Kembali Berkonflik, Kenapa Selat Hormuz Begitu Penting untuk Iran?

Aktivitas kapal di Selat Hormuz. (Anadolu Agency)

Kembali Berkonflik, Kenapa Selat Hormuz Begitu Penting untuk Iran?

Riza Aslam Khaeron • 15 July 2026 22:31

Jakarta: Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Amerika Serikat (AS) dan Iran pada bulan Juni lalu tampaknya tidak menyurutkan konflik. Minggu lalu, saat prosesi pemakaman Ali Khamenei masih berlangsung, Iran menyerang kapal kontainer yang melewati Selat Hormuz, memicu AS untuk melancarkan serangan balasan ke Iran.
 
Peristiwa ini, ditambah dengan aksi saling serang bandara antara Arab Saudi dan Yaman serta kembalinya kontra-blokade AS di Selat Hormuz, menunjukkan bahwa MoU antara kedua negara tersebut telah mati, setidaknya menurut pandangan beberapa analis.

"Secara hukum, sebenarnya tidak pernah ada kesepakatan pemikiran. Terdapat perbedaan interpretasi pada sebagian besar ketentuan dalam perjanjian tersebut, dan secara praktis, kesepakatan itu pada dasarnya sudah mati," ujar Mick Mulroy, mantan Deputi Asisten Sekretaris Pertahanan AS untuk Timur Tengah, kepada ABC News.

Setelah semua upaya diplomatik sebelumnya, Iran tetap bersikukuh bahwa mereka memiliki hak atas Selat Hormuz.

Mereka tidak hanya terus mengeklaim bahwa perairan mereka adalah satu-satunya rute yang layak, tetapi menurut berbagai laporan, Iran juga mulai memungut tarif tol hingga dua juta dolar AS per kapal untuk jaminan pelayaran yang aman melalui Hormuz. Langkah ini dikecam keras oleh para pakar maritim sebagai tindakan ilegal yang tidak dapat ditegakkan.

Namun, mengapa Selat Hormuz begitu penting bagi Iran?
 

Apa Itu Selat Hormuz?


Foto satelit selat hormuz. (Dok. NASA)

Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang menjadi pintu keluar masuk utama dari Teluk Persia menuju Teluk Oman dan perairan internasional. Di titik tersempitnya, lebar selat ini hanya sekitar 33 kilometer, memisahkan wilayah Iran di bagian utara dan Oman di bagian selatan.

Secara geografis dan ekonomi, Selat Hormuz merupakan salah satu rute energi paling vital di planet ini.

Melansir data dari Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), volume minyak yang sangat besar mengalir melalui selat ini. Pada tahun 2024, aliran minyak yang melintasi Hormuz rata-rata mencapai 20 juta barel per hari atau setara dengan sekitar 20 persen dari total konsumsi minyak bumi global.

Kapal-kapal tanker yang melintas di jalur ini mengangkut minyak dan gas dari negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Iran sendiri. Diestimasi bahwa 84 persen minyak mentah dan kondensat, serta 83 persen gas alam cair (LNG) yang bergerak melalui Selat Hormuz, ditujukan ke pasar Asia pada tahun 2024.

Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan merupakan destinasi utama bagi minyak mentah yang melintasi Selat Hormuz ke Asia, dengan total gabungan mencapai 69 persen dari seluruh aliran minyak mentah dan kondensat Hormuz pada tahun 2024.

Meskipun Iran dan Oman memiliki hak atas wilayah perairan di kawasan ini, Selat Hormuz secara internasional dianggap sebagai jalur pelayaran bebas yang dapat dilalui kapal-kapal dari berbagai negara sesuai dengan hukum laut internasional.

Namun, gangguan sekecil apa pun terhadap lalu lintas di selat ini dapat berdampak destruktif bagi perdagangan minyak dunia dan memicu lonjakan harga energi global secara ekstrem. Hal ini sempat kita saksikan ketika perang masih bergejolak sebelum gencatan senjata pada bulan April lalu, di mana harga minyak global melonjak hingga menyentuh 100 dolar AS per barel.
 

Selat Hormuz Sebagai Daya Tawar Iran

Iran tidak mampu menandingi militer AS-Israel dalam konflik konvensional, namun mereka dapat menggunakan taktik perang asimetris (asymmetric warfare) sebagai alat penekan (leverage) terhadap AS.

