DVI Polda Jatim Ambil 13 Sampel DNA Keluarga Korban KM Virgo Transport 8

Tim SAR gabungan menggunakan Kapal Rigid Bouyancy Boat (RBB) mengevakuasi korban selamat kecelakaan Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 dari total 22 korban selamat yang berhasil dievakuasi dari KRI Nala ke Pelabuhan Trisakti di Banjarmasin. ANTARA/Tumpal

DVI Polda Jatim Ambil 13 Sampel DNA Keluarga Korban KM Virgo Transport 8

Faishol Taselan • 15 September 2026 16:08

Surabaya: Tim Disaster Victim Identification (DVI) Biddokkes Polda Jawa Timur mengambil 13 sampel DNA dari keluarga inti korban tenggelamnya KM Virgo Transport 8. Pengambilan sampel dilakukan di Posko Ante Mortem Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Kaor DVI Biddokkes Polda Jatim Dokter Budi Prasetyo telah menerima 43 data ante mortem dari keluarga dan rekan kerja korban. Namun, pengambilan sampel DNA baru dilakukan terhadap 13 orang yang memiliki hubungan biologis sebagai keluarga inti korban.

“Kami menerima 43 data ante mortem yang berasal dari keluarga maupun rekan kerja korban, namun baru 13 kita ambil buccal swab untuk sampel pemeriksaan DNA. Sampel tidak diperiksa pada semua yang melaporkan, hanya keluarga inti sebagai data pembanding,” kata Budi di Surabaya, Selasa, 15 September 2026.

Budi menjelaskan pengambilan sampel DNA tidak dilakukan terhadap seluruh pelapor. Tim DVI hanya membutuhkan sampel dari kerabat yang memiliki hubungan biologis dengan korban untuk dijadikan data pembanding dalam proses identifikasi.

Proses pendataan korban juga dilakukan secara terintegrasi antara Posko Ante Mortem Surabaya dan Posko Ante Mortem Banjarmasin. Data korban dari Jawa Timur, Kalimantan Selatan, serta sejumlah provinsi lainnya akan dihimpun dalam satu basis data. Data tersebut diperbarui secara berkala setiap hari untuk mendukung proses pencocokan identitas korban.
 


“Memang operasi DVI ini satu kesatuan terintegrasi antar polda. Data yang diambil selalu kita match-kan sehingga nanti menjadi big data yang terkoordinasi setiap hari,” katanya.

Dalam proses identifikasi korban, tim DVI menggunakan dua kelompok metode, yakni primer dan sekunder. Metode primer mencakup pemeriksaan sidik jari, data gigi, serta DNA.

Budi mengatakan data sidik jari dapat diperoleh dari sejumlah dokumen yang memuat identitas korban. Tim juga menggali informasi mengenai kondisi gigi sebagai salah satu data pembanding.

“Sidik jari kita kita gali dari rekan-rekan Inafis ya dari Reskrim, itu bisa dari KTP korban ya, ataupun dari ijazah, seperti itu. Kemudian kita tanyakan kalau untuk primer itu ada gigi,” ujarnya.


Korban selamat ceritakan KM Virgo Transport 8 oleng ke kiri sebelum tenggelam. Foto: Tangkapan layar.


Sementara itu, metode sekunder dilakukan dengan mengumpulkan informasi mengenai ciri fisik korban. Data tersebut antara lain tanda lahir, bekas operasi, serta barang atau aksesori yang dikenakan korban sebelum kejadian.

Informasi mengenai pakaian terakhir, gelang, jam tangan, maupun properti lain yang melekat pada korban juga menjadi bagian dari data sekunder.

Seluruh informasi yang dihimpun dari keluarga dan pelapor melalui proses ante mortem selanjutnya akan dicocokkan dengan data hasil pemeriksaan terhadap jenazah di pos mortem.

“Ketika korban ditemukan, kita lakukan pemeriksaan di pos mortem, kemudian kita match-kan dengan data ante mortem yang sudah dikumpulkan dari keluarga,” katanya.

(Whisnu M)