Rudal Patriot Amerika Serikat (AS). Foto: U.S Departement of Defense
AS Hadapi Kekurangan Rudal Patriot yang Sangat Kritis di Eropa
Fajar Nugraha • 28 August 2026 08:42
Washington: Militer Amerika Serikat (AS) dikabarkan mengalami kekurangan pencegat rudal canggih yang "sangat kritis" di Eropa, sebagian besar disebabkan oleh perang Presiden Donald Trump dengan Iran.
Hal ini disampaikan oleh pejabat pertahanan AS di Eropa dan seorang pejabat NATO kepada Associated Press, yang menimbulkan kekhawatiran tentang kerentanan negara-negara NATO terhadap potensi serangan Rusia.
Pejabat pertahanan AS mengatakan, kekurangan yang paling mengkhawatirkan melibatkan pencegat rudal Patriot, yang dapat menembak jatuh rudal balistik berkecepatan tinggi Rusia. Pejabat NATO mengonfirmasi persediaan Patriot yang rendah di antara pasukan Amerika dan NATO di Eropa. Keduanya berbicara dengan syarat anonim untuk membahas masalah militer yang sensitif.
“Jika terjadi serangan rudal balistik Rusia terhadap, misalnya, markas militer atau pembangkit listrik, NATO dapat berada dalam posisi yang sama dengan Ukraina yang kekurangan Patriot dan terpaksa menerima serangan demi serangan," kata pejabat pertahanan AS, seperti dikutip dari Euronews, Jumat 28 Agustus 2026.
“Di Eropa, militer Amerika jelas tidak memiliki cukup rudal Patriot untuk menghentikan serangan rudal balistik berkelanjutan dan akan memiliki kemampuan sangat terbatas untuk bertahan melawan satu serangan rudal balistik atau rudal Rusia yang melenceng,” kata pejabat AS tersebut.
Hal ini menggambarkan dampak berantai dari keputusan Trump untuk melancarkan perang melawan Iran di saat konflik sudah mencapai enam bulan pada Jumat ini.
Persediaan rudal AS di Eropa telah dipindahkan ke Timur Tengah, di mana AS dan sekutu Teluk telah menembakkan sejumlah besar pencegat, termasuk Patriot, untuk menggagalkan drone dan rudal Iran. Beberapa serangan tersebut telah menewaskan dan melukai pasukan Amerika.
Meskipun serangan rudal balistik Rusia terhadap negara-negara NATO tidak diperkirakan akan segera terjadi, Direktur CIA John Ratcliffe pergi ke Moskow minggu ini untuk memperingatkan Rusia agar tidak menyerang, lapor The Wall Street Journal.
Ketika ditanya oleh wartawan pada hari Kamis apakah Ratcliffe menyampaikan pesan itu kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, Trump memberikan jawaban yang berbelit-belit.
“Saya tidak ingin berkomentar tentang itu, tetapi mereka tidak akan menyerang,” kata Trump.
Para pejabat Eropa dan NATO mengatakan Rusia dapat berada dalam posisi untuk menyerang negara-negara anggota aliansi pada tahun 2030. Persediaan rudal Patriot diproyeksikan akan pulih pada saat itu.
Sementara itu, perang Rusia di Ukraina dapat menghambat kemampuannya untuk melakukan serangan rudal apa pun ke Eropa karena akan menjadi tantangan bagi Moskow untuk berperang di udara di dua front.
Kolonel Angkatan Darat AS Martin O’Donnell, juru bicara militer senior NATO, mengatakan bahwa “sama sekali tidak benar” bahwa jumlah rudal Patriot di Eropa melebihi batas kritis.
NATO, katanya, mampu “memblokir serangan” dan memiliki cukup amunisi pertahanan udara yang tersedia untuk mempertahankan diri serta untuk disumbangkan ke Ukraina.
Juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell mengatakan, dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis bahwa klaim kekurangan amunisi AS “adalah salah.”
“Kami memiliki semua yang dibutuhkan untuk menyerang pada waktu dan tempat yang dipilih Presiden,” kata Parnell.
“Di berbagai komando tempur, kami telah melaksanakan operasi yang sukses sambil mempertahankan persenjataan yang lengkap dan siap untuk membela rakyat dan kepentingan kami,” ujar Parnell.
