Suasana tarawih perdana di Musala Miftakhul Huda, Dermojurang, Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
Mayoritas Warga Muhammadiyah, Toleransi di DIY Sikapi Perbedaan Awal Ramadan
Ahmad Mustaqim • 17 February 2026 21:57
Yogyakarta: Masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai menggelar salat tarawih pada Selasa malam, 17 Februari 2026. Hal itu tampak di Musala Miftakhul Huda, Dusun Dermojurang, Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul. Suasana menjelang salat Isya, para jemaah mulai berdatangan. Azan yang berkumandang diikuti satu per satu jemaah yang tiba di musala.
"Kami salat tarawih mulai malam ini," kata Eko Budiono, seorang warga yang melaksanakan salat Isya dan tarawih di Musala Miftakhul Huda, Selasa, 17 Februari 2026.
Masyarakat di DIY sebagian mengikuti keputusan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang menetapkan awal puasa Ramadan 1447 H dimulai pada Rabu, 18 Februari 2026. Masjid-masjid maupun musala di DIY pun sebagian besar mengikuti ketetapan tersebut.
Masjid Miftahul Jannah di Dusun Bantar Kulon, Desa Banguncipto, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, juga menggelar tarawih malam ini. Masyarakat di dusun tersebut sudah mulai salat tarawih.
Seorang warga Dusun Bantar Kulon, Yusuf, menjadi salah satu jemaah di masjid tersebut. Ia mengatakan mengikuti masyarakat sekitar yang akan berpuasa Ramadan mulai besok, Rabu.
"Masyarakat sini demikian, saya ikut saja," katanya.
Meski demikian, ada sebagian masyarakat yang belum melaksanakan salat tarawih. Wayahdi, warga Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, mengatakan mengikuti keputusan pemerintah. Sebagaimana diketahui, pemerintah melalui Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat pada Selasa malam, 17 Februari 2026, dan menetapkan awal Ramadan secara resmi. Berdasarkan data hisab, 1 Ramadan 1447 H diprediksi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
.jpg)
"Saya ikut keputusan pemerintah, tapi ada tetangga yang sudah salat tarawih. Warga sudah biasa menanggapi perbedaan sebagai hal biasa," ujarnya.
Masyarakat DIY tampak menyikapi perbedaan penetapan awal Ramadan dengan bijaksana. Di berbagai wilayah, terlihat jemaah salat tarawih di masjid-masjid Muhammadiyah, sementara warga lainnya memilih menunggu keputusan pemerintah. Suasana toleransi dan saling menghormati tetap terjaga di tengah keberagaman metode penetapan awal bulan Hijriah.