Hujan Meteor. Ilustrasi Medcom.id
Daftar Fenomena Langit November 2026, Ada Hujan Meteor hingga Supermoon
Putri Purnama Sari • 15 October 2026 18:08
Jakarta: Sejumlah fenomena langit akan menghiasi langit sepanjang November 2026. Fenomena tersebut meliputi hujan meteor Taurid dan Leonids, elongasi terbesar Merkurius, supermoon, hingga oposisi Uranus.
Dilansir