Namun, para pejabat di Ukraina memohon lebih banyak rudal Patriot untuk bertahan melawan serangan rudal Rusia, sementara transfer rudal AS sebelumnya ke Ukraina telah mengurangi sebagian pasokan pencegat rudal Amerika.
Kyiv mengatakan hanya rudal Patriot buatan AS yang dapat menghentikan rudal balistik canggih Rusia, yang semakin sering menembus pertahanan Ukraina, termasuk sebagai bagian dari serangan gencar semalam hingga Kamis.
“AS memasok ratusan rudal Patriot ke Ukraina selama konflik yang berlangsung selama 4,5 tahun, tetapi perang Iran adalah titik balik bagi penyusutan persediaan,” kata Ed Arnold, rekan senior di Royal United Services Institute, sebuah lembaga pemikir militer di London.
Pasokan ke Ukraina telah direncanakan dan diukur dengan cukup tepat, katanya, sedangkan persediaan di Timur Tengah telah terkuras secara tak terduga dan cepat, yang menunjukkan kendala rantai pasokan.
Keterbatasan Rusia
Militer AS di Eropa juga bergulat dengan kekurangan kritis Sistem Rudal Taktis Angkatan Darat, atau ATACMS, sebuah rudal balistik jarak menengah yang dirancang untuk menyerang di belakang garis musuh, kata kedua pejabat tersebut. Namun, gambaran keseluruhan amunisi di Eropa tidak separah pertahanan udara saja karena beberapa militer Eropa memiliki rudal ofensif mereka sendiri, seperti Taurus dan Storm Shadow, yang keduanya merupakan rudal penghancur bunker jarak jauh yang diluncurkan dari udara.Kekurangan pencegat Patriot di Eropa akan menyisakan sedikit alternatif untuk menembak jatuh rudal balistik Rusia yang lebih canggih, yang dapat dikombinasikan dengan kawanan drone murah untuk mengalahkan pertahanan, kata para ahli.
Meskipun militer AS dan Eropa memiliki kapal perang yang dapat berfungsi sebagai pertahanan udara bergerak, mereka mungkin terlalu jauh dari target untuk melindunginya dan berisiko tenggelam
Ukraina telah menerima Patriot dari persediaan Amerika dan Eropa sejak serangan Rusia tahun 2022. ”Invasi tersebut, dengan AS memasok sekitar 600 rudal pencegat selama masa pemerintahan Biden,” ujar Mark Cancian, pensiunan kolonel Marinir yang kini menjabat sebagai penasihat senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS).
Namun, penggunaan terbesar terjadi selama konflik dengan Iran, yang menghabiskan 65% dari stok rudal Patriot AS atau sekitar 1.500 dari total 2.330 rudal pencegat yang dimiliki negara itu, menurut data CSIS. “Sekitar 600 rudal, termasuk yang ditujukan untuk Eropa, dijadwalkan diproduksi tahun ini, dengan target produksi 2.000 rudal Patriot per tahun ditetapkan untuk tahun 2030,” kata Cancian.
NATO menyatakan bahwa fasilitas produksi rudal Patriot pertama di Eropa diperkirakan akan dibuka di Jerman pada bulan September, dengan pengiriman kemungkinan dimulai awal tahun depan. Pengiriman pertama akan ditujukan kepada negara-negara yang telah melakukan pemesanan, termasuk Jerman, Belanda, Rumania, dan Spanyol, ungkap pejabat pertahanan AS tersebut.
Namun untuk saat ini, hal itu berarti beberapa negara, seperti Jerman, telah membeli sistem Patriot yang mahal namun berada dalam situasi "konyol" karena tidak memiliki amunisi untuk ditembakkan dari sistem tersebut, kata Arnold dari lembaga pemikir yang berbasis di London.
Kementerian Pertahanan Jerman menyatakan tidak memberikan komentar mengenai stok persenjataan.
Moskow kemungkinan tidak mampu melancarkan serangan udara berkelanjutan terhadap target NATO di saat mereka terus melancarkan serangan hampir setiap malam ke Ukraina, ujar Arnold.
Serangan Ukraina baru-baru ini ke wilayah Rusia juga telah menyingkap kelemahan pertahanan udara Rusia, yang dapat membuat Putin berpikir dua kali untuk memicu serangan balasan.
"Kenyataan yang kurang mengenakkan adalah bahwa pertahanan udara terbaik yang kita miliki mungkin justru adalah keterbatasan yang dihadapi Rusia," pungkas Arnold.