Ilustrasi. Foto: dok MI.
Produksi Pulih, Freeport Bakal Kasih Setoran Rp120 Triliun ke Negara
Husen Miftahudin • 14 July 2026 17:56
Jakarta: PT Freeport Indonesia memproyeksikan setoran kepada negara mencapai USD4,7 miliar pada 2027. Nilai tersebut meningkat dibandingkan proyeksi setoran pada 2026 yang diperkirakan sebesar USD2,6 miliar, seiring membaiknya kapasitas produksi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC).
Presiden Direktur Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan peningkatan kontribusi tersebut bergantung pada pemulihan produksi tambang setelah insiden longsor yang terjadi pada 2025.
"Kami lihat proyeksi 2027 jika sesuai dengan peningkatan produksi kita, itu penerimaan negara akan bisa mencapai USD4,7 miliar," ujar Tony dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 14 Juli 2026.
Tony menjelaskan, kenaikan proyeksi penerimaan negara didukung oleh pulihnya kapasitas produksi tambang bawah tanah GBC di Mimika, Papua Tengah, yang sebelumnya terdampak longsor pada 8 September 2025. Insiden tersebut menyebabkan operasional tambang GBC sempat terhenti. Selain GBC, Freeport juga mengelola tambang bawah tanah Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Big Gossan.
Berdasarkan data perusahaan, kapasitas produksi konsentrat GBC mencapai sekitar 133.800 ton per hari, DMLZ sekitar 64.900 ton per hari, dan Big Gossan sekitar 8.000 ton per hari. Dengan kapasitas tersebut, GBC menyumbang sekitar 64 persen dari total produksi tambang bawah tanah Freeport Indonesia.
.jpg)
(Ilustrasi tambang Freeport di Indonesia. Foto: dok MI)
Setoran negara turun akibat longsor
Terhentinya produksi di tambang GBC menyebabkan proyeksi penerimaan negara pada 2026 turun menjadi USD2,6 miliar, dibandingkan realisasi proyeksi sebesar USD4,3 miliar pada 2025.
Tony mengatakan kapasitas produksi GBC pada semester I-2026 masih berada di kisaran 50 persen dari kondisi normal pascalongsor. Kapasitas tersebut diperkirakan meningkat menjadi 65 persen pada semester II-2026.
Selanjutnya, produksi ditargetkan pulih menjadi 75 persen pada semester I-2027 dan mencapai 100 persen sepanjang semester II-2027. Tony optimistis penerimaan negara akan meningkat lebih besar ketika kapasitas produksi tambang telah kembali normal.
"Masuk ke kapasitas produksi penuh (pada 2028), penerimaan negara akan bisa melebihi USD7 miliar per tahun. Kalau dirupiahkan, itu kira-kira sekitar Rp120 triliun per tahun," kata Tony.
Perhitungan tersebut menggunakan asumsi harga tembaga sebesar USD6 per pon dan harga emas USD4.500 per ons.