2030, Danantara Bidik Aset Kelolaan Naik 3 Kali Lipat

Managing Director Global Relations and Governance Danantara Indonesia Mohamad Al-Arief. ANTARA/Uyu Septiyati Liman.

2030, Danantara Bidik Aset Kelolaan Naik 3 Kali Lipat

Eko Nordiansyah • 21 January 2026 13:38

Jakarta: Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia menargetkan untuk meningkatkan nilai keseluruhan dari aset yang dikelola menjadi tiga kali lipat pada 2030, salah satunya melalui transformasi dan konsolidasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Dalam Panel Diskusi World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Managing Director Global Relations and Governance Danantara Indonesia Mohamad Al-Arief mengungkapkan, saat ini total aset Danantara mencapai USDD900 miliar (Rp15,29 kuadriliun, kurs Rp16.985 per USD).

“Dalam lima tahun mendatang, kami harus meningkatkan (aset) melalui penciptaan nilai dan sebagainya, dan secara bertahap mencapai tujuan kami untuk melipatgandakan jumlah tersebut hingga tiga kali lipat pada 2030,” ujarnya dikutip dari Antara, Rabu, 21 Januari 2026.

Untuk merealisasikan target tersebut, ia mengatakan pihaknya berencana untuk melakukan konsolidasi terhadap 1,068 BUMN menjadi 221 entitas usaha dalam 3-4 tahun ke depan.

Al-Arief menyatakan, saat ini ribuan perusahaan pelat merah yang menjadi portofolio Danantara tersebut berada di bawah pengelolaan sekitar 50 holding di berbagai sektor.

"Mungkin dalam 3-4 tahun, dari 1.068 (perusahaan) akan bertransformasi menjadi 200 lebih Badan Usaha Milik Negara yang dikelola secara profesional agar lebih kompetitif dalam jangka panjang," ucap dia.


(Ilustrasi Wisma Danantara Indonesia. Foto: Dok istimewa)

Kebut konsolidasi untuk transformasi

Ia menyatakan, proses konsolidasi tersebut merupakan bagian dari upaya pihaknya untuk menghadirkan efisiensi, profesionalisme, dan daya saing global bagi BUMN Indonesia.

Al-Arief mengatakan, saat ini dua BUMN dalam portofolio Danantara, yakni Pertamina dan PLN, telah masuk dalam daftar Fortune 500. Ia pun berharap transformasi tersebut akan mendorong lebih banyak BUMN Indonesia masuk ke dalam daftar bergengsi tersebut.

Ia menuturkan, saat ini proses konsolidasi telah mulai berjalan dalam tahap tinjauan bisnis mendasar (fundamental business review) terhadap setiap lini usaha.

“Nantinya, ada fase di mana mereka akan melakukan perampingan melalui penggabungan dan konsolidasi. Dan kemudian, akhirnya (BUMN hasil konsolidasi tersebut) dapat menciptakan lebih banyak nilai tambah,” kata Mohamad Al-Arief.

Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyebutkan kehadiran Indonesia dalam Annual Meeting World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, merupakan bagian dari strategi konsisten diplomasi ekonomi pemerintah di tingkat internasional untuk memacu daya saing berbagai sektor perekonomian nasional.

Partisipasi Indonesia dalam forum yang digelar pada 19-22 Januari 2026 tersebut melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Danantara Indonesia, serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)