Menteri Kebudayaan Fadly Zon dalam sambutannya pada Jambore Yayasan Batik Jawa Barat di Hotel Golden Flower, Bandung, Sabtu, 24 Oktober 2026
Menbud Fadli Zon Dorong Pendidikan Batik Masuk Muatan Lokal Sekolah
Roni Kurniawan • 24 October 2026 16:08
Bandung: Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengapresiasi peluncuran buku ajar batik bagi siswa di Jawa Barat. Menurutnya, pendidikan batik melalui muatan lokal dapat memperkuat literasi budaya sekaligus menjaga keberlanjutan pengetahuan dan keterampilan membatik di kalangan generasi muda.
Fadli menilai pengenalan batik di lingkungan pendidikan perlu dilakukan secara berkesinambungan. Dengan demikian, siswa tidak hanya mengenal batik sebagai produk fesyen, tetapi juga memahami sejarah, filosofi, dan identitas budaya yang melekat pada setiap motifnya.
"Saya sangat mengapresiasi peluncuran buku ajar bagi siswa-siswi, khususnya di Jawa Barat. Buku tersebut dapat menjadi bagian dari muatan lokal di daerah-daerah yang memiliki tradisi pembatikan," kata Fadli dalam acara Jambore Yayasan Batik Jawa Barat sekaligus peluncuran Buku Ajar Batik di Hotel Golden Flower, Bandung, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Ia mengatakan, penguatan pendidikan batik membutuhkan kerja sama pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas pembatik, dan lembaga pendidikan. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk menjaga tradisi membatik sekaligus mendorong lahirnya generasi penerus yang mampu mengembangkan batik melalui inovasi.
"Kami memiliki sejumlah program yang dapat dikolaborasikan dengan pendidikan batik. Seperti Gerakan Seniman Masuk Sekolah dan Belajar Bersama Maestro yang memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan pelaku seni dan maestro dari berbagai bidang kebudayaan, termasuk pembatik," beber Fadli.
Melalui program tersebut, siswa diharapkan mendapatkan pengalaman belajar yang tidak terbatas pada teori. Mereka juga dapat mengenal teknik, mengasah keterampilan, dan memahami proses kreatif dalam menghasilkan karya batik secara langsung.
Fadli menegaskan, batik merupakan kekayaan budaya Indonesia yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2009. Pengakuan tersebut, menurutnya, perlu diiringi langkah konkret untuk melestarikan tradisi membatik dan memperkuat ekosistemnya di berbagai daerah.
"Jawa Barat memiliki tradisi batik dengan ciri khas yang tercermin melalui beragam motif, seperti Batik Megamendung, Batik Garut, dan Batik Priangan. Setiap motif memiliki latar belakang budaya yang menjadi identitas masyarakat daerah asalnya," tegas Fadli.
Selain memperkuat pelestarian budaya, pendidikan batik dinilai dapat mendukung pengembangan ekonomi budaya. Penguasaan pengetahuan tradisional dan keterampilan membatik membuka peluang bagi generasi muda untuk terlibat dalam regenerasi perajin serta pertumbuhan industri kreatif.

Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) Sendy Dede Yusuf saat Jambore Batik Jawa Barat 2026. Dokumentasi/ Instagram Sendy Yusuf.
"Kami juga memperluas dukungan terhadap komunitas kebudayaan melalui Dana Indonesiana yaitu dana abadi kebudayaan yang mendukung berbagai kegiatan pemajuan kebudayaan," tandas Fadli.
Fadli juga mendorong pengembangan batik sebagai salah satu penggerak ekonomi budaya dan industri kreatif Indonesia. Batik, menurutnya, tidak cukup hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi perlu dikembangkan agar menghasilkan nilai ekonomi dan memiliki daya saing di pasar internasional.
Ia menyebut batik berpotensi menggerakkan berbagai sektor, mulai dari industri fesyen hingga pariwisata dan ekonomi kreatif. Pengembangan potensi tersebut memerlukan sinergi pemerintah, komunitas pembatik, pelaku usaha, dan perancang busana.
"Budaya juga merupakan sumber ekonomi budaya. Ke depan, ekonomi budaya akan menjadi tren dan new engine of economic growth atau mesin baru pertumbuhan ekonomi,” kata Fadli Zon saat menghadiri Jambore Yayasan Batik Jawa Barat di Hotel Golden Flower, Bandung, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Fadli menekankan, pertumbuhan ekonomi budaya harus tetap sejalan dengan perlindungan dan pelestarian warisan budaya. Batik yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2009 memerlukan ekosistem berkelanjutan agar manfaat ekonominya dapat dirasakan oleh pelaku budaya dan masyarakat luas.
Menurutnya, keberagaman motif batik Indonesia menjadi modal untuk memperkuat posisi produk tersebut di pasar dunia. Jawa Barat memiliki sejumlah motif khas, antara lain Batik Megamendung, Batik Garut, dan Batik Priangan, yang mencerminkan sejarah serta identitas budaya masing-masing daerah.
"Kekhasan tersebut perlu diperkuat melalui inovasi, perlindungan karakteristik produk, serta pengembangan industri budaya dan kreatif atau cultural and creative industries," beber Fadli.
Pengembangan museum juga menjadi salah satu hal yang disoroti Fadli dalam upaya memperkuat ekosistem ekonomi budaya. Ia mencontohkan Museum Louvre di Prancis dan Grand Egyptian Museum di Mesir sebagai museum yang mampu menarik pengunjung serta mendorong aktivitas ekonomi, termasuk melalui tiket masuk, makanan, dan penjualan cendera mata.
Menurut Fadli, gagasan pendirian museum batik perlu dikembangkan tidak hanya sebagai tempat menyimpan dan melestarikan koleksi, tetapi juga sebagai destinasi wisata budaya yang dapat memberikan dampak ekonomi.
"Batik juga memiliki kekuatan dalam diplomasi budaya. Dalam sejumlah forum internasional dan popularitas batik Indonesia yang dikaitkan dengan Nelson Mandela, karena suka pakai kemeja bermotif batik dan dikenal sebagai Madiba shirt atau Mandela shirt," ungkap Fadlim
Ia berharap penggunaan batik semakin meluas melalui kolaborasi dengan perancang busana internasional. Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar batik sekaligus mendukung peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.
"Langkah ini diyakini dapat memperluas pasar produk batik sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia," tegas Fadli.