Ilustrasi gelombang air laut di Perairan Muna, Sulawesi Tenggara. ANTARA/La Ode Muh Deden Saputra
Waspada! Gelombang Tinggi Ancam Perairan Sultra 3 Hari ke Depan
Whisnu Mardiansyah • 12 March 2026 21:04
Kendari: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Maritim Kendari mengeluarkan peringatan dini potensi gelombang tinggi yang melanda sejumlah wilayah perairan di Sulawesi Tenggara (Sultra) pada periode 12 hingga 14 Maret 2026.
Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Kendari Sugeng Widarko mengatakan kondisi tersebut dipicu oleh pola angin yang umumnya bertiup dari arah Barat Daya hingga Barat Laut dengan kecepatan berkisar antara 2-15 knot.
"Kecepatan angin tertinggi diprediksi dapat mencapai 20 knot atau setara skala 5 Beaufort, terutama di wilayah Teluk Bone, Perairan Baubau, Laut Flores bagian selatan Buton, Perairan Buton, Perairan Wakatobi, hingga Laut Banda Timur Wakatobi," kata Sugeng Widarko di Kendari seperti dilansir Antara, Kamis, 12 Maret 2026.
Ia merinci peringatan dini tersebut terbagi dalam dua periode waktu guna memudahkan masyarakat dalam memantau risiko di masing-masing wilayah perairan. Periode pertama pada 12 Maret pukul 08.00 Wita hingga 13 Maret pukul 08.00 Wita, potensi gelombang tinggi diperkirakan melanda Teluk Bone Barat bagian Kolaka Utara, Kolaka, dan Kabaena, serta mencakup Perairan Baubau, Perairan Buton, Laut Flores selatan Buton, Perairan Wakatobi, hingga Laut Banda Timur Wakatobi.
Periode kedua pada 13 Maret pukul 08.00 Wita hingga 14 Maret pukul 08.00 Wita, potensi gelombang tinggi diprediksi masih bertahan di wilayah Perairan Buton, Laut Flores selatan Buton, serta Perairan Wakatobi bagian barat.
"Berdasarkan prakiraan ini, kami mengimbau masyarakat, khususnya nelayan, operator kapal, dan pengguna transportasi laut, untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan," ujar Sugeng.
(1).jpg)
Ilustrasi gelombang tinggi
Ia juga menekankan pentingnya bagi para pelaku usaha transportasi laut untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca maritim melalui saluran resmi BMKG sebelum melakukan pelayaran.
"Hal ini dilakukan guna meminimalkan risiko kecelakaan laut, mengingat kondisi cuaca di perairan Sultra yang dapat berubah sewaktu-waktu akibat pola angin tersebut," tambahnya.