Meskipun Iran secara hukum tidak memiliki selat tersebut sepenuhnya, mereka mengendalikan pantai utara, beberapa pulau strategis, serta garis pantai yang memungkinkan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) untuk memantau dan mengancam kapal-kapal yang melintas.

Iran kemudian mengandalkan kapal cepat taktis, rudal pesisir, ranjau laut, dan drone untuk menyerang kapal-kapal tanker.

Langkah ini berhasil mengacaukan pasokan energi dunia tanpa perlu terlibat dalam pertempuran skala penuh, mencegah kapal apa pun melintas tanpa izin mereka, serta memicu krisis energi global, yang bahkan bisa memaksa AS untuk meninggalkan ambisi mereka untuk merubah rezim.
 

Selat Hormuz Sebagai Sumber Penghasilan Iran

Tidak hanya berfungsi sebagai alat penangkal (deterrent), mengendalikan Hormuz juga bisa menjadi menjadi sumber pendapatan yang sangat besar bagi Iran.

Mengutip Wall Street Journal, dengan memonetisasi selat tersebut, para pejabat Iran meyakini mereka dapat menghasilkan pendapatan hingga 40 miliar dolar AS per tahun, angka yang hampir setara dengan pendapatan ekspor minyak tahunan negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Alasan inilah yang membuat Iran bergerak cepat untuk melembagakan kontrol tersebut, termasuk bekerja sama dengan Oman dalam menyusun tata kelola masa depan selat tersebut.
 

Tidak ada Niat untuk Mengembalikan Status Quo

Selat Hormuz bisa dibilang merupakan posisi tawar terbesar Iran terhadap AS saat ini, dan mereka tampaknya sama sekali tidak berniat mengembalikan status quo sebelum perang, yaitu ketika selat tersebut berfungsi sebagai jalur perairan internasional yang bebas dan terbuka.

Mengutip Council of Foreign Relations (CFR), MoU bulan April menyatakan bahwa Iran hanya akan mengizinkan kapal melintas "tanpa biaya selama 60 hari saja" dan akan bekerja sama dengan Oman untuk "menentukan administrasi masa depan serta layanan maritim di Selat Hormuz."

Teheran memanfaatkan klausul ini untuk mengeklaim peran berkelanjutan dalam mengatur lalu lintas yang melewati selat tersebut.
 
Baca Juga:
Iran Klaim Tujuh Tentaranya Tewas dalam Serangan Rudal AS di Bampur
 

Daya Tawar Iran Bukan Tanpa Batas

Namun, daya tawar Teheran di Selat Hormuz bukanlah tanpa batas. AS sebelumnya merespons dengan menerapkan blokade lautnya sendiri di Hormuz pada bulan April untuk mencegah kapal-kapal Iran mengekspor minyak, sehingga memutus sumber pendapatan vital mereka. Langkah ini dinilai banyak pihak jauh lebih efektif daripada serangan militer langsung.

Mengutip DW, menurut lembaga pemikir Foundation for Defense of Democracies yang berbasis di Washington, Iran telah menderita kerusakan ekonomi senilai 144 miliar dolar AS akibat perang, ditambah hilangnya potensi penjualan minyak senilai miliaran dolar selama masa blokade berlangsung.

Mata uang negara tersebut, rial, juga telah jatuh ke rekor terendah di kisaran 1,7 juta per dolar AS, dan tingkat inflasi melonjak hingga melampaui 88%.

AS sendiri telah mengaktifkan kembali kontra-blokade tersebut pada awal pekan ini. Awalnya AS mengeklaim akan mengenakan tarif sebesar 20% pada semua kargo, namun rencana tersebut dibatalkan setelah mendapat banyak protes.

Baru-baru ini, Presiden AS kembali mengancam Iran untuk kesekian kalinya dan menuntut mereka segera membuat kesepakatan baru sembari mengancam akan menyerang infrastruktur vital mereka.

"Sebaiknya kalian segera membuat kesepakatan. Kalian tidak akan menyisakan siapa pun lagi. Kami memang sangat berhati-hati dengan populasi sipil, tetapi sebaiknya kalian segera membuat kesepakatan, atau kalian tidak akan memiliki apa pun lagi yang tersisa," ujar Trump, seperti dikutip dari Times of Israel.

(Riza Aslam Khaeron)