Hunian sementara mandiri yang dibangun oleh warga di kawasan Desa Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan. (ANTARA/Chairul Rohman)
Warga Tapanuli Selatan Bangun Huntara Mandiri dari Sisa Kayu Gelondongan
Silvana Febiari • 18 March 2026 01:01
Tapanuli Selatan: Warga di kawasan Desa Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan, memanfaatkan sisa-sisa kayu gelondongan pasca-banjir bandang beberapa waktu lalu. Kayu-kayu tersebut dijadikan Hunian tetap sementara hunian sementara mandiri (huntara).
“Kita bangun huntara ini memanfaatkan kayu gelondongan sisa-sisa banjir waktu lalu. Karena memang ini kan bisa dimanfaatkan juga kan sebagai fondasi rumah ini,” kata Warga Desa Garoga, Indra Batubara, dikutip dari Antara, Selasa, 17 Maret 2026.
Memanfaatkan kayu-kayu yang terbawa air ini, merupakan bentuk inisiatifnya dalam mengurangi sampah kayu yang masih banyak berserakan hingga kini.
Hunian sementara mandiri ini memiliki luas 35 meter persegi, nantinya huntara ini bakal selesai sebelum Hari Raya Idulfitri 1447. Bangunan dengan memanfaatkan kayu sisa ini memiliki satu ruang tamu, satu ruang kamar tidur.
Menurut dia, halaman depan nantinya bakal dimanfaatkan oleh pemiliknya untuk dijadikan warung kopi. Hal ini dilakukan untuk menyambung perekonomian keluarganya pasca-banjir bandang.
“Kami mulai bangun ini kemarin di tanggal 10 Maret dan selesai direncanakan sebelum Lebaran. Nantinya di depan ini, juga bakal dimanfaatkan untuk membuka warung kopi,” ujar dia.
Untuk membangun satu huntara ini, dirinya membutuhkan sekitar 14 kayu gelondongan yang dipotong-potong menjadi beberapa bagian sesuai dengan kebutuhan dalam membangun rumah itu sendiri.
Sebelumnya, Indra telah mendapatkan huntara yang sudah disediakan oleh pemerintah di lokasi yang tidak jauh dari desanya. Namun, dia memilih untuk membangun huntara versinya sendiri.

Sisa-sia kayu gelondongan akibat banjir bandang beberapa waktu yang lalu di kawasan Desa Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. (ANTARA/Chairul Rohman)
Sementara itu, masyarakat yang menghuni huntara Tapanuli Selatan, mengaku nyaman menetap di lokasi itu. Bahkan, Derma Siregar yang menghuni huntara itu memanfaatkannya untuk berjualan.
“Kalau untuk tinggal sih, kami merasa nyaman ya. karena kan fasilitas udah ada semua ya, kamar mandi dan ruang terbukanya juga sudah ada,” kata Derma Siregar.
Dalam hunian ini, dia membuka warung kecil yang menjajakan voucher pulsa, makan ringan dan juga minuman seperti kopi dan teh. Peluang ini dimanfaatkan untuk menyambung hidup di tengah kondisi finansial yang terbatas.
Tidak jauh dari kediaman Derma, terdapat juga yang menjajakan jualan sayur-mayur yakni Lina Hutabarat. Lina baru menetap huntara ini baru satu minggu dan berjualan sayur mayur baru pada hari ini.
“Kami juga baru tinggal di sini dan kami jualan sayur-mayur ini juga baru hari ini. Jadi, belum banyak yang tahu kalau kami ini jualan sayur-mayur,” kata dia.
Dia mengucapkan rasa syukur kepada pemerintah terkait hunian yang ditempatinya ini. Dia merasa bersyukur memiliki tempat untuk berteduh sementara sembari memperbaiki rumah mereka sebelumnya.
Sebanyak 245 keluarga kini telah menghuni huntara di Desa Napa, Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan.