Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan paparan dalam acara Water Townhall Meeting di Jakarta, Selasa (24/2/2026) (ANTARA/Bayu Saputra)
Pemerintah Targetkan 24 Juta Sambungan Pipa Air Bersih pada 2029
Achmad Zulfikar Fazli • 24 February 2026 17:35
Jakarta: Pemerintah menargetkan pembangunan 24 juta sambungan pipa air bersih ke rumah pada 2029 atau setara 40 persen cakupan perkotaan (urban coverage). Target tersebut diperkirakan dapat menjangkau sekitar 93 juta penduduk.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengatakan target itu bukan pekerjaan ringan. Menurut dia, perlu ada kolaborasi antarsektor untuk mencapai target tersebut.
"Itu berarti hingga 93 juta orang. Ini pekerjaan yang berat sekali. Sekarang tahun 2026, bisa enggak tiga tahun kita bisa segini," kata AHY dalam acara Water Townhall Meeting di Jakarta, dilansir dari Antara, Selasa, 24 Februari 2026.
Dia memaparkan jumlah sambungan pipa air bersih yang telah terpasang baru mencapai 14 juta sambungan rumah. Angka tersebut mengaliri sekitar 56 juta penduduk atau sekitar 20 persen dari total populasi Indonesia.
Dalam jangka panjang, pemerintah memasang target lebih ambisius melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045. Pada 2045, ditargetkan tersedia 56 juta sambungan rumah atau 100 persen cakupan, yang diproyeksikan mampu melayani 211 juta jiwa.
"Ini pekerjaan berat dan harus kita lakukan secara serius karena sekali lagi kita harus memastikan setiap warga itu punya akses terhadap air bersih," ujar AHY.
Baca Juga:
Waduk Retensi Giant Sea Wall Bisa Dimanfaatkan untuk Air Baku |

Ilustrasi air bersih. Medcom
AHY menjelaskan untuk mencapai target tersebut, ada sejumlah langkah strategis yang harus diperkuat. Pertama, konservasi air untuk memastikan ketersediaan air dapat mengakomodasi kebutuhan saat ini maupun masa depan.
Kedua, pengelolaan dan pemanfaatan air secara efektif dan efisien agar tidak terjadi pemborosan. Ketiga, mitigasi bencana termasuk risiko banjir dan bencana hidrometeorologi lainnya.
"Kita harus mengelola dan mengembangkan, menggunakan ini (air) dengan sebaik mungkin, efektif dan efisien. Jangan kita istilahnya menggunakan tanpa tujuan yang tepat," ujar AHY.
Dia memaparkan peta kebutuhan air nasional yang memperlihatkan adanya kompetisi antarsektor. Saat ini, sekitar 74 persen sumber daya air digunakan untuk irigasi dalam rangka mendukung swasembada pangan.
Kebutuhan tersebut tidak hanya terpusat di Pulau Jawa dan Sumatra, tetapi diperluas ke Kalimantan, Sulawesi, Papua dan wilayah Indonesia Timur.
Sementara itu, penggunaan air untuk kebutuhan rumah tangga mencapai sekitar 9 persen, industri 6 persen, kebutuhan komersial 3 persen, dan sektor lainnya 8 persen. Oleh karena itu, pemerintah menilai pengelolaan yang terintegrasi menjadi kunci agar kebutuhan terbesar di sektor pertanian tetap dapat berjalan tanpa mengorbankan akses air bersih bagi masyarakat.