Mojtaba Khamenei Rombak Petinggi Garda Revolusi Iran

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyed Mojtaba Khamenei. Foto: Press TV

Mojtaba Khamenei Rombak Petinggi Garda Revolusi Iran

Fajar Nugraha • 11 August 2026 15:19

Teheran: Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei pada Senin mengeluarkan dekrit yang menunjuk enam komandan militer senior.

“Penunjukkan ini termasuk pengganti bagi empat komandan yang tewas dalam serangan Israel-Amerika Serikat,” menurut penyiar negara Iran, IRIB, seperti dikutip dari Anadolu, Selasa 11 Agustus 2026.

Ali Abdollahi ditunjuk sebagai kepala staf Angkatan Bersenjata menggantikan Abdolrahim Mousavi, sementara Ahmad Vahidi ditetapkan sebagai komandan tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menggantikan Mohammad Pakpour.

Dalam dekrit terpisah, Kioumars Heydari ditunjuk sebagai wakil kepala staf Angkatan Bersenjata, sedangkan Mostafa Izadi ditetapkan sebagai wakil komandan tertinggi IRGC.

Khamenei juga menunjuk Ali Azmaei sebagai komandan Angkatan Laut IRGC, menggantikan Alireza Tangsiri yang tewas.

Hossein Taeb ditunjuk sebagai kepala Organisasi Basij IRGC, menggantikan Gholamreza Soleimani yang tewas.

Dalam dekret tersebut, Khamenei menyerukan "pengembangan yang berkelanjutan dan komprehensif" atas kemampuan militer demi mencapai "daya tangkal maksimal," serta kesiapan untuk melancarkan "operasi ofensif yang kuat terhadap musuh."

Ia juga memerintahkan peningkatan "kemampuan pertahanan dan keamanan yang komprehensif dan mutakhir" bagi Angkatan Bersenjata dan Basij, serta penyediaan respons yang efektif terhadap segala tingkat ancaman militer baik konvensional, modern, kognitif, maupun hibrida.

Lebih lanjut, Khamenei menyerukan penyelesaian integrasi antara Staf Umum Angkatan Bersenjata dan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, berdasarkan arahan dari mendiang pemimpin tertinggi sebelumnya.

Iran telah terlibat dalam konflik militer dengan Washington sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran pada Februari, yang memicu ketegangan regional. Teheran membalas dengan serangan yang menyasar negara-negara di kawasan yang menampung aset militer AS.

Iran dan AS menyepakati gencatan senjata pada April dan kemudian menandatangani nota kesepahaman pada Juni yang bertujuan mengakhiri konflik militer mereka serta mencapai kesepakatan damai yang langgeng.

Namun, kesepakatan tersebut gagal bulan lalu. Teheran dan Washington saling melancarkan serangan selama hampir dua minggu sebelum Presiden AS Donald Trump secara tiba-tiba menghentikan pengeboman di tengah laporan adanya pembicaraan untuk menyelesaikan konflik tersebut.

(Fajar Nugraha)