Persaingan Dompet Digital Makin Ketat, Siapa yang Paling Unggul?

Ilustrasi dompet digital. Foto: dok Flip.

Persaingan Dompet Digital Makin Ketat, Siapa yang Paling Unggul?

Husen Miftahudin • 25 February 2026 21:09

Jakarta: Laporan Digital Wallet Research 2026: User Behavior & Competitive Landscape yang dirilis Ipsos Indonesia mengungkapkan dompet digital (e-wallet) kini bukan sekadar alternatif metode pembayaran, melainkan telah berevolusi menjadi bagian dari gaya hidup finansial masyarakat. Industri ini memasuki fase baru dengan hadirnya ekosistem terpadu dalam satu aplikasi yang mampu memenuhi beragam kebutuhan transaksi digital.

Hasil riset menunjukkan dompet digital semakin terintegrasi dalam berbagai kebutuhan transaksi finansial harian, di mana mayoritas masyarakat menggunakan dompet digital untuk belanja online (86 persen), pembelian makanan dan minuman (77 persen), pembayaran tagihan rutin seperti listrik dan internet (69 persen) dan transfer ke rekening bank (68 persen).

Dalam momentum pertumbuhan yang pesat, terbuka ruang kompetitif bagi para pemain utama seperti ShopeePay, GoPay, DANA, dan OVO untuk menghadirkan inovasi berkelanjutan melalui ragam promo, penguatan fitur serta pengembangan ekosistem layanan yang relevan dengan kebutuhan transaksi digital masyarakat.

Di antara para pemain dompet digital di Indonesia, ShopeePay menduduki peringkat pertama pada indikator utama. Pada indikator merek yang paling pertama diingat atau Top Of Mind, 41 persen responden memilih ShopeePay, disusul dengan DANA (26 persen), GoPay (23 persen), OVO (8 persen), dan lainnya (2 persen).

Pada indikator dompet digital yang digunakan dalam tiga bulan terakhir, ShopeePay menduduki peringkat paling tinggi dengan persentase 91 persen, disusul dengan GoPay (67 persen), DANA (67 persen), dan OVO (44 persen). Sementara pada indikator jumlah frekuensi transaksi menggunakan dompet digital per bulan, responden rerata melakukan 23 kali transaksi per bulan menggunakan ShopeePay, disusul oleh OVO, GoPay, dan DANA.

Executive Director Ipsos Indonesia Andi Sukma mengatakan, peta persaingan dompet digital di 2025 telah berevolusi dari sekadar meningkatkan awareness menjadi perlombaan pengembangan ekosistem digital dalam satu aplikasi.

"Riset terbaru IPSOS menunjukkan preferensi pengguna kini berakar pada keamanan sistem dan kedalaman integrasi layanan. Bukan lagi soal siapa yang paling dikenal, melainkan siapa yang paling mampu hadir di setiap titik sentuh kehidupan finansial masyarakat secara mulus yang terintegrasi," jelas Andi dalam siaran persnya, Rabu, 25 Februari 2026.
 

Baca juga: Solusi Dana Cepat, Begini Prosedur Pinjam Uang di DANA Tanpa Ribet


(Executive Director Ipsos Indonesia Andi Sukma. Foto: dok Istimewa)
 

Gen Z jadi motor adopsi digital payment


Perubahan peran dompet digital dari alternatif metode pembayaran menjadi sebuah ekosistem terpadu dalam satu aplikasi tentu tidak lepas dari peran satu generasi yang tidak sekadar menjadi pengikut arus, namun juga penentu standar dan penggerak dari kebiasaan baru di pasar. Kelompok yang bertindak sebagai akselerator paling agresif dalam ekosistem dompet digital ini adalah Generasi Z.

Bukan lagi sekadar pengikut tren, sebagai digital natives yang lahir dengan kemudahan akses internet dalam genggaman, Generasi Z memiliki ekspektasi tinggi terhadap fungsi pembayaran yang dinilai dapat terintegrasi dengan gaya hidup digital.

Berdasarkan data perilaku konsumen terbaru, penetrasi dompet digital dalam kategori Ever Used 3 Months (P3M) mencatatkan, sebanyak 88 persen Gen Z memilih ShopeePay sebagai dompet digital yang paling sering digunakan. Diikuti platform lain seperti DANA (72 persen), GoPay (68 persen), dan OVO (47 persen).

Preferensi tersebut tidak terjadi tanpa alasan. Keputusan Generasi Z memilih dompet digital, dipengaruhi oleh beberapa faktor; aspek kepraktisan (57 persen) dan dompet digital yang menawarkan bebas biaya administrasi untuk berbagai transaksi (49 persen), mulai dari transfer antar-platform, topup saldo, hingga penarikan tunai. Selain itu, fleksibilitas penggunaan yang bisa di berbagai merchant (48 persen) juga menjadi faktor penentu.

"Semakin luas jangkauan layanan digital, semakin dalam pula integrasi dompet digital dalam keseharian generasi muda. Melalui hasil survei, aktivitas transaksi GenZ menggunakan dompet digital dalam kebutuhan sehari-hari terkonsentrasi pada beberapa alasan utama, baik untuk berbelanja online, membeli makanan dan minuman, serta kebutuhan gaming dan layanan digital seperti pembelian pulsa dan bayar tagihan," papar Andi.

Dalam ekosistem yang bergerak dinamis, metode pembayaran yang mampu mengikuti ritme konsumsi digital menjadi faktor penentu dalam preferensi pengguna, terutama generasi Z. Data menunjukan untuk kebutuhan top-up gim, ShopeePay memimpin dengan 46 persen, diikuti DANA 28 persen, GoPay 19 persen, dan OVO 4 persen.

"Gen Z tidak lagi melihat dompet digital sebagai alat bayar alternatif, melainkan sebagai bagian dari gaya hidup mereka. Siapa pun penyedia layanan yang mampu mengintegrasikan hiburan, seperti gaming, dengan kemudahan transaksi dalam satu klik, dialah yang akan memenangkan pasar dalam dekade ini," jelas Andi menambahkan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)