Kepala Bakom RI Qodari. Foto: Istimewa
Bakom RI Ungkap Temuan 241 Ribu Kasus TBC
M. Iqbal Al Machmudi • 6 May 2026 16:18
Jakarta: Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari, mengungkapkan capaian program pengentasan Tuberkulosis (TBC) nasional. Program tersebut sudah dilakukan secara simultan hingga 3 Mei 2026.
Penemuan kasus sampai saat ini mencapai lebih dari 241 ribu kasus. Kemudian, inisiasi pengobatan 84% dari target 95% dan keberhasilan pengobatan 80% dari target 90%.
"Perlu kami sampaikan bahwa capaian penemuan kasus TBC masih memerlukan percepatan. Namun sekali lagi, pemerintah telah mengambil berbagai langkah konkrit yang berjalan secara simultan," kata Qodari dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.
Untuk mempercepat peningkatan capaian program TBC, pemerintah telah dan sedang melaksanakan berbagai langkah. Pertama, skrining TBC terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Penguatan kapasitas deteksi di Puskesmas. Puskesmas akan diperkuat dengan alat NPOCT (Near Point of Care Testing) dan pemeriksaan x-ray yang akan dimulai pada semester kedua tahun ini.
Selain itu, pemberdayaan komunitas melalui Desa Siaga TBC melibatkan sebanyak 6.484 desa/kelurahan di 117 kabupaten/kota pada 23 provinsi yang telah berkomitmen mencegah dan menanggulangi TBC secara mandiri.
"Kegiatannya meliputi screening, tracing, pendampingan pengobatan oleh kader, pemberian terapi pencegahan TBC, serta dukungan makanan bergizi. Pemerintah menargetkan pembentukan Desa Siaga TBC di 30% dari seluruh desa di Indonesia dari total 70.000-an desa," ungkap dia.
Program tracing TBC terintegrasi CKG dilaksanakan di 13 kabupaten/kota di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Program itu menyasar 5.500 kontak dari pasien TBC sepanjang April-Mei 2026. Dan akan diperluas ke nasional secara bertahap.
.jpg)
Kepala Bakom RI Qodari (kanan). Foto: Istimewa
Selain itu, Qodari menyebut pada tahun ini pemerintah menargetkan perbaikan 8.000 rumah pasien TBC. Terutama, di wilayah prioritas beban kasus tinggi.
"Rumah layak huni adalah garis pertahanan pertama melawan penularan TBC," ucapnya.
Meski begitu ia mengakui bahwa Indonesia masih menghadapi beban TBC yang signifikan.
"Kita adalah salah satu negara dengan kasus TBC terbesar di dunia. Namun pemerintah tidak tinggal diam, berbagai langkah percepatan strategis penanganan telah dijalankan secara simultan.," pungkasnya.