Siaga Hujan Ekstrem Dampak Siklon Tropis Nokaen Hari Ini

CItra satelit cuaca siklon tropis Nokaen. (Tangakpan layar BMKG)

Siaga Hujan Ekstrem Dampak Siklon Tropis Nokaen Hari Ini

Lukman Diah Sari • 19 January 2026 06:00

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan perkembangan dinamika atmosfer pada Senin, 19 Januari 2026. Prakirawan BMKG Sally menyebut keberadaan Siklon Tropis Nokaen serta dua bibit siklon lain berpotensi memengaruhi cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama di kawasan selatan dan timur.

Siklon Tropis Nokaen diprediksi berada di Samudera Pasifik timur Filipina, utara Sulawesi Utara, dalam 24 jam ke depan. Dalam 48–72 jam mendatang, intensitasnya diperkirakan tetap bertahan pada kategori 1 dengan kecepatan angin maksimum mencapai 40 knot dan tekanan minimum 996 hektopaskal.

"Arah pergerakan siklon cenderung menuju utara hingga timur laut, menjauhi wilayah Indonesia," ujar Sally, Senin, 19 Januari 2026.

Citra satelit cuaca siklon tropis Nokaen. (Tangakpan layar BMKG)

Meski menjauh, Nokaen memicu peningkatan kecepatan angin hingga 25 knot di Laut Filipina, Filipina bagian utara, dan Pasifik timur Filipina. Kondisi ini juga membentuk daerah pertemuan angin (konfluensi) serta perlambatan angin (konvergensi) di sekitar pusat siklon yang dapat meningkatkan pembentukan awan hujan.

Selain itu, BMKG memantau Bibit Siklon Tropis 96S di Samudera Hindia selatan Jawa Timur dengan kecepatan angin maksimum 15 knot. Dalam dua hingga tiga hari ke depan, bibit siklon ini diprediksi melemah dengan peluang rendah berkembang menjadi siklon tropis.

"Pergerakannya relatif lambat ke arah barat dan turut memicu konfluensi serta konvergensi di sekitarnya," jelas dia. .

Bibit Siklon Tropis 97S juga terpantau di perairan utara Australia bagian utara dengan kecepatan angin lebih dari 20 knot. Pergerakannya cenderung stasioner kemudian mengarah ke barat hingga barat laut. Potensi menjadi siklon tropis dalam 72 jam ke depan masih tergolong rendah, namun dampaknya meningkatkan kecepatan angin di pesisir utara Australia, Samudera Hindia selatan NTT, dan Laut Timor.

Di sisi lain, sirkulasi siklonik terdeteksi di Samudera Hindia barat daya Bengkulu yang membentuk daerah konvergensi dari wilayah tersebut hingga selatan Lampung. Kombinasi berbagai gangguan atmosfer ini dinilai mampu meningkatkan pertumbuhan awan hujan di banyak wilayah Indonesia.

“Perlu ditingkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi hujan sangat lebat hingga ekstrem di Nusa Tenggara Timur, serta hujan lebat hingga sangat lebat di Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan,” ujar Sally.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)