Pesawat jet tempur milik Angkatan Udara Amerika Serikat. (Anadolu Agency)
Ribuan Pasukan Divisi Lintas Udara AS Mulai Tiba di Timur Tengah
Muhammad Reyhansyah • 31 March 2026 11:20
Washington: Ribuan personel dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) mulai tiba di Timur Tengah, seiring meningkatnya penumpukan kekuatan militer di kawasan tersebut.
Dua pejabat AS yang berbicara kepada Reuters pada Senin, 30 Maret 2026 menyebut langkah ini dilakukan saat Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan langkah selanjutnya dalam konflik melawan Iran.
Melansir dari AsiaOne, Selasa, 31 Maret 2026, pasukan tersebut berasal dari pangkalan Fort Bragg di North Carolina dan menambah ribuan personel militer lain yang telah lebih dulu dikerahkan, termasuk pelaut, Marinir, serta pasukan operasi khusus. Selama akhir pekan, sekitar 2.500 Marinir juga telah tiba di kawasan tersebut.
Para pejabat yang enggan disebutkan namanya tidak mengungkapkan lokasi penempatan pasukan secara spesifik, namun menyatakan bahwa langkah ini telah diperkirakan sebelumnya.
Tambahan pasukan mencakup elemen markas Divisi Lintas Udara ke-82, unit logistik, serta satu brigade tempur.
Salah satu sumber menyebutkan bahwa belum ada keputusan untuk mengirim pasukan ke wilayah Iran, namun pengerahan ini bertujuan meningkatkan kesiapan untuk kemungkinan operasi di masa mendatang.
Risiko Operasi Militer Trump
Pasukan tersebut dapat digunakan dalam berbagai skenario dalam konflik Iran, termasuk kemungkinan operasi untuk menguasai Pulau Kharg, yang menjadi pusat sekitar 90 persen ekspor minyak Iran.Sebelumnya, laporan menyebut adanya pembahasan di internal pemerintahan Trump mengenai kemungkinan operasi militer untuk mengambil alih pulau tersebut, meskipun langkah itu dinilai berisiko tinggi karena Iran memiliki kemampuan menyerang dengan rudal dan drone.
Opsi lain yang juga dipertimbangkan adalah penggunaan pasukan darat di wilayah Iran untuk mengamankan uranium yang diperkaya tinggi, meskipun langkah ini berpotensi menempatkan pasukan AS lebih dalam di wilayah Iran dalam jangka waktu lama.
Diskusi internal juga mencakup kemungkinan penempatan pasukan untuk menjamin keamanan jalur pelayaran kapal tanker minyak di Strait of Hormuz, meski misi tersebut diperkirakan akan lebih banyak melibatkan kekuatan udara dan laut.
Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat tengah melakukan pembicaraan dengan “rezim yang lebih rasional” di Iran untuk mengakhiri konflik, namun kembali memperingatkan Teheran agar membuka jalur Selat Hormuz atau menghadapi serangan terhadap fasilitas energi.
Penggunaan pasukan darat, bahkan dalam skala terbatas, dinilai membawa risiko politik yang signifikan bagi Trump, mengingat rendahnya dukungan publik di dalam negeri terhadap keterlibatan militer di Iran, serta janji kampanyenya untuk menghindari konflik baru di Timur Tengah.
Sejak operasi dimulai pada 28 Februari, Amerika Serikat telah melancarkan serangan terhadap lebih dari 11.000 target. Lebih dari 300 tentara AS dilaporkan mengalami luka-luka dan 13 lainnya tewas dalam operasi yang dikenal sebagai Operation Epic Fury.
Baca juga: Iran Tegaskan Sudah Saatnya Arab Saudi Usir Pasukan AS dari Wilayah Kerajaan