Tokoh legendaris pelindung orangutan Profesor Dr. Birute Mary Galdikas saat berbincang dengan Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni. Foto: Dok. Kementerian Kehutanan.
Kemenhut Sampaikan Duka Atas Kepergian Tokoh Konservasi Birute Galdikas
Fachri Audhia Hafiez • 25 March 2026 19:24
Jakarta: Dunia konservasi internasional berduka atas berpulangnya Profesor Dr. Birute Mary Galdikas, tokoh legendaris pelindung orangutan, di Los Angeles, Amerika Serikat (AS). Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyampaikan rasa kehilangan mendalam atas kepergian sosok yang telah mendedikasikan puluhan tahun hidupnya di pedalaman hutan Kalimantan Tengah.
“Selamat jalan Ibu Prof. Dr. Birute Mary Galdikas! Indonesia kehilangan salah seorang putri terbaik yang bekerja keras dalam senyap selama puluhan tahun di pedalaman hutan Kalimantan Tengah untuk konservasi habitat orangutan,” ujar Raja Juli melalui unggahannya di Instagram pada Rabu, 25 Maret 2026.
Raja Juli mengungkapkan bahwa kabar duka tersebut ia terima langsung dari putra Birute, Fred, hampir tengah malam waktu Jakarta. Fred mengabarkan bahwa ibunya mengidap kanker paru yang membuatnya tidak bisa melakukan perjalanan jauh ke Indonesia dalam beberapa bulan terakhir, meski rasa rindu terhadap hutan Kalimantan sangat besar.
Dia juga menyinggung adanya wasiat khusus dari almarhumah mengenai tempat peristirahatan terakhirnya. Birute berkeinginan untuk dimakamkan di tanah Dayak, Kalimantan Tengah, berdekatan dengan pusara suaminya yang telah lebih dulu berpulang.
"Fred menyampaikan wasiat Bu Birute bahwa bila beliau meninggal nanti, beliau ingin dimakamkan di tanah Dayak, di Kalteng, berdekatan dengan pusara suaminya. Fred membenarkan dan akan mengurus administrasi penerbangan jenazah dari LA ke Jakarta di KJRI LA," lanjut Raja Juli.

Tokoh legendaris pelindung orangutan Profesor Dr. Birute Mary Galdikas saat berbincang dengan Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni. Foto: Dok. Kementerian Kehutanan.
Dalam kenangannya, Raja Juli menyebut Birute sebagai sosok tangguh yang berkomitmen tinggi. Ia mengenang momen emosional saat pertama kali menjabat sebagai Menhut dan kembali membuka ruang diskusi bagi para aktivis konservasi yang sempat tertutup selama delapan tahun. Saat itu, Birute menangis terharu karena merasa kerja kerasnya kembali mendapatkan perhatian dari pemerintah.
“Bila hari ini Anda melihat Taman Nasional Tanjung Puting yang indah terjaga, tanpa terlihat Anda akan temukan jejak kaki dan tangan seorang perempuan berhati keras dan berkomitmen tinggi. Terima kasih atas jasa dan kerja kerasmu selama ini. Requiescat in pace!” ujar Raja Juli.
Pemerintah melalui KBRI di Washington DC dan KJRI Los Angeles kini tengah berkoordinasi untuk memfasilitasi pemulangan jenazah Birute ke Indonesia sesuai dengan permintaan terakhirnya.