Konferensi Pers Perkembangan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan. Foto: Tangkapan layar.
Hotspot Karhutla di Sumsel Naik Dua Kali Lipat
Despian Nurhidayat • 14 October 2026 15:42
Jakarta: Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Ristianto Pribadi, menyebut jumlah titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengalami penurunan 30 persen. Sedangkan Sumatra Selatan (Sumsel) justru mencatat kenaikan hingga dua kali lipat.
“Sumatra Selatan saat ini naik dua kali lipat, sehingga menjadi fokus baru pemerintah,” kata Ristianto dalam Konferensi Pers Perkembangan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan, dikutip dari Media Indonesia, Rabu, 14 Oktober 2026.
Kemenhut telah menggelar 6.515 operasi pemadaman di enam provinsi prioritas dengan mengerahkan 1.419 personel Manggala Agni. Selain itu, sebanyak 232 individu satwa liar berhasil diselamatkan dan ditangani, termasuk 71 ekor orang utan.
Ristianto menambahkan, pemerintah akan menggeser personel ke wilayah dengan jumlah titik panas tinggi, sembari tetap menjaga daerah yang kondisinya mulai membaik. Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, Kemenhut juga mempercepat penuntasan karhutla di Kalimantan Tengah, khususnya di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.

Ilustrasi penanganan karhutla. Foto: Dok. Antara.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 663 hektare lahan gambut masih terbakar. Kalimantan Tengah dan Sumsel menjadi dua provinsi prioritas penanganan karhutla tersebut.
“Upaya BNPB untuk penanganan karhutla tersebut tidak akan pernah surut,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan.
Berton memaparkan kebakaran lahan gambut yang masih dalam proses pemadaman tersebar di beberapa wilayah. Di Kalimantan Tengah, luas lahan yang ditangani mencapai 7,8 hektare, sedangkan kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting menjadi perhatian utama karena mencapai luasan 513 hektare.
Sementara itu di Sumatra Selatan, luas lahan terbakar hampir mencapai 50 hektare, dan di Jambi mencapai 74,5 hektare. Sedangkan wilayah Riau hingga kini nihil laporan titik api maupun lahan terbakar.
Berton menjelaskan, pemadaman dilakukan secara masif melalui operasi darat dan udara. Lebih dari 80 persen hasil pemadaman setiap harinya berhasil ditangani berkat dukungan peralatan yang memadai.
Untuk operasi udara melalui pengeboman air (water bombing) dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), armada helikopter yang dikerahkan ditingkatkan dari 48 unit menjadi 49 unit. Penempatan armada ini bersifat dinamis dan dapat dipindahkan antarprovinsi sesuai kebutuhan.