Nisfu Syaban Jadi Momentum Taubat Menjelang Ramadan

Ilustrasi Medcom.id

Nisfu Syaban Jadi Momentum Taubat Menjelang Ramadan

Putri Purnama Sari • 2 February 2026 19:53

Jakarta: Menjelang bulan Ramadan, umat Islam memasuki salah satu momentum penting dalam kalender Hijriah, yakni malam Nisfu Syaban. Malam pertengahan bulan Syaban ini kerap dimaknai sebagai waktu refleksi diri dan persiapan spiritual sebelum menjalani ibadah puasa.

Anggota Dewan Pertimbangan DPP Partai NasDem, Dr. Ayu Alwiyah Aljufri, menyebut Nisfu Syaban sebagai ruang jeda bagi manusia untuk menata kembali kondisi batin. 

Menurutnya, kegelisahan yang kerap muncul menjelang Ramadan bukanlah sesuatu yang negatif, melainkan tanda bahwa hati masih memiliki kepekaan spiritual.

Al-Quran menggambarkan kondisi tersebut sebagai tanda kehidupan hati, sebagaimana tertuang dalam firman Allah SWT:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” (QS. Al-?adid: 16)

Dr. Ayu menjelaskan, dalam perspektif psikologi Islam, kegelisahan batin dikenal sebagai kesadaran moral-spiritual (al-wa‘yu al-akhlaqi). Kondisi ini dinilai sebagai indikator bahwa seseorang masih mampu merespons kesalahan dan memiliki dorongan untuk memperbaiki diri.

Taubat Sebagai Proses Batin

Lebih lanjut, Dr. Ayu menekankan bahwa taubat dalam Islam tidak sekadar bersifat ritual, melainkan merupakan proses batin yang mendalam. 

Al-Ghazali menyebut taubat sebagai inqilab al-qalb atau perubahan arah hati. Hal ini juga ditegaskan dalam Al-Quran:

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)

Secara psikologis, taubat melibatkan tiga lapisan utama, yakni:
  1. Kesadaran (idrak), mengakui kesalahan tanpa membela diri.
  2. Afeksi (infi‘al), penyesalan, sedih, bahkan tangis.
  3. Komitmen (iradah), niat untuk tidak kembali pada pola lama.
Nisfu Syaban, menurut Dr. Ayu, hadir di tengah rutinitas duniawi dan menjelang latihan spiritual Ramadan, sehingga menjadi momentum persiapan agar seseorang tidak memasuki bulan suci dengan kondisi batin yang rapuh.
 

Malam Pengampunan

Keutamaan Nisfu Sya’ban juga tercermin dalam sabda Rasulullah SAW: “Allah melihat kepada seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni semuanya kecuali orang yang menyekutukan Allah dan orang yang menyimpan permusuhan.” (HR. Ibn Majah)

Dalam konteks ini, Dr. Ayu menilai bahwa taubat tidak hanya berkaitan dengan hubungan vertikal kepada Allah, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama. Dendam, kebencian, dan iri hati disebut sebagai faktor yang dapat menghambat ketenangan dan penyembuhan batin.

Persiapan Menuju Ramadan

Dr. Ayu menilai Ramadan bukan bulan bagi mereka yang telah sempurna, melainkan bagi mereka yang ingin disucikan. Oleh karena itu, Nisfu Syaban menjadi pintu awal untuk kembali pada kejujuran diri dan menumbuhkan harapan akan rahmat Allah.

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

Menurutnya, harapan (raja’) merupakan elemen penting dalam kesehatan jiwa. Tanpa harapan, taubat justru dapat berubah menjadi rasa bersalah yang berkepanjangan. Nisfu Syaban mengingatkan bahwa pintu ampunan tetap terbuka sebagai bekal menyambut Ramadan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)