Ayat Al-Quran yang Dipilih Khusus untuk Pemakaman Khamenei Picu Debat Diplomatik

Delegasi Arab Saudi yang hadir dalam pemakaman Ayatollah Ali Khamenei. Foto: Iran International

Ayat Al-Quran yang Dipilih Khusus untuk Pemakaman Khamenei Picu Debat Diplomatik

Fajar Nugraha • 6 July 2026 10:52

Teheran: Ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan untuk delegasi asing yang menghadiri pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, telah memicu perdebatan.

Ini terjadi setelah media Iran dan pengguna media sosial berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut dipilih dengan cermat untuk mengirimkan pesan politik dan diplomatik kepada para pejabat yang hadir.

Penyelenggara tidak menjelaskan mengapa ayat-ayat Al-Quran yang berbeda dibacakan untuk setiap delegasi. Namun, beberapa media Iran menggambarkan pemilihan tersebut sebagai sesuatu yang disengaja, bukan sekadar bacaan keagamaan rutin.

Situs berita Fararu menulis bahwa ayat-ayat tersebut tampaknya dipilih "bukan secara acak, tetapi dengan sengaja." Media konservatif Tabnak menggambarkan praktik tersebut sebagai "inovasi dalam diplomasi publik," dan mengatakan bahwa bacaan yang disesuaikan tersebut dapat diinterpretasikan sebagai pesan etika dan politik untuk setiap delegasi.

Ayat yang paling menarik perhatian dibacakan saat Wakil Menteri Luar Negeri Arab Saudi Waleed bin Abdulkarim mendekati peti mati Khamenei.

Ayat tersebut, Ayat 13 Surah Al Imran mengingatkan kembali pada Perang Badar, di mana para pengikut Nabi Muhammad mengalahkan pasukan yang jauh lebih besar. Ayat itu diakhiri dengan: "Allah menolong siapa yang Dia kehendaki dengan pertolongan-Nya. Sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal budi."

Beberapa pihak mengaitkan pilihan ayat tersebut dengan konflik Iran baru-baru ini dengan Israel dan Amerika Serikat, di mana Arab Saudi dilaporkan telah mengizinkan operasi militer AS dari wilayahnya sambil juga mendesak Washington untuk menghindari perang regional yang lebih luas.

Ayat yang dibacakan untuk delegasi Turki menyoroti keunggulan orang-orang beriman yang berperang di jalan Allah atas mereka yang tinggal di belakang tanpa alasan yang sah. Beberapa komentator menafsirkannya sebagai referensi terhadap pendekatan hati-hati Ankara selama konflik baru-baru ini dan krisis regional yang lebih luas.

Delegasi resmi Lebanon dan delegasi terpisah dari Hizbullah menerima ayat yang berbeda. Delegasi negara Lebanon mendengar ayat yang menunjukkan bahwa mengikuti petunjuk ilahi dan melakukan pengorbanan di jalan Allah akan lebih baik bagi mereka. Hizbullah, yang namanya berarti "Partai Tuhan," disambut dengan sebuah ayat yang menjanjikan kemenangan bagi "Partai Tuhan."

Delegasi Hamas menerima sebuah ayat yang memuji orang-orang beriman "yang tetap setia pada perjanjian yang mereka buat dengan Tuhan" dan tidak pernah melanggar janji mereka.

Cucu Khomeini menarik perhatian

Momen lain yang banyak dibicarakan terjadi ketika anggota keluarga pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini mendekati peti mati.

Ayat 95 Surah An-Nisa, yang membandingkan orang-orang beriman yang tinggal di rumah dengan orang-orang yang berjuang "dengan harta dan nyawa mereka" untuk membela agama Allah, mulai dibacakan ketika cucu mantan pemimpin, Hassan Khomeini, mendekat.

Video yang beredar online tampaknya menunjukkan dia meninggalkan upacara tak lama setelah pembacaan dimulai, yang memicu kritik dari beberapa kelompok konservatif.

Hassan Khomeini umumnya dikaitkan dengan kubu reformis Iran.

Reaksi beragam

Pilihan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut memicu diskusi luas di media sosial berbahasa Persia dan Arab. Para pendukung berpendapat bahwa pilihan ayat-ayat tersebut mencerminkan perilaku pemerintah regional baru-baru ini, bukan kritik pribadi.

Seorang pengguna berbahasa Persia menulis bahwa mengingatkan negara-negara tetangga tentang konsekuensi kebijakan mereka selama perang adalah "pengingat akan tanggung jawab, bukan penghinaan."

Yang lain berpendapat bahwa menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk mengkritik pelayat resmi adalah tindakan yang tidak pantas.

"Jika pemilihan ayat-ayat yang dibacakan selama upacara kemarin disengaja, maka itu adalah kesalahan," tulis seorang pengguna.

"Mengejek tamu yang datang untuk menyampaikan belasungkawa tidak sesuai dengan tradisi budaya kita maupun ajaran agama,” imbuhnya.

Pengguna lain menulis: "Saya tidak setuju dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk mengkritik siapa pun yang datang untuk menyampaikan belasungkawa. Itu tidak pantas. Setahu saya, mencela tamu bukanlah praktik para nabi, Nabi Muhammad, para Imam, atau pemimpin yang gugur."

Diskusi ini juga menyebar di media sosial berbahasa Arab. Komentator Irak, Yaseen Aziz, menggambarkan ayat-ayat yang dibacakan untuk delegasi Saudi sebagai "indikator kebencian yang ada dan kebodohan diplomatik kepemimpinan saat ini di Iran."

(Fajar Nugraha)