Ilustrasi. Foto: Freepik.
Laba Chandra Asri Melonjak 954% di Kuartal I-2026
Ade Hapsari Lestarini • 6 May 2026 19:38
Jakarta: PT Chandra Asri Pacific Tbk mencatat rekor EBITDA kuartalan sebesar USD421 juta dan laba bersih sebesar USD205 juta pada kuartal I-2026. Angka ini masing-masing mencerminkan lonjakan sebesar 1.813,6 persen dan 954 persen dibandingkan kuartal I-2025.
Pertumbuhan pesat ini didorong oleh integrasi segmen energi yang kini menjadi kontributor terbesar dengan porsi 60 persen dari total pendapatan. Di balik angka tersebut, pencapaian ini merupakan hasil dari transformasi disiplin melalui keberhasilan integrasi aset energi yang baru diakuisisi di Singapura.
Strategi Chandra Asri kini berpijak pada fondasi infrastruktur regional. Fokus utama terletak pada keberhasilan integrasi kilang Aster (sebelumnya Shell Energy & Chemicals Park) yang diakuisisi pada April 2025, serta jaringan bahan bakar ritel merek Esso di Singapura yang diakuisisi dari ExxonMobil pada Januari 2026.
"Kami bekerja keras untuk memastikan kelancaran dari proses penyelesaian transaksi yang kompleks bersama Shell, CPSC, dan ExxonMobil berjalan lancar," ungkap Chief Financial Officer Chandra Asri Grup, Andre Khor, dalam keterangan tertulis, Rabu, 6 Mei 2026.
Akuisisi ini, bersama dengan unit infrastruktur Grup, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDI), serta pusat layanan bersama yang baru beroperasi, Chandra Asri Sentral Solusi (CASS), kini memberikan pendapatan berulang (recurring income) dan efisiensi operasional yang diperlukan untuk menghadapi volatilitas pasar global.
Berbeda dengan pemain regional lainnya, Chandra Asri Group memanfaatkan kemitraan strategis dengan Glencore, salah satu pedagang komoditas global dan produsen sumber daya alam terdiversifikasi terkemuka dunia, untuk mendiversifikasi bahan baku (feedstock).
Strategi Chandra Asri
Di saat kompetitor seringkali terbatas oleh jalur pasokan tradisional, Grup menunjukkan ketangkasan dengan secara aktif mencari dan menguji minyak mentah (crude) dari Amerika Latin, Amerika Utara, Afrika Barat, dan Asia Tenggara.
"Gangguan geopolitik, terutama risiko eskalasi di Timur Tengah yang berdampak pada Selat Hormuz, secara historis menciptakan kecemasan dalam rantai pasok. Namun, kemampuan kami dalam perluasan jenis minyak mentah dan kemampuan pengadaan global memungkinkan perusahaan untuk melewati hambatan konvensional demi menjaga operasional tetap lancar terlepas dari volatilitas regional," ujar Andre Khor.
Ketangkasan operasional ini teruji pada Februari 2026, ketika perseroan berhasil menyelesaikan uji coba teknis yang meningkatkan kapasitas produksi pabrik Butene-1 dan MTBE di Cilegon hingga 25 persen.
Dengan mengolah minyak mentah dan produk intermediate yang kompetitif ini, Grup berhasil mempertahankan tingkat utilisasi yang tinggi dan hasil produk yang unggul, bahkan di tengah kondisi petrokimia global yang menantang.


Kemampuan Grup untuk mengeksekusi strategi M&A secara terprogram berasal dari posisi keuangan yang sangat kokoh. Manajemen berhasil menghimpun pendanaan pada waktu yang tepat, sehingga menghasilkan likuiditas sebesar USD3,8 miliar.
Hal ini memposisikan Grup untuk melanjutkan proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) senilai USD 800 juta bekerja sama dengan Indonesia Investment Authority (INA) dan Danantara, yang kini telah mencapai progres 60 persen dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Berdasarkan Laporan Keuangan Interim Konsolidasian Yang Tidak Diaudit kuartal I-2026, struktur modal perusahaan tercermin kuat berdasarkan data current ratio sebesar 3,09x, EBITDA coverage 4,01x, dan Long Term Debt to Equity sebesar 1,1x. Posisi ini memberikan bantalan fiskal yang kuat untuk menavigasi siklus pasar sambil terus mengejar ekspansi regional.
Cadangan ini juga mencakup pinjaman terkait keberlanjutan (sustainability-linked loan) senilai USD 1 miliar yang diperoleh pada September 2025, yang merupakan pinjaman perdana dari jenisnya dalam sektor ini untuk mendukung modal kerja dan inisiatif peremajaan aset Aster.
Memperkuat Posisi Regional
Di tengah kondisi industri petrokimia yang mengalami kelebihan pasokan, Chandra Asri meluncurkan penyegaran strategi yang terdiri dari empat pilar: Rejuvenate the Core (Peremajaan Inti Bisnis); Orient Towards Sustainability (Berorientasi pada Keberlanjutan); Accelerate M&A and Integration (Akselerasi M&A dan Integrasi); serta Reimagine Business Models (Reimajinasi Model Bisnis), yang disingkat menjadi ROAR. Strategi ini merupakan peta jalan perusahaan untuk bertransformasi menuju solusi energi, kimia, dan infrastruktur terintegrasi.
“Secara ringkas, perusahaan telah mentransformasi portofolio, memperkuat neraca keuangan secara paralel, dan memberikan rekor hasil kinerja pada Q1 2026. Kami memiliki rencana masa depan yang jelas dan dapat ditindaklanjuti untuk menghasilkan pertumbuhan berkelanjutan, dengan terus berfokus pada eksekusi serta pencapaian target guna meningkatkan skala platform kami secara konsisten,” tutup Andre Khor
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com