Program Mangrove Goes to School Kementerian Kehutanan. Istimewa
Anak Muda Diajak Berperan dalam Rehabilitasi Mangrove dan Ketahanan Pesisir.
Whisnu Mardiansyah • 28 February 2026 15:59
Jakarta: Direktorat Rehabilitasi Mangrove menegaskan komitmennya dalam membangun ketahanan pesisir Indonesia melalui penguatan peran generasi muda lewat program Mangrove Goes To School (MGTS).
Direktur Rehabilitasi Mangrove Nikolas Nugroho Surjobasuindro menegaskan generasi muda memiliki peran kunci dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir Indonesia.
"Rehabilitasi mangrove membutuhkan keberlanjutan lintas generasi. Melalui Mangrove Goes To School, kami menyiapkan generasi muda yang tidak hanya memahami pentingnya mangrove, tetapi juga memiliki kepemimpinan, kepedulian, dan keberanian untuk terlibat langsung sebagai agen perubahan," kata Nugroho dalam keterangan resminya, Sabtu, 28 Februari 2026.
Ia menambahkan pendekatan edukasi partisipatif dan berbasis data akan melahirkan generasi yang mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, inovasi, dan aksi kolektif dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, abrasi, dan tekanan pembangunan di wilayah pesisir.
Ke depan, Direktorat Rehabilitasi Mangrove menargetkan MGTS akan diintegrasikan dengan bidang kehutanan secara umum dan diperluas ke minimal 10 perguruan tinggi dan SMA di wilayah pesisir dan DAS prioritas hingga pertengahan tahun.
Targetnya, program ini menjangkau lebih dari 2.000 pelajar dan mahasiswa. Perluasan akan diperkuat melalui dukungan proyek Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) serta kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas lokal, dan mitra pembangunan.
Melalui MGTS, Direktorat Rehabilitasi Mangrove menegaskan investasi pada generasi muda adalah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan mangrove dan ketahanan pesisir Indonesia.
Program ini bentuk edukasi lingkungan yang bertujuan menumbuhkan kesadaran, kepedulian, serta kepemimpinan generasi muda sebagai garda terdepan rehabilitasi mangrove berkelanjutan.
Dalam kurun waktu empat bulan pelaksanaan, MGTS telah menjangkau lebih dari 2.000 peserta yang terdiri atas mahasiswa dan pelajar SMA di sembilan provinsi. Kegiatan dilaksanakan di sejumlah perguruan tinggi.
Di antaranya, Universitas Gadjah Mada, IPB University, Universitas Jambi, Universitas Udayana, Universitas Riau, dan Universitas Maritim Raja Ali Haji. Kampus-kampus tersebut dipilih karena kedekatannya dengan wilayah pesisir dan daerah aliran sungai (DAS) prioritas serta peran strategisnya dalam pengembangan ilmu dan aksi lingkungan.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, peserta memperoleh pemahaman komprehensif mengenai peran mangrove sebagai benteng alami pesisir, penyerap karbon biru (blue carbon), pelindung keanekaragaman hayati, serta pengungkit ekonomi masyarakat pesisir.