Peluncuran buku Mengintip Sepotong Surga di Jakarta, Sabtu, 29 Agustus 2026. Istimewa
Mengintip Sepotong Surga, Catatan Ekspedisi 10 Hari Menuju Puncak Trikora
Whisnu Mardiansyah • 31 August 2026 21:08
Jakarta: Buku Mengintip Sepotong Surga resmi diperkenalkan kepada publik dalam acara peluncuran di Jakarta, Sabtu, 29 Agustus 2026. Peluncuran buku karya Juvensius atau dikenal sebagai 'Foxs Explore' tersebut dirangkai dengan diskusi mengenai ekspedisi, pendakian, dan kelestarian alam Papua.
Buku tersebut memuat catatan perjalanan Juvensius saat mengikuti ekspedisi selama 10 hari menuju Puncak Trikora, Papua, pada 2024. Selain merekam pengalaman selama perjalanan, buku ini dilengkapi foto-foto yang menggambarkan berbagai suasana selama ekspedisi.
Bagi Juvensius, ekspedisi ke Puncak Trikora sekaligus menjadi pengalaman yang kemudian dituangkan dalam karya tulis. Ia menilai perjalanan menuju salah satu puncak tertinggi di Indonesia tersebut membutuhkan persiapan fisik dan mental.
Menariknya, dunia pendakian bukan bagian dari kehidupan Juvensius sejak kecil. Pria kelahiran Pemangkat, Kalimantan Barat, itu justru tumbuh di lingkungan yang jauh dari kawasan pegunungan.
“Bahkan saya baru tahu kalau gunung baru bisa didaki ketika saya sudah ada di Jawa, ketika sedang berwisata ke Gunung Bromo,” ujarnya, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Pengalaman tersebut memunculkan rasa ingin tahu Juvensius untuk mengenal gunung-gunung lainnya. Ia kemudian melakukan pendakian pertama ke Gunung Semeru pada 2018 dan berhasil mencapai puncak.
Sejak saat itu, ketertarikannya terhadap pendakian terus berkembang. Hingga kini, ia telah menjelajahi lebih dari 20 gunung di dalam dan luar negeri.
Enam Bulan Persiapan Menuju Trikora
Ekspedisi Puncak Trikora menjadi perjalanan yang mendorong Juvensius menuangkan pengalaman pendakiannya dalam bentuk buku. Persiapan dilakukan secara serius sebelum keberangkatan.
Ia menjalani latihan fisik selama enam bulan. Persiapan tersebut dilakukan untuk menghadapi perjalanan sekaligus mengurangi beban orang-orang yang membantu ekspedisinya di lapangan.
“Untuk latihan fisik saya sudah siapkan enam bulan sebelum berangkat, karena saya tidak ingin merepotkan orang-orang di sana ketika pendakian,” kata Juvensius.
Dalam Mengintip Sepotong Surga, Juvensius menguraikan perjalanan mulai dari pengalaman menjelajahi Kota Wamena, proses menuju Puncak Trikora, hingga perjalanan turun dari kawasan pegunungan.
Buku tersebut dikemas dengan bahasa populer dan dilengkapi dokumentasi foto ekspedisi. Catatan perjalanan itu juga menjadi gambaran pengalaman Juvensius selama menjelajahi kawasan Puncak Trikora.
Buku Mengintip Sepotong Surga dapat dibeli melalui bio link Instagram @Foxs.explore. Hasil penjualan buku akan didonasikan kepada Sahabat Kasih Pedalaman dan Yayasan Sisi Baik.
Puncak Trikora atau Ettiakup memiliki ketinggian 4.751 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kawasan tersebut berada di Papua Pegunungan dan termasuk zona inti Taman Nasional Lorentz.
Taman Nasional Lorentz tercatat sebagai Situs Warisan Alam Dunia UNESCO sekaligus Warisan Alam ASEAN. Kawasan ini membentang dari wilayah pegunungan hingga kawasan perairan Laut Arafura.
Sejarah penamaan Puncak Trikora juga menjadi bagian dari perjalanan panjang kawasan tersebut. Pada 1909, penjelajah sekaligus ilmuwan Dr HA Lorentz memimpin ekspedisi di Papua. Gunung tersebut kemudian dikenal dengan nama Puncak Wilhelmina atau Wilhelmina Top, yang diambil dari nama Ratu Belanda kala itu.
Pada 1963, Pemerintah Indonesia mengganti nama tersebut menjadi Puncak Trikora. Nama Trikora merupakan akronim dari Tri Komando Rakyat, sebuah operasi militer yang diluncurkan Presiden Soekarno pada 19 Desember 1961.

Dalam diskusi peluncuran buku, Manajer Program Kehutanan Yayasan Kehati Christian Natalie menyoroti kekayaan kawasan pegunungan Papua. Menurut dia, kawasan tersebut memiliki keanekaragaman hayati yang berperan dalam menjaga keberlangsungan ekosistem. Ia menggambarkan hutan Papua memiliki beragam sumber daya yang dapat menunjang kebutuhan manusia.
Christian menilai kerusakan hutan dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati perlu mendapat perhatian. Ia juga mengapresiasi berbagai pihak yang terus melakukan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.
Menurut dia, buku Mengintip Sepotong Surga tidak hanya merekam perjalanan ekspedisi, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
“Buku ini bukan sekedar catatan perjalanan, ini aksi nyata memberi edukasi untuk.aksi-aksi keberlanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Ruslan Budiarto menyoroti kekayaan alam yang terdapat di kawasan pegunungan Papua. Menurut dia, wilayah tersebut menyimpan berbagai kekayaan khas, mulai dari bentang alam, flora dan fauna, hingga kearifan lokal.
“Jangan lupa gletser di daerah tropis,” katanya. “Jadi benar itu judulnya mengintip sepotong surga.”
Ruslan telah mengikuti berbagai ekspedisi di pegunungan Papua, baik bersama tim maupun secara solo. Ia menilai pengelolaan kawasan secara tepat dapat membuka peluang ekonomi tanpa harus merusak lingkungan.
“Tak perlu menyedot emas dari perut buminya,” katanya.
Moderator Harun Mahbub Billah mengapresiasi keputusan membukukan laporan ekspedisi tersebut. Menurut dia, catatan perjalanan semacam itu dapat menjadi referensi sekaligus media kampanye untuk meningkatkan perhatian terhadap kelestarian alam Papua.
Ia mengingatkan posisi hutan Papua sebagai salah satu kawasan penting dalam menjaga kekayaan alam Indonesia.
“Konon katanya hutan Jawa dan Sumatera adalah hutan kemarin, hutan Kalimantan adalah hutan hari ini, dan hutan Papua adalah hutan esok hari,” katanya. “Jangan sampai benteng terakhir ini rusak karena keserakahan manusia.”