BNPB Catat 77.912 Rumah Rusak Akibat Gempa NTT

Tim Kedeputian Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat melaksanakan koordinasi untuk proses verifikasi dan validasi kerusakan rumah terdampak, Senin, 24 Agustus 2026. (Dokumentasi/ BNPB)

BNPB Catat 77.912 Rumah Rusak Akibat Gempa NTT

Silvana Febiari • 27 August 2026 14:44

Manggarai: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 77.912 rumah rusak akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026. Data tersebut merupakan catatan sementara per 24 Agustus 2026.

"Rincian angka tersebut adalah 24.597 unit rumah rusak berat (RB), 18.537 unit rumah rusak sedang (RS), dan 34.778 unit rumah rusak ringan (RR). Kabupaten Manggarai Timur tercatat memiliki jumlah kerusakan rumah tertinggi," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam keterangan tertulis, Kamis, 27 Agustus 2026. 

BNPB kini mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) dengan melakukan pendataan serta verifikasi kerusakan rumah di tujuh kabupaten terdampak. Proses tersebut dilakukan tanpa menunggu masa tanggap darurat berakhir.


"Tanpa menunggu masa tanggap darurat berakhir, tim Kedeputian Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB telah diterjunkan ke tujuh kabupaten terdampak untuk mendampingi pemerintah daerah mengelola data kerusakan rumah," ungkap Berton. 

Pendampingan mencakup percepatan asesmen, standardisasi penilaian tingkat kerusakan, hingga kelengkapan data berdasarkan nama dan alamat atau by name by address (BNBA). Tujuh kabupaten terdampak yang telah didata meliputi Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, dan Sikka.

Kabupaten Nagekeo mencatat 3.218 rumah rusak berat, 1.598 rusak sedang, dan 4.828 rusak ringan. Kabupaten Ende memiliki 1.208 rumah rusak berat, 1.725 rusak sedang, dan 4.547 rusak ringan.

Sementara di Kabupaten Manggarai terdapat 6.360 rumah rusak berat, 5.196 rusak sedang, dan 5.552 rusak ringan. Kabupaten Manggarai Timur mencatat 6.833 rumah rusak berat, 4.996 rusak sedang, dan 6.973 rusak ringan.

Kemudian, Kabupaten Manggarai Barat mencatat 3.732 rumah rusak berat, 2.014 rusak sedang, dan 5.067 rusak ringan. Kabupaten Ngada masing-masing mencatat 2.256 rumah rusak berat, 2.116 rusak sedang, dan 5.190 rusak ringan.

Adapun Kabupaten Sikka mencatat 990 rumah rusak berat, 892 rusak sedang, dan 2.621 rusak ringan.

BNPB Verifikasi Data Kerusakan

Langkah awal rehab-rekon dimulai dari pendataan rumah terdampak oleh pemerintah daerah. Data tersebut kemudian diverifikasi BNPB untuk memastikan data penerima berdasarkan nama dan alamat.

"Selanjutnya, enumerator akan diterjunkan ke lapangan untuk memverifikasi tingkat kerusakan rumah berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan," tutur Berton. 


Bimtek Pendataan Rumah Rusak Akibat Bencana Gempa Bumi di Kabupaten Manggarai dilaksanakan di Aula St. Yosef katedral, Ruteng, Manggarai, Rabu, 26 Agustus 2026.


BNPB juga menggandeng organisasi perangkat daerah (OPD) dan relawan untuk mempercepat proses verifikasi dan validasi data. Di Kabupaten Manggarai, BNPB menggelar bimbingan teknis pendataan rumah rusak pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut bertujuan menyamakan pemahaman, metode, dan mekanisme pendataan dampak gempa sehingga data yang dihasilkan dapat menjadi dasar pengambilan keputusan.

Bimtek serupa sebelumnya digelar di Kabupaten Manggarai Barat pada 24 Agustus 2026. Kegiatan itu melibatkan 120 penyuluh pertanian dan 76 penyuluh keluarga berencana yang akan membantu survei teknis tingkat kerusakan rumah.

"Pendataan merupakan salah satu fondasi utama dalam proses penanganan dan pemulihan pasca-bencana," terang Berton. 

Data tersebut nantinya menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan, prioritas penanganan, besaran bantuan, serta strategi rehabilitasi dan rekonstruksi. Proses pemulihan juga mengedepankan prinsip build back better, yakni membangun kembali rumah sekaligus meningkatkan ketangguhan masyarakat terhadap bencana.

(Silvana Febiari)