Bukan Cuma Saham Lokal, Investor Indonesia Mulai Melirik Aset Global

Ilustrasi. Foto: Magnific.

Bukan Cuma Saham Lokal, Investor Indonesia Mulai Melirik Aset Global

Ade Hapsari Lestarini • 18 August 2026 22:40

Jakarta: Minat investor Indonesia terhadap aset global terus meningkat seiring meluasnya akses investasi saham dan Exchange Traded Fund (ETF) Amerika Serikat (AS). Data internal Pluang menunjukkan jumlah investor saham AS yang aktif bertransaksi setiap bulan meningkat enam kali lipat dalam tiga tahun terakhir.

Pada periode yang sama, jumlah investor pemula di kelas aset saham AS meningkat hingga 63 kali lipat. Tren tersebut menunjukkan investasi saham global mulai menjadi bagian dari diversifikasi portofolio investor ritel Indonesia.

Adopsi investasi saham AS juga semakin meluas di luar kota-kota metropolitan. Sekitar 38 persen investor saham AS di Pluang berasal dari kota sekunder dan tertier. Pluang menyebut saat ini layanannya telah menjangkau lebih dari 300 kota dan kabupaten di Indonesia.

Sementara dari sisi dana kelolaan, Asset Under Management (AUM) saham dan ETF AS di Pluang tumbuh 19 kali lipat dalam tiga tahun terakhir. Pada kuartal I-2026, sekitar satu dari lima investor baru memulai investasi melalui kelas aset tersebut.

Komitmen investor terhadap kepemilikan saham global juga tercermin dari data kepemilikan. Lebih dari 70 persen investor yang pertama kali membeli saham global setahun sebelumnya masih mempertahankan kepemilikan saham tersebut hingga saat ini.
 



Director of Marketing & Commercial Pluang Andreas Agung Hendrawan mengatakan investor Indonesia mulai menggunakan aset global sebagai pelengkap portofolio domestik.

"Investor Indonesia kini jauh lebih mahir dalam menemukan peluang pertumbuhan baru. Dengan pola pikir yang lebih global, mereka mengejar peluang kelas dunia untuk melengkapi, bukan menggantikan, portofolio lokal mereka," ujar Andreas, dalam keterangan tertulis, Selasa, 18 Agustus 2026.

Menurut dia, perkembangan sektor kecerdasan artifisial (AI) juga menjadi salah satu faktor yang meningkatkan perhatian terhadap perusahaan global. Berdasarkan data Goldman Sachs yang dikutip Pluang, perusahaan terkait AI mencakup sekitar 45 persen kapitalisasi pasar S&P 500 pada 2026.

Data tersebut menunjukkan besarnya pengaruh perusahaan terkait AI terhadap pergerakan pasar saham AS. Goldman Sachs juga memperkirakan saham-saham terkait AI telah menjadi bagian signifikan dari indeks S&P 500.

Saat ini, Pluang menyediakan akses ke lebih dari 650 saham dan ETF AS, termasuk kepemilikan pecahan saham. Platform tersebut juga menyediakan sejumlah instrumen lain seperti Options dan Leverage untuk investor yang telah memahami risiko produk tersebut.


Ilustrasi. Foto: Magnific.
 

Investasi saham AS melalui skema PALN


Sejalan dengan meningkatnya minat terhadap aset global, akses investor Indonesia terhadap saham AS juga didukung mekanisme Penyaluran Amanat Nasabah ke Bursa Berjangka Luar Negeri (PALN).

Pluang menyatakan telah mengalihkan produk saham AS dan ETF ke skema PALN pada 2025. Melalui skema tersebut, transaksi saham dan ETF AS difasilitasi PT PG Berjangka dan diteruskan ke bursa luar negeri.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya menyatakan produk PALN dengan aset dasar berupa efek termasuk dalam ruang lingkup pengaturan dan pengawasan OJK setelah adanya peralihan kewenangan pengawasan derivatif keuangan.

Dalam layanan Pluang, transaksi saham AS dan ETF dicatat pada Jakarta Futures Exchange (JFX) dan Kliring Berjangka Indonesia (KBI), sementara eksekusi transaksi di pasar AS dilakukan melalui Alpaca Securities LLC. Pluang menyatakan investor memperoleh kepemilikan pecahan atas saham dasar beserta hak dividen secara proporsional.

"Seiring dengan semakin globalnya pandangan masyarakat Indonesia, tugas kami bukan hanya sekadar menyediakan akses, tetapi juga terus meningkatkan standar kualitas, transparansi, dan perlindungan investor di baliknya. Keputusan untuk bertransisi secara penuh ke skema PALN mencerminkan komitmen tersebut," ujar Andreas.

Pluang menyebut investor yang menggunakan layanan saham globalnya telah menerima pembayaran dividen dengan nilai total puluhan miliar rupiah sejak produk tersebut diluncurkan.

(Ade Hapsari Lestarini)