Kepala BMKG Bandung Teguh Rahayu saat diwawancara oleh media di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada Kamis, 29 Januari 2026. ANTARA/Ilham Nugraha
BMKG Gencarkan Modifikasi Cuaca di Lokasi Longsor Cisarua
Silvana Febiari • 29 January 2026 15:18
Bandung Barat: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggencarkan operasi modifikasi cuaca untuk mengurangi potensi hujan lebat di sekitar area longsor Cisarua. Operasi ini dimulai pada 24 Januari 2026 dan akan terus berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
“Sejak 24 Januari BMKG bersama BNPB dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat sudah melakukan modifikasi cuaca dan sampai hari ini masih terus berjalan. Hari ini kita sudah tiga kali di sekitar Gunung Burangrang,” kata Kepala BMKG Bandung Teguh Rahayu, dikutip dari Antara, Kamis, 29 Januari 2026.
Jika dihitung sejak dimulainya operasi pada 24 Januari, jumlah total penerbangan modifikasi cuaca telah mencapai lebih dari 10 kali. Menurut Teguh, intensitas operasi modifikasi cuaca ditingkatkan karena wilayah Jawa Barat saat ini berada pada puncak musim hujan dengan potensi pertumbuhan awan hujan yang sangat tinggi.
Baca Juga :
Pada kesempatan tersebut, Teguh juga menjelaskan bahwa sebelum longsor terjadi di Cisarua, wilayah tersebut sempat diguyur hujan dengan intensitas ekstrem. Hal itu diduga menjadi salah satu pemicu terjadinya longsor.
“Sehari sebelum kejadian, tercatat curah hujan ekstrem di atas 200 milimeter. Kejadiannya ekstrem pada tanggal 23,” kata Teguh.
.jpg)
Ilustrasi operasi modifikasi cuaca. Foto: BNPB.
Ia menyebutkan curah hujan tersebut setara dengan akumulasi hujan yang biasanya terjadi selama satu bulan. Namun, turun hanya dalam waktu satu hari.
“Ibaratnya, intensitas curah hujan yang seharusnya tumpah sebulan itu tumpah dalam satu hari,” ujarnya.
BMKG menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca dilakukan sebagai langkah mitigasi untuk mengurangi potensi hujan lebat. Langkah ini diambil untuk mencegah kondisi yang dapat memperparah wilayah rawan bencana, terutama di Kabupaten Bandung Barat.