Art Fest 2026 jadi wadah generasi muda dan diaspora mempromosikan budaya Indonesia. (Dok. Istimewa)
Art Fest 2026 Jadi Ruang Generasi Muda Gaungkan Budaya Indonesia ke Panggung Dunia
Duta Erlangga • 3 August 2026 11:54
Jakarta: Semangat membawa kebudayaan Indonesia menuju panggung global mengemuka dalam Grand Closing Art Fest 2026 yang digelar di Auditorium Lantai 2 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, Sabtu, 25 Juli 2026. Lebih dari 150 peserta hadir dalam kegiatan tersebut dan sebagian besar berasal dari kalangan generasi muda.
Mengusung tema “Indonesian Culture, Echoing Heritage, Visualizing Soul”, Art Fest 2026 menjadi ruang bagi pelajar, mahasiswa, komunitas, dan diaspora Indonesia untuk merayakan identitas Nusantara melalui seni, kreativitas, dan inovasi. Kegiatan ini sekaligus diarahkan untuk meningkatkan apresiasi terhadap budaya Indonesia dan memperkenalkannya kepada masyarakat internasional melalui diplomasi budaya yang berkelanjutan.
Dukungan untuk Art Fest sebagai Agenda Tahunan
Kegiatan ini turut dihadiri Staf Khusus Wakil Presiden Republik Indonesia, Achmad Aditya, Komisaris Independen PT Waskita Karya Persero, Aqila Rahmani, serta aktivis dan pengamat budaya sekaligus Founder Yayasan Rembaya Sadana, Bagus Septyan Tri Pamungkas.
Hadir pula Wakil Koordinator PPI Dunia, Wildan Ali, Direktur Festival Luar Negeri PPI Dunia, Ridha Bahrul Ulum, serta Founder dan CEO Zeekend, Syahrul Khaidar Kamal.

Staf Khusus Wakil Presiden Republik Indonesia, Achmad Aditya. (Dok. Istimewa)
Dalam sambutannya, Achmad Aditya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Art Fest 2026 yang digagas oleh Direktorat Festival Luar Negeri PPI Dunia. Ia menilai kegiatan luring seperti Art Fest penting untuk mempertemukan generasi muda, komunitas, diaspora, dan berbagai pemangku kepentingan dalam satu ruang kebudayaan.
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Festival Luar Negeri PPI Dunia ini. Semoga acara luring seperti ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun,” ujar Achmad Aditya.
Kehadiran berbagai tokoh dari latar belakang pemerintahan, organisasi kepemudaan, dunia usaha, dan komunitas budaya memperlihatkan pentingnya sinergi dalam menjaga warisan bangsa. Upaya membawa budaya Indonesia ke tingkat global tidak dapat dilakukan oleh satu pihak, tetapi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pelajar, seniman, akademisi, pelaku industri kreatif, dan diaspora.
Lebih dari 150 Peserta Jadi Sinyal Optimisme
Direktur Festival Luar Negeri PPI Dunia, Ridha Bahrul Ulum, menyampaikan bahwa Art Fest 2026 dihadiri lebih dari 150 orang yang mayoritas merupakan generasi muda. Menurutnya, jumlah tersebut menunjukkan bahwa ketertarikan anak muda terhadap seni dan budaya Indonesia masih sangat tinggi.
“Kehadiran lebih dari 150 peserta yang sebagian besar merupakan generasi muda menunjukkan bahwa perhatian mereka terhadap budaya sangat besar. Hal ini membuat kita optimistis bahwa budaya Indonesia akan tetap hidup dan lestari,” kata Ridha.
Antusiasme tersebut menjadi sinyal positif di tengah kekhawatiran mengenai menurunnya minat generasi muda terhadap budaya lokal. Ketika anak muda diberi ruang untuk mengenal, menampilkan, dan mengembangkan budaya melalui pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman, tradisi tidak hanya dapat bertahan, tetapi juga tumbuh menjadi sumber kreativitas baru.
Art Fest sendiri dirancang sebagai wadah promosi dan apresiasi terhadap karya seni pelajar, mahasiswa, dan diaspora Indonesia. Kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan pemahaman terhadap nilai budaya, mendorong pertukaran kreativitas lintas komunitas, serta memperkuat citra Indonesia melalui media digital dan pertunjukan seni.
Ubah Budaya Lokal Jadi Kekuatan Global
Salah satu agenda utama Art Fest 2026 adalah talkshow bertajuk “Echoing Heritage, Ayo Buat Budaya Lokal Kita Jadi Global”. Sesi tersebut menghadirkan Miss World Indonesia 2024 Audrey Bianca Callista dan Miss Hijab 2025 Wynona Salsabila Hafiz.
Diskusi mengangkat peluang budaya lokal untuk mendapatkan tempat di pasar global, tantangan dalam menjangkau audiens internasional, serta cara mengubah anggapan bahwa budaya tradisional merupakan sesuatu yang kuno. Keunikan tradisi, pakaian, tarian, produk lokal, dan filosofi masyarakat Indonesia dinilai memiliki daya tarik besar apabila dikemas secara tepat.
Audrey menekankan bahwa generasi muda perlu mengubah cara pandang terhadap warisan budaya. Menurutnya, tradisi tidak seharusnya hanya diperlakukan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai identitas yang dapat terus dikembangkan.
“Budaya lokal tidak boleh terus dipandang sebagai sesuatu yang kuno. Dengan penyajian yang tepat, budaya Indonesia dapat tampil eksotis, berkelas, dan memiliki tempat di mata dunia,” ujar Audrey.
Pandangan tersebut selaras dengan pedoman materi talkshow yang menempatkan perubahan stigma terhadap budaya lokal sebagai salah satu pembahasan utama. Budaya perlu ditampilkan dengan cara yang autentik tanpa kehilangan nilai dasarnya, tetapi tetap menarik dan relevan bagi masyarakat masa kini.
Media Sosial Jadi Panggung Diplomasi Budaya
Talkshow juga membahas peran diplomasi digital dan diplomasi budaya sebagai kekuatan kreatif generasi Z. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube dinilai dapat menjadi sarana paling cepat untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat dari berbagai negara.
Wynona Salsabila Hafiz menyampaikan bahwa keberhasilan promosi budaya tidak hanya bergantung pada visual yang menarik. Kreator juga perlu menjelaskan sejarah, filosofi, dan nilai yang terkandung di balik sebuah tradisi agar masyarakat internasional dapat memahami maknanya.
“Media sosial merupakan alat diplomasi budaya yang sangat dekat dengan generasi muda. Kita tidak cukup hanya menampilkan budaya, tetapi juga perlu menceritakan sejarah dan filosofinya dengan cara yang menarik,” ujar Wynona.

Art Fest 2026 jadi wadah generasi muda dan diaspora mempromosikan budaya Indonesia. (Dok. Istimewa)
Melalui kemampuan bercerita yang kuat, sebuah tarian, motif kain, pakaian tradisional, makanan, atau kebiasaan masyarakat dapat dipahami secara lebih mendalam. Konten budaya yang dikemas dengan kreatif juga memiliki peluang untuk dikenal secara luas, menjadi viral, dan membuka jalan bagi produk lokal untuk memperoleh pengakuan global.
Wynona juga mengajak mahasiswa dan komunitas untuk memulai pelestarian budaya dari langkah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menggunakan produk lokal, mempelajari kesenian daerah, mendukung seniman tradisional, serta membuat konten edukatif dapat menjadi bentuk kontribusi nyata.
“Gerakan besar dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Ketika generasi muda bangga memakai produk lokal dan membagikan cerita di baliknya, mereka sudah menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia,” katanya.
Upaya tersebut perlu didukung melalui kolaborasi antara seniman tradisional, kreator konten, komunitas, pelaku usaha, dan pembuat kebijakan. Kerja sama lintas sektor diperlukan agar budaya tidak hanya dijaga, tetapi juga dikembangkan menjadi bagian dari kehidupan modern.
Tari dan Paduan Suara Hidupkan Panggung Art Fest
Selain sesi talkshow, Grand Closing Art Fest 2026 turut dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan seni. Panggung acara diisi oleh penampilan Tari Lentik Rolas, Paduan Suara LSPR, serta Paduan Suara MNC University.
Tari Lentik Rolas menampilkan kekayaan gerak dan ekspresi seni tradisional, sementara penampilan paduan suara menghadirkan harmoni yang memperkuat suasana perayaan. Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa pesan pelestarian budaya tidak hanya disampaikan melalui diskusi, tetapi juga diwujudkan melalui pertunjukan yang dapat dinikmati secara langsung.
Kehadiran para penampil sekaligus memperkuat posisi Art Fest sebagai ruang perjumpaan antara seni tradisional dan kreativitas generasi muda. Tarian dan musik menjadi bahasa universal yang mampu mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang dalam semangat yang sama.
Karya Diaspora dari 68 PPI Negara
Acara juga diisi dengan penayangan karya pemenang lomba video tari tradisional dan lomba video diplomasi budaya. Kompetisi tersebut melibatkan para diaspora Indonesia yang tergabung dalam jaringan 68 PPI Negara.
Keterlibatan diaspora membuat Art Fest 2026 tidak hanya menjadi perayaan budaya di dalam negeri, tetapi juga ruang partisipasi bagi masyarakat Indonesia di berbagai penjuru dunia. Melalui karya audiovisual, para peserta menampilkan cara mereka memahami, menjaga, dan memperkenalkan budaya Indonesia dari negara tempat mereka menempuh pendidikan atau menetap.
Video tari tradisional memperlihatkan kekayaan gerak dan identitas daerah, sedangkan video diplomasi budaya menunjukkan bagaimana cerita tentang Indonesia dapat disampaikan kepada audiens internasional secara kreatif. Teknologi pun menjadi sarana untuk menjembatani jarak geografis dan memperluas jangkauan kebudayaan Nusantara.
Penayangan karya para pemenang juga menjadi bentuk apresiasi terhadap kreativitas, bakat, dan inovasi peserta. Dalam susunan kegiatan, penayangan video pemenang dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat dan hadiah kepada para pemenang lomba.
Masa Depan Budaya di Tangan Generasi Muda
Art Fest 2026 menyampaikan pesan bahwa masa depan budaya Indonesia berada di tangan generasi yang mampu menghargai akar tradisi sekaligus berani berinovasi. Antusiasme lebih dari 150 peserta, dukungan berbagai tokoh, penampilan para pelaku seni, dan keterlibatan diaspora dari 68 PPI Negara memperlihatkan bahwa budaya Indonesia terus hidup dan berkembang.
Ketika warisan budaya diceritakan melalui pertunjukan, karya digital, media sosial, dan kolaborasi lintas negara, budaya lokal tidak hanya akan tetap lestari. Budaya Indonesia juga memiliki peluang besar untuk dikenal, diapresiasi, dan bergema di panggung dunia.