Menlu Tata Tegaskan Kepentingan Nasional Jadi Kompas Diplomasi Indonesia

Menlu Tata dalam pernyataan pers seusai serah terima jabatan di Kemlu RI, Jakarta, Senin, 12 Oktober 2026. (Metrotvnews.com)

Menlu Tata Tegaskan Kepentingan Nasional Jadi Kompas Diplomasi Indonesia

Muhammad Reyhansyah • 12 October 2026 18:40

Jakarta: Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir menegaskan prinsip politik luar negeri bebas aktif dan kepentingan nasional akan tetap menjadi landasan diplomasi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.

Penegasan tersebut disampaikan Arrmanatha, yang akrab disapa Tata, dalam pernyataan pers seusai serah terima jabatan (sertijab) Menlu dari Sugiono kepada dirinya di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin, 12 Oktober 2026. 

Menlu Tata mengatakan arah politik luar negeri Indonesia tidak bergantung pada preferensi pribadi seorang menteri, melainkan berpedoman pada konstitusi. 

Ia menekankan diplomasi harus memberikan manfaat bagi rakyat sekaligus menjalankan amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

“Kompas kita bukan selera pribadi seorang menteri, melainkan konstitusi. Undang-Undang Dasar 1945 sudah memberi arah yang sangat jelas,” kata Menlu Tata.

Menurutnya, empat tujuan dalam Pembukaan UUD 1945, yakni melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, tetap menjadi pedoman diplomasi Indonesia.

Dunia yang Semakin Tak Pasti

Ia menilai konsistensi prinsip tersebut semakin penting di tengah ketidakpastian global. Indonesia, kata dia, perlu menjadi mitra yang dapat dipercaya ketika situasi internasional terus berubah.

“Di dunia yang semakin tidak pasti, Indonesia harus menjadi kepastian. Konsisten itu bukan takut, konsisten itu berarti bisa dipegang kata-katanya,” ujarnya.

Menlu Tata menegaskan Indonesia tidak terikat pada aliansi maupun blok tertentu. Indonesia akan tetap menjalin hubungan baik dengan berbagai negara, tetapi tidak mengesampingkan prinsip dan kepentingan nasional.

“Kita tidak memilih blok, kita memilih prinsip. Kita negara cinta damai, ingin berteman dengan semua negara,” kata Menlu Tata.

Ia juga mengutip pesan Presiden Prabowo Subianto bahwa sejuta kawan terlalu sedikit, sedangkan satu musuh terlalu banyak. Namun, ia mengingatkan sikap terbuka terhadap semua negara tidak berarti Indonesia akan bersikap pasif ketika kepentingan nasional terganggu.

“Ini jangan disalahartikan bahwa kita tidak akan tegas jika kepentingan NKRI diganggu. Kita akan selalu tegas untuk kepentingan NKRI,” tegasnya.

Indonesia Lanjutkan Peran Pembawa Perdamaian

Lebih lanjut, Tata mengatakan Indonesia akan terus berupaya menjadi bagian dari solusi di tengah perbedaan dan ketegangan internasional. 

Menurutnya, prinsip bebas aktif memungkinkan Indonesia terlibat dalam upaya penyelesaian masalah tanpa harus mengikuti kepentingan blok tertentu.

“Bebas tapi tidak diam, aktif tapi tidak ikut-ikutan. Dengan cara itulah Indonesia membangun reputasi sebagai bridge builder dan peacemaker. Dan peran itu akan terus kita jalankan,” ujarnya.

Dalam pernyataan yang sama, Menlu Tata turut menyinggung pergantian kepemimpinan di Kementerian Luar Negeri. Ia menyampaikan terima kasih kepada Sugiono dan mengakui dua tahun terakhir bukan periode yang mudah di tengah dinamika geopolitik yang semakin rumit.

Meski demikian, Menlu Tata menegaskan prinsip dasar politik luar negeri Indonesia akan tetap dipertahankan dan diperkuat. “Ini bukan halaman baru, ini adalah bab berikutnya di buku yang sama,” pungkasnya.

Baca juga: Sertijab Menlu RI, Arrmanatha Nasir Resmi Gantikan Sugiono

(Willy Haryono)