Penyintas Gempa NTT di Pulau Palue Dievakuasi ke Maumere

Proses evakuasi penyintas bernama Yohanis Riba (75) yang mengalami memar kaki setelah tertimpa reruntuhan bangunan akibat gempa M 7,7 Flores di Bandara Frans Seda, Maumere, Kabupaten Sikka. (Dokumentasi/ BNPB)

Penyintas Gempa NTT di Pulau Palue Dievakuasi ke Maumere

Silvana Febiari • 24 August 2026 06:52

Maumere: Penyintas gempa magnitudo (M) 7,7 Flores, Yohanis Riba (75), dievakuasi dari Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), ke Maumere untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Sebab, Kedua kaki Yohanis tertimpa material bangunan saat gempa mengguncang pada Sabtu, 15 Agustus 2026. 

"Proses evakuasi dilakukan dengan mengedepankan kecepatan dan keselamatan pasien," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton SP Panjaitan dalam keterangan tertulis, Senin, 24 Agustus 2026. 

Yohanis dijemput dari Pulau Palue untuk dibawa menuju Rumah Sakit TC Hillers, Maumere, Minggu, 23 Agustus 2026. Evakuasi dilakukan menggunakan helikopter Polri yang disiagakan di Pos Pendamping Nasional (Pospenas) BNPB di Bandara Frans Seda, Maumere.
 


Saat gempa, sanak famili dan kerabat Yohanis yang berada di sekitar lokasi segera memberikan pertolongan. Yohanis kemudian dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis. 

Selama beberapa hari, ia menjalani perawatan sambil menunggu kondisi kedua kakinya membaik. Namun setelah dilakukan pemantauan oleh tenaga medis, kondisi Yohanis memerlukan penanganan lebih lanjut. 

"Mempertimbangkan luka dan memar yang dialaminya serta keterbatasan fasilitas kesehatan di wilayah kepulauan, Yohanis dirujuk untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif di fasilitas kesehatan yang memiliki dukungan medis lebih memadai," jelas Berton. 


Proses evakuasi penyintas bernama Yohanis Riba (75) yang mengalami memar kaki setelah tertimpa reruntuhan bangunan akibat gempa M 7,7 Flores di Bandara Frans Seda, Maumere, Kabupaten Sikka. (Dokumentasi/ BNPB)


Evakuasi Yohanis melibatkan BNPB, TNI, Polri, tenaga medis, relawan, dan otoritas bandara. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk memastikan pemindahan Yohanis dari Pulau Palue ke Maumere berlangsung aman dan cepat.

"Setibanya di Maumere, Yohanis mendapatkan penanganan di RSUD TC Hillers. Upaya ini dilakukan agar ia memperoleh pemeriksaan dan perawatan yang lebih optimal, sekaligus memperbesar peluang pemulihan kondisi kedua kakinya," ungkap Berton. 


Proses evakuasi penyintas bernama Yohanis Riba (75) yang mengalami memar kaki setelah tertimpa reruntuhan bangunan akibat gempa M 7,7 Flores di Bandara Frans Seda, Maumere, Kabupaten Sikka. (Dokumentasi/ BNPB)


Di tengah proses penanganan darurat pasca-gempa, kisah Yohanis juga menunjukkan bahwa setiap penyintas memiliki kebutuhan yang berbeda dan harus mendapatkan perhatian sesuai kondisi masing-masing. Bagi masyarakat yang berada di wilayah terpencil dan kepulauan, dukungan akses kesehatan menjadi bagian penting dalam memastikan tidak ada penyintas yang tertinggal dalam proses penanganan bencana.

Kolaborasi lintas sektor akan terus diperkuat untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat ditangani secara cepat, tepat, dan manusiawi. Semangat gotong royong menjadi kekuatan bersama untuk membantu para penyintas melewati masa sulit dan secara bertahap kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.

(Silvana Febiari)