan penting mulai ia emban, di antaranya:
- Kepala Staf KODAM XVI/Udayana (1978)
- Panglima KODAM IV/Sriwijaya (1979)
- Panglima KODAM V/Jaya di Jakarta (1982)
Salah satu warisannya sebagai KSAD adalah pembentukan Badan Tabungan Wajib Perumahan TNI-AD untuk kesejahteraan prajurit. Puncaknya, pada 1988, ia dilantik menjadi Panglima ABRI menggantikan L.B. Moerdani.
Selama menjabat sebagai Panglima ABRI, Try Sutrisno fokus menangani berbagai pergolakan di daerah. Ia berhasil menekan gerakan separatis di Aceh pada tahun 1992. Sebelumnya, pada 1990, ia juga menangani Insiden Talangsari yang melibatkan kelompok demonstran.
| Baca Juga: Pramono Kenang Try Sutrisno Sosok yang Merangkul Semua Orang |
Menjadi Wakil Presiden

Sustrisno dilantik jadi Wapres, 11 Maret 1993. (Dok. Sekretariat Negara Republik Indonesia)
Try Sutrisno resmi menjabat sebagai Wakil Presiden ke-6 RI pada 11 Maret 1993. Pencalonannya tergolong unik karena dilakukan secara terbuka oleh fraksi ABRI di MPR pada Februari 1993, bahkan sebelum Soeharto secara resmi mengumumkan pilihannya.
Meskipun sempat memicu dinamika politik dengan Golkar, Soeharto akhirnya menyetujui pasangan tersebut untuk periode 1993–1998.
Menjelang akhir masa jabatannya, Indonesia dihantam Krisis 1997–1998 yang mengguncang stabilitas nasional. Meski sempat muncul dukungan agar kembali menjabat, Try Sutrisno memilih tidak melakukan manuver politik demi pencalonan ulang. Pada akhirnya, Soeharto memilih B.J. Habibie sebagai wakil presiden berikutnya.
Masa jabatan tersebut menjadi babak penutup karier politik formal Try Sutrisno di pemerintahan pusat, sekaligus mencatatkan namanya sebagai salah satu tokoh kunci dalam transisi sejarah menuju akhir era Orde Baru.