Pezeshkian: Iran Tak Ingin Perang, Tetap Siap Capai Kesepakatan dengan AS

Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Foto: The New York Times

Pezeshkian: Iran Tak Ingin Perang, Tetap Siap Capai Kesepakatan dengan AS

Muhammad Reyhansyah • 25 September 2026 12:05

Teheran: Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negaranya tidak menginginkan perang dengan Amerika Serikat (AS) dan tetap siap menempuh kesepakatan melalui negosiasi di tengah berlanjutnya ketegangan kedua negara. 

Dalam wawancara eksklusif dengan Fox News, Kamis, 24 September 2026, Pezeshkian ditanya apakah Iran memilih perang atau kesepakatan dengan AS.

“Kami tidak memilih perang. Perang dipaksakan kepada kami. Kami tidak menginginkan perang,” kata Pezeshkian, dikutip dari Anadolu.

Ia mengatakan Iran masih bersedia melanjutkan upaya mencapai kesepakatan dengan Washington. Pezeshkian merujuk pada nota kesepahaman Juni yang menetapkan kerangka menuju kesepakatan damai final dalam 60 hari, tetapi kemudian gagal akibat perbedaan mengenai pelayaran di Selat Hormuz.

“Kami memang mencapai kesepakatan dengan presiden Anda (Donald Trump). Berdasarkan hal itu, kami bersedia dan masih ingin melanjutkan,” ujarnya.

Menurut Pezeshkian, AS yang harus menentukan apakah ingin mengakhiri perang atau tidak.

Pezeshkian juga ditanya apakah Iran bersedia menyerahkan uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen.

Ia mengatakan Iran akan memenuhi kewajibannya berdasarkan hukum internasional dan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

“Ya. Dalam kerangka hukum internasional, berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi, apa pun yang seharusnya kami patuhi, akan kami patuhi,” kata Pezeshkian.

Hubungan dengan Houthi dan Hizbullah

Wawancara tersebut juga membahas hubungan Iran dengan kelompok-kelompok di kawasan, termasuk Hizbullah dan Houthi.

Ketika ditanya apakah Iran bersedia menghentikan persenjataan untuk Hizbullah dan Houthi sebagai bagian dari kesepakatan, serta meminta kelompok Houthi menghentikan serangan terhadap Arab Saudi, Pezeshkian mengatakan Houthi bertindak secara independen.

“Houthi bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Mereka tidak menerima arahan dari kami,” ujarnya.

Pezeshkian juga membantah bahwa Iran telah menutup Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang sebelum perang dilalui sekitar seperlima minyak dunia.

Baier juga menanyakan kondisi Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang belum terlihat di hadapan publik sejak menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan AS-Israel pada akhir Februari.

Pezeshkian mengatakan dirinya bertemu langsung dengan Mojtaba Khamenei hampir sebulan sebelumnya dan menghabiskan sekitar tujuh jam bersamanya.

Ketika ditanya apakah pemimpin tertinggi tersebut dalam kondisi sehat dan mampu menjalankan pemerintahan, Pezeshkian menjawab, “Sangat sehat, sepenuhnya.”

(Fajar Nugraha)