Tari Turonggo Yakso Trenggalek Bakal Tampil di Yeosu World Island Fair 2026 Korea Selatan

Keikutsertaan Trenggalek dalam Yeosu World Island Fair 2026 di Korea Selatan.

Tari Turonggo Yakso Trenggalek Bakal Tampil di Yeosu World Island Fair 2026 Korea Selatan

Whisnu Mardiansyah • 6 September 2026 18:30

Seoul: Seni dan budaya menjadi salah satu pintu bagi Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, untuk memperkenalkan potensi daerah ke panggung internasional. Momentum itu hadir melalui keikutsertaan Trenggalek dalam Yeosu World Island Fair 2026 di Korea Selatan.

Ajang internasional yang berlangsung pada 5 September hingga 4 November 2026 tersebut mengangkat tema “Island, Connecting the Ocean and the Future”. Kegiatan ini melibatkan sekitar 30 negara dan tiga organisasi internasional, dengan target hingga tiga juta pengunjung.

Kehadiran Indonesia dalam forum internasional seperti Yeosu World Island Fair 2026 perlu ditempatkan dalam perspektif pembangunan daerah dan hubungan global. Pertukaran budaya tidak berhenti pada pengenalan kesenian. Interaksi tersebut dapat menjadi pintu untuk memperkenalkan potensi daerah sekaligus membuka peluang kerja sama dengan pihak dari berbagai negara.

“Kalau hari ini mereka mengenal Turonggo Yakso, maka kita ingin mereka mengenal lebih potensi Trenggalek. Selain berharap mereka datang sebagai wisatawan, mereka akan datang sebagai mitra bisnis, sebagai kolaborator. Di mana sumber daya pariwisata kepulauan di Indonesia memiliki potensi luar biasa besar. Namun, kita masih memerlukan dukungan dan sentuhan infrastruktur teknologi yang advance untuk menjadikan daya tarik pariwisata kita tidak hanya murni indah, namun membangun pengalaman berwisata dengan bantuan teknologi. Itulah diplomasi kebudayaan yang menghasilkan nilai nyata,” kata tokoh pemberdayaan perempuan, Novita Hardini, Minggu, 6 September 2026.
 

Novita menyoroti kebutuhan pembangunan infrastruktur sebagai salah satu unsur penting dalam pengembangan kebudayaan dan pariwisata daerah. Menurut dia, pembahasan mengenai kebudayaan kerap lebih banyak berfokus pada karya dan kegiatan seni. Sementara itu, infrastruktur fisik yang menopang aktivitas masyarakat di daerah, terutama kawasan kepulauan, juga membutuhkan perhatian.

Konektivitas jalan, jaringan listrik, ketersediaan air, hingga akses digital dinilai memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas masyarakat sekaligus aktivitas ekonomi berbasis kebudayaan dan pariwisata.

“Saya mendorong bahwa budaya bukan hanya di nikmati sesaat, namun harus menjadi kekuatan ekonomi. Maka infrastrukturnya juga harus menjadi prioritas pembangunan,” jelas Novita Hardini.

Infrastruktur pendukung yang dimaksud mencakup berbagai kebutuhan dalam ekosistem kebudayaan dan pariwisata. Di antaranya pusat kebudayaan, ruang kreatif, sentra kerajinan, kawasan kuliner, galeri produk lokal, studio kreatif, ruang pertunjukan, serta pusat pelatihan.

Digitalisasi produk budaya dan konektivitas antardestinasi wisata juga menjadi bagian dari kebutuhan tersebut. Pengembangan infrastruktur, menurut Novita, juga perlu berjalan beriringan dengan upaya membuka kerja sama dengan jejaring internasional yang memiliki visi dan misi serupa.

Aspek perlindungan kawasan kepulauan dari berbagai potensi bencana turut menjadi perhatian. Karena itu, pengembangan kebudayaan dan pariwisata dinilai perlu mempertimbangkan pemanfaatan teknologi sekaligus isu perubahan iklim agar potensi ekonomi daerah dapat terus berkembang untuk generasi berikutnya.

Pengembangan destinasi wisata juga tidak terlepas dari kesiapan ekosistem digital. Kemudahan memperoleh informasi menjadi salah satu kebutuhan wisatawan ketika mengunjungi sebuah daerah.

Novita menilai informasi mengenai destinasi, kuliner, hingga ruang kreatif perlu terhubung melalui sistem yang mudah diakses. Pendekatan tersebut dapat membantu wisatawan menemukan berbagai potensi daerah melalui satu pintu.

“Jangan sampai wisatawannya datang, tetapi ekosistem pendukung tidak siap. Seperti satu data informasi, menggunakan teknologi yang memudahkan wisatawan, seperti informasi kuliner, spot destinasi wisata, spot kreatif daerah yang bisa di akses satu pintu. Di Korea Selatan, kita Mengenal NAVER Map. Indonesia masih jauh dikatakan layak menjadi destinasi dunia jika tidak mengupgrade ekosistem pariwisatanya berbasis digital,” ungkapnya.

Menurut dia, penguatan infrastruktur digital menjadi bagian dari upaya meningkatkan pengalaman wisatawan sekaligus memperkenalkan potensi daerah secara lebih luas. Pendekatan tersebut juga membuka peluang bagi produk budaya lokal untuk menjangkau pasar yang lebih besar.


Trenggalek dan Modal Budaya

Bagi Kabupaten Trenggalek, keterlibatan dalam Yeosu World Island Fair 2026 menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan daerah melalui jalur kebudayaan. Trenggalek memiliki beragam modal lokal, mulai dari budaya, sumber daya alam, kreativitas masyarakat, kuliner, kerajinan, hingga komunitas seni.

Potensi tersebut dapat menjadi bagian dari pengembangan ekonomi daerah ketika didukung ekosistem yang memadai. Keikutsertaan Trenggalek dalam ajang internasional ini juga tidak hanya membawa nama daerah melalui kesenian. Sebanyak 15 penari terpilih diberangkatkan Novita Hardini untuk tampil dalam rangkaian kegiatan Yeosu World Island Fair 2026.

Kehadiran para penari tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kesenian Trenggalek kepada masyarakat internasional. Bagi Novita, perjalanan menuju Yeosu tidak berhenti pada perpindahan sebuah kesenian dari wilayah selatan Jawa Timur menuju Korea Selatan. Ada rangkaian tujuan yang ingin dibangun melalui kehadiran tersebut, mulai dari pengenalan identitas budaya hingga peluang kerja sama dan pengembangan ekonomi daerah.

“Karena budaya yang hidup bukan hanya budaya yang dilestarikan tetapi budaya yang mampu menghidupi generasi yang mewarisinya,” tutupnya.

Keikutsertaan Trenggalek di Yeosu World Island Fair 2026 diharapkan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Mataraman dan Jawa Timur sekaligus memperkenalkan potensi daerah melalui jalur kebudayaan di forum internasional.


Strata of Illusion karya seniman Park Jong In 2026 di Pameran Frieze Seoul 2026. Dok MCST

(Whisnu M)