Zainul Masrobi, mantan santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Ath’fal sedang mengaduk kacang kedelai untuk diolah menjadi tempe. Foto: Metrotvnews.com/Yona Hukmana.
Produksi 100 Kg Sehari, Usaha Tempe Pesantren Raup Rp15 Juta
Siti Yona Hukmana • 24 September 2026 22:22
Indramayu: Tempesantren, pabrik tempe olahan Pondok Pesantren Tarbiyatul Ath’fal, Temiyangsari, Kroya, Indramayu sukses membangkitkan kemandirian ekonomi. Tempe yang diracik dan dijual oleh santri ini meraup keuntungan Rp15 juta per bulan.
Pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatul Ath’fal, KH. Amin Royani mengatakan pihaknya bisa memasok 100 kg tempe per hari. Salah satu pasokannya ke tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan warung-warung sekitar pesantren.
Penghasilan dari penjualan tempe per hari Rp2 juta-Rp2,5 juta. Namun, untung bersihnya Rp500 ribu. Bila dikalikan sebulan, untung yang didapatkan Rp15 juta.
"Rp500 per hari untung bersih," kata Amin saat ditemui di kawasan Tempesantren, yang berada di Pondok Pesantren Tarbiyatul Ath’fal, Temiyangsari, Indramayu, Kamis, 24 September 2026.
Baca Juga :
Pakar Ungkap Proyeksi Rupiah hingga Akhir 2026
Selain bisa menggaji guru, para santri yang bekerja di Tempesantren mendapatkan uang dari hasil jeripayahnya. Total ada lima santri yang bekerja per hari dengan upah Rp25 ribu dalam satu jam kerja.
"Selain dapat uang, santri juga bisa bawa tempe pulang," ungkap Amin.
Revitalisasi rumah produksi tempe
Kemandirian ekonomi ini tercipta atas dukungan yang diberikan PT Patra Drilling Contractor (PDC) melalui revitalisasi rumah produksi dalam program Tempesantren. Program yang menjadi bagian Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) PDC ini diimplementasikan melalui revitalisasi rumah produksi tempe, pelatihan teknis produksi tempe higienis, dan manajemen usaha.
Mulanya, pabrik tempe yang dikelola Pondok Pesantren Tarbiyatul Ath’fal sangat memprihatinkan. Bangunan tidak higienis, lantai beralaskan tanah, dan peralatan tidak memadai. Produksi tempe yang dihasilkan pun hanya 30 kg sehari.
Setelah sembilan tahun bertahan dengan kondisi seadanya, datang bantuan dari PT PDC untuk memperbaiki bangunan dan melengkapi peralatan pembuatan tempe dengan total dana bantuan Rp240 juta. Amin berharap bantuan terus diberikan demi pengembangan usaha dan meningkatkan ekonomi pesantren.
"Harapannya, kerja sama ini bisa terus dilanjutkan, jangan diputus. Kami sudah cukup lama bekerja sama. Dulu pernah diberikan laptop, kemudian kemarin diberikan modal, dan ini yang ketiga kalinya dengan modal yang lebih besar lagi," ungkap Amin.
Zainul Masrobi, salah seorang pekerja juga berharap PDC terus memberikan pendampingan. Santri yang sudah lulus dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi ini tetap mengabdi di pesantren untuk mengangkat perekonomian desa dan membiayai kuliahnya.
"Alhamdulillah dengan produksi tempe sampai 100 kg ini bisa bantu biaya kuliah," kata Zainul.

Dirut PT Patra Drilling Contractor (PDC) Hery Lesmana (tiga dari kiri) dan Corporate Secretary PDC Ani Aryani (dua dari kanan) bersama jajaran Pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatul Ath’fal KH. Amin Royani (jas hijau) foto bersama setelah meninjau rumah produksi Tempesantren. Foto: Metrotvnews.com/Yona Hukmana.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Patra Drilling Contractor Hery Lesmana, mengaku senang mendengar begitu banyak manfaat yang dirasakan dari program Tempesantren. Menurut dia, pemberian bantuan merupakan salah satu bagian dari tanggung jawab sosial PDC.
"Kami memang perlu melihat kira-kira apa yang bisa kami bantu. Kemudian disesuaikan dengan lini bisnis kami," ujar Hery.
Hery menyebut PDC punya unit bisnis yang salah satunya menggerakkan food & lodging services atau penyedia layanan katering, membutuhkan bahan baku makanan. PDC melihat di Temiyangsari ada pesantren yang punya tujuan mulia, yaitu membantu masyarakat, sekaligus memiliki pengolahan bisnis, membuat tempe santren.
Namun, pengolahannya masih tradisional. Sehingga, pemasarannya masih kurang luas. Sebab, kata Hery, untuk masuk ke pasar yang lebih luas, produk perlu lebih higienis dan memiliki standar dalam proses pembuatannya, baik dari ukuran, rasa, dan sebagainya. Dari situ lah PDC bergerak membantu, agar rumah produksi tempe pesantren itu berkembang lebih luas.
"Kami melihat ada kecocokan antara visi perusahaan dan unit bisnis kami dengan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan pesantren. Kami juga melihat leverage-nya besar karena pesantren ini bisa membantu masyarakat. Sehingga kami melakukan pendampingan di sini," ujar Hery.
Pendirian rumah produksi tempe ini dilakukan di Pondok Pesantren Tarbiyatul Ath’fal pada Rabu, 8 Juli 2025. Selain revitalisasi pabrik, PDC memberikan berbagai sarana dan prasarana produksi tempe, seperti bak perendam kacang kedelai, panci pengukus, mesin mixer, mesin spiner untuk mengeringkan kedelai, hingga plastik kemasan serta pembuatan sertifikasi halal.
Pendampingan dipastikan akan terus dilakukan sampai pabrik tempe itu berkembang pesat. Program Tempesantren sejalan dengan pencapaian sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), di antaranya SDGs poin 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, dan poin 10 tentang berkurangnya kesenjangan.