Kelompok Pemberontak Houthi yang melawan pasukan Yaman. Foto: Anadolu
Yaman Tolak Gencatan Senjata Baru dengan Houthi, Pilih Perdamaian Permanen
Muhammad Reyhansyah • 13 August 2026 12:13
Sanaa: Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman Rashad al-Alimi menegaskan pemerintah tidak menginginkan gencatan senjata baru dengan kelompok Houthi dan memilih mendorong perdamaian yang permanen dan berkelanjutan.
Dalam pertemuan dengan pimpinan dan perwakilan media resmi serta lokal Yaman, Rabu, 12 Agustus 2026, Al-Alimi mengatakan pengalaman selama satu dekade terakhir menunjukkan gencatan senjata hanya memberi Houthi kesempatan membangun kembali kemampuan militernya sebelum kembali berperang.
"Kami tidak menginginkan gencatan senjata baru yang mengulangi pengalaman sebelumnya," kata Al-Alimi, dikutip dari Anadolu.
Ia menyerukan perdamaian yang didasarkan pada negara yang memiliki kendali penuh atas senjata dan kedaulatan, konstitusi yang berlaku bagi seluruh warga, kesetaraan, serta lembaga negara yang bekerja untuk masyarakat.
Menurut Al-Alimi, pemerintah Yaman kini menilai Houthi sebagai "proyek perang dan kehancuran, bukan proyek perdamaian." Ia juga menuduh kelompok tersebut terkait dengan proyek Iran yang bertujuan memperluas pengaruh hingga menguasai Selat Bab al-Mandeb.
Al-Alimi mengatakan perhatian internasional kini bergeser dari upaya mengakomodasi Houthi menuju perlindungan terhadap rakyat Yaman, kawasan, serta jalur pelayaran internasional.
Ia menegaskan pemerintah Yaman kini memiliki persatuan politik dan militer yang lebih kuat serta dukungan regional dan internasional yang lebih besar untuk menghadapi Houthi.
"Mulai sekarang, tidak akan ada tindakan dari milisi Houthi tanpa respons atau pencegahan secara menyeluruh," ujarnya.
Al-Alimi mengatakan tujuan strategis pemerintah adalah memulihkan institusi negara dan mengakhiri pengambilalihan kekuasaan oleh Houthi.
Yaman mengalami periode relatif tenang sejak 2022 setelah pertempuran antara pemerintah dan Houthi mereda. Namun, bentrokan kembali pecah bulan lalu dan menewaskan serta melukai puluhan orang. Kedua pihak hingga kini belum mencapai kesepakatan politik komprehensif untuk mengakhiri konflik.