AS Siapkan Opsi Penggunaan Bom Non-Nuklir Terbesar untuk Serang Fasilitas Energi Iran

AS masih terus melakukan ancaman terhadap Iran. Foto: Anadolu

AS Siapkan Opsi Penggunaan Bom Non-Nuklir Terbesar untuk Serang Fasilitas Energi Iran

Muhammad Reyhansyah • 15 October 2026 18:03

Washington: Militer Amerika Serikat (AS) telah menyusun rencana serangan baru yang mencakup kemungkinan penggunaan bom terbesar non-nuklir dalam persenjataannya, Massive Ordnance Air Blast (MOAB), untuk menghantam infrastruktur energi dan fasilitas nuklir Iran.

CNN melaporkan pada Rabu, 14 Oktober 2026, mengutip sejumlah pejabat AS yang mengetahui rencana tersebut, bahwa opsi itu dapat digunakan jika Presiden Donald Trump memerintahkan dimulainya kembali operasi tempur terhadap Iran.

Penggunaan bom GBU-43/B MOAB akan menandai peningkatan signifikan dalam konflik tersebut. Namun, sejumlah pejabat mempertanyakan apakah senjata itu mampu mencapai sasaran militer yang diinginkan Washington.

“Trump telah mengarahkan militer untuk menyiapkan pilihan serangan tambahan terhadap sasaran di Iran, termasuk infrastruktur energi dan fasilitas yang berkaitan dengan program nuklir negara tersebut,” sebut laporan CNN, dikutip dari Anadolu, Kamis, 15 Oktober 2026.

Rencana itu berpotensi dijalankan sebelum atau setelah pemilu paruh waktu AS mendatang, bergantung pada keputusan Trump untuk kembali melancarkan operasi tempur berskala besar.

Salah satu sumber yang mengetahui perencanaan militer mengatakan kepada CNN bahwa serangan tambahan dapat dilakukan sebelum militer AS menarik pasukannya dari wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (CENTCOM).

Langkah tersebut berpotensi memungkinkan pemerintahan Trump melancarkan serangan lebih lanjut sebelum menyatakan kemenangan dan menarik pasukan.
Sumber lain mengatakan rencana serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, termasuk fasilitas bawah tanah yang dicurigai berada di Pickaxe Mountain, secara eksplisit mencakup kemungkinan pengerahan MOAB.


Trump berulang kali mengancam akan menyerang Pickaxe Mountain. Washington dan Israel meyakini Iran menyimpan komponen program nuklirnya di lokasi tersebut.

Trump juga berulang kali menegaskan bahwa mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir merupakan salah satu tujuan utama kampanye militer AS.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada CNN bahwa perencana militer secara rutin menyiapkan beragam opsi bagi pengambil kebijakan, mulai dari operasi dengan intensitas lebih rendah hingga serangan yang lebih kuat terhadap sasaran dengan perlindungan berat.


Efektivitas Bom Masih Diragukan

MOAB merupakan bom berpemandu GPS yang mampu menghancurkan area permukaan luas, setara sekitar sembilan blok kota. Namun, senjata tersebut tidak dirancang untuk menembus jauh ke bawah tanah.

Sumber-sumber yang dikutip CNN mengatakan MOAB kemungkinan akan kesulitan menghancurkan fasilitas yang dilindungi lapisan granit tebal dan struktur pertahanan lainnya.

"MOAB adalah senjata untuk operasi penghancuran area luas yang lebih banyak memberikan efek demonstratif, tetapi tidak banyak berguna untuk hal lain," kata seorang sumber yang mengetahui pembahasan perencanaan militer kepada CNN.

Pernyataan tersebut merujuk pada keterbatasan MOAB untuk menghancurkan fasilitas yang terkubur jauh di bawah tanah.

Jika digunakan, bom itu dapat menimbulkan kehancuran besar di titik jatuhnya. Radius ledakannya juga memunculkan kekhawatiran serius mengenai korban sipil, terutama jika serangan diarahkan ke infrastruktur energi di dekat kawasan berpenduduk atau fasilitas sipil lainnya.

Efek Psikologis Jadi Pertimbangan

Meski memiliki keterbatasan terhadap sasaran bawah tanah, pejabat AS dilaporkan turut mempertimbangkan dampak psikologis penggunaan MOAB sebagai bagian dari opsi militer pemerintahan Trump.

Salah satu sumber mengatakan kepada CNN bahwa presiden dapat menghadapi tekanan untuk mengambil tindakan lanjutan terhadap Iran, meskipun belum jelas apakah serangan tambahan akan membuat Teheran menerima tuntutan Washington.

Sumber tersebut menilai MOAB berpotensi digunakan sebagai alat tekanan psikologis, terutama karena keterbatasan amunisi yang tersedia untuk menghancurkan sasaran yang terkubur jauh di bawah tanah.

(Fajar Nugraha)