Demonstrasi Massal di Prancis Berujung Bentrokan dan Penangkapan

Bentrokan warnai protes terbaru yang terjadi di Prancis. Foto: Anadolu

Demonstrasi Massal di Prancis Berujung Bentrokan dan Penangkapan

Muhammad Reyhansyah • 25 October 2026 10:02

Paris: Demonstrasi massal di berbagai kota Prancis berujung bentrokan dengan polisi, penjarahan, dan perusakan. 

Mengutip TRT World, Minggu, 25 Oktober 2026, Kementerian Dalam Negeri Prancis memperkirakan sekitar 410.000 orang mengikuti aksi nasional, sementara serikat pekerja CGT menyebut jumlah peserta mencapai 800.000 orang.

Di Nantes, Prefektur Loire-Atlantique melaporkan sejumlah toko dijarah dan enam orang ditangkap.

Sementara itu, di Grenoble, Prefektur Isère mengatakan sekitar 400 orang bertopeng dengan pakaian serba hitam yang identik dengan kelompok black bloc melakukan perusakan dan menyerang polisi menggunakan mortir serta berbagai proyektil. Aparat berupaya menangkap mereka yang terlibat dan memulihkan ketertiban.

Menurut prefektur, demonstrasi di Grenoble diorganisasi oleh CGT dan gerakan Rompi Kuning (Yellow Vest).

Di Bordeaux, Prefektur Gironde melaporkan kelompok yang disebut sebagai “kelompok bermusuhan” menyerang aparat keamanan dengan melemparkan proyektil dan mendirikan barikade di Place de la Bourse. Otoritas meminta warga menghindari kawasan tersebut.

Bentrokan dan Penangkapan di Sejumlah Kota

Di Lille, ketegangan meningkat setelah proyektil dilemparkan ke arah polisi antihuru-hara. Aparat menggunakan meriam air untuk membubarkan demonstran.

Prefektur Nord memperkirakan 15.000 orang mengikuti demonstrasi di Lille dan meminta peserta meninggalkan lokasi secara damai. Hingga pukul 13.00 GMT, otoritas melaporkan 30 penangkapan di Departemen Nord, termasuk 25 orang di Lille.

Polisi juga menyita sejumlah senjata, termasuk pisau berburu, pisau kupu-kupu, dan senjata airsoft. Di Nice, Prefektur Alpes-Maritimes melaporkan 40 orang telah ditangkap hingga pukul 14.30 GMT.

Sementara itu, di Marseille, ketegangan meningkat dalam konfrontasi antara polisi dan demonstran. Aparat menggunakan gas air mata, sedangkan petugas pemadam kebakaran memadamkan kebakaran di dekat jalur demonstrasi, menurut media lokal.

Polisi juga menggunakan gas air mata ketika demonstrasi bergerak menuju Place de la République di Rennes.

Di Chambéry, bentrokan pecah antara polisi dan kelompok yang disebut prefektur Savoie sebagai kelompok yang melakukan kekerasan. Para demonstran juga memblokir jalan lingkar kota.

Paris dan Lyon Perketat Pengamanan

Di Paris, kepolisian memperkirakan 110.000 orang mengikuti demonstrasi, sama dengan jumlah yang dilaporkan pada pekan sebelumnya.

Polisi kemudian menggunakan meriam air terhadap demonstran. Sejumlah orang juga merusak jendela sebuah dealer mobil di Cours de Vincennes.

Otoritas melaporkan telah melakukan lebih dari 3.000 pemeriksaan di Paris dan menangkap 65 orang. Angka partisipasi versi serikat pekerja untuk demonstrasi di Paris dan Lille belum tersedia.

Di Lyon, prefektur memperkirakan 10.000 orang mengikuti aksi. Sebanyak 29 orang ditangkap hingga pukul 16.00 GMT, termasuk orang-orang yang dicurigai memiliki senjata dan narkoba serta mengikuti perkumpulan yang melanggar hukum, menurut surat kabar lokal Le Progrès.

Prefektur menyatakan tidak ada demonstrasi yang mendapat izin di Lyon.

Sementara itu, di Orléans, tempat partai National Rally (RN) menggelar kongres, wali kota mengumumkan 12 penangkapan setelah demonstrasi hari itu. Pemerintah kota secara terpisah melaporkan tiga penangkapan terkait aksi menentang RN dan 10 penangkapan di luar wilayah perkotaan.

Otoritas memperpanjang jam malam bagi anak di bawah umur tanpa pendamping di sejumlah wilayah Lille, Denain, Douai, dan Wattignies hingga Senin pagi. Pembatasan juga diperluas ke sebagian wilayah Marly dan Valenciennes.

Berdasarkan keputusan prefektur yang diterbitkan pada Jumat, aturan berlaku mulai pukul 18.00 hingga 04.00 GMT, dari Jumat malam hingga Senin pagi.

(Fajar Nugraha)