Jangan Sampai Boncos! Ini 5 Strategi Pensiun Cerdas untuk Gen Z dan Milenial

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Jangan Sampai Boncos! Ini 5 Strategi Pensiun Cerdas untuk Gen Z dan Milenial

Ade Hapsari Lestarini • 30 March 2026 10:33

Jakarta: Gaya hidup digital yang kerap dipengaruhi tren media sosial membuat sebagian Gen Z dan milenial terjebak dalam perilaku konsumtif. Fenomena FOMO (fear of missing out) mendorong pengeluaran berlebih, sehingga mengabaikan persiapan dana pensiun.

Laporan Bank DBS Indonesia melalui riset "Ageing Society 2025" mencatat 19 persen Gen Z (22-27 tahun) dan 19 persen milenial (28-43 tahun) di Asia Tenggara belum memiliki komitmen untuk mempersiapkan dana pensiun.

Head of Market Intelligence Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Boy Suhendry mengatakan, generasi muda dapat mulai menabung melalui instrumen terdiversifikasi seperti reksa dana yang relatif mudah. Serta mamapu membantu pengelolaan risiko dan memberikan potensi imbal hasil optimal.

Dalam dua dekade ke depan, Indonesia diproyeksikan memasuki fase ageing population. Sekitar 100 juta penduduk diperkirakan belum memiliki tabungan pensiun pada 2038. Kondisi ini menuntut generasi muda memulai perencanaan keuangan sejak dini agar tetap mandiri di masa tua.

Di sisi lain, tingkat literasi keuangan yang rendah turut tercermin dari kebiasaan menabung yang masih minim. Rata-rata masyarakat hanya menyisihkan sekitar tiga persen pendapatan, jauh di bawah standar ideal minimal 10 persen. Jika kondisi ini berlanjut, risiko kesulitan finansial di masa pensiun akan meningkat.

"Bank DBS Indonesia hadir bagi seluruh kelompok usia untuk membantu mempersiapkan dan mengembangkan keuangan jangka panjang. Sebab mempersiapkan masa pensiun bukan sekadar menabung, tetapi memahami strategi sejak dini serta menjalankannya dengan disiplin dan konsisten," ungkap Boy, dalam keterangan tertulis, Senin, 30 Maret 2026.


Ilustrasi. Foto: Freepik.
 


Berikut lima strategi yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan masa pensiun:

 

1. Mulai menabung sejak dini


Gen Z memiliki keunggulan waktu yang panjang sebelum memasuki masa pensiun. Dengan horizon investasi puluhan tahun, bahkan nominal kecil yang diinvestasikan secara rutin, tetap berpotensi berkembang signifikan berkat efek compounding. Efek ini yaitu keuntungan yang terus bertumbuh dan menghasilkan keuntungan tambahan seiring waktu. Sebaliknya, menunda justru membuat target dana pensiun semakin berat karena waktu pertumbuhan aset menjadi lebih pendek.
 

2. Menghitung kebutuhan pensiun secara menyeluruh


Banyak orang terjebak menyiapkan dana pensiun hanya untuk kebutuhan pokok seperti makan, tempat tinggal, dan biaya kesehatan. Penting untuk menghitung kebutuhan pensiun secara lebih realistis sejak awal, termasuk pengeluaran untuk gaya hidup dan aktivitas yang mendukung kesehatan fisik maupun mental. Dengan perencanaan yang lebih komprehensif, dana pensiun tidak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga memungkinkan seseorang menikmati masa tua dengan lebih aktif, mandiri, sejahtera, dan menyenangkan.
 

3. Menyusun anggaran bulanan realistis


Pengelolaan keuangan dapat menggunakan metode rasio 50-30-20, yaitu 50 persen untuk kebutuhan pokok (needs), seperti biaya makan, sewa tempat tinggal, transportasi, dan tagihan rutin. Selanjutnya, 30 persen dapat digunakan untuk memenuhi keinginan pribadi (wants), seperti hobi, hiburan, atau liburan. Sementara itu, 20 persen sisanya sebaiknya disisihkan untuk tabungan dan investasi, yang menjadi langkah awal dalam mempersiapkan dana pensiun dan mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
 

4. Menentukan strategi investasi sesuai fase hidup


Investasi perlu dioptimalkan dengan strategi yang disesuaikan dengan kondisi dan tujuan masing-masing individu. Bagi milenial, fokus investasi umumnya berada pada keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas, dengan alokasi sekitar 60-70 persen pada instrumen berbasis saham untuk mengejar pertumbuhan nilai, 20-30 persen pada obligasi guna menjaga stabilitas, serta 10-15 persen pada alternatif investasi seperti properti, komoditas, atau emas.

Sementara itu, bagi generasi muda yang baru memulai, instrumen berisiko rendah dengan arus kas rutin, seperti obligasi ritel dan reksa dana pendapatan tetap, dapat menjadi pilihan awal yang lebih aman.
 

5. Memahami siklus ekonomi


Merencanakan dana pensiun itu bukan cuma soal rutin investasi, tapi juga soal peka terhadap siklus ekonomi. Setiap fase ekonomi, baik dalam kondisi pemulihan (recovery) maupun perlambatan atau resesi, selalu menghadirkan peluangnya masing-masing. Dengan memahami siklus ekonomi, Anda bisa lebih bijak memilih instrumen yang sesuai dengan kondisi saat itu. Misalnya, ada fase instrumen yang lebih agresif bisa dioptimalkan, tapi di fase lain mungkin perlu lebih defensif untuk menjaga nilai portofolio.

Melalui perencanaan keuangan yang tepat, Anda bisa menikmati masa tua tanpa harus khawatir masalah keuangan. Isu penuaan tidak hanya berkaitan dengan kelompok lansia, tetapi juga generasi muda. Meskipun terkesan menakutkan, menyiapkan dana pensiun sebenarnya tidak harus rumit. Perencanaan dana pensiun sedini mungkin bukan hanya berfokus pada besar kecilnya nominal, tetapi bagaimana membangun kebiasaan yang sehat, mulai dari meningkatkan kapasitas pendapatan, mengalokasikan dana secara disiplin, hingga merasakan motivasi ketika melihat aset keuangan bertumbuh. (Richard A.K)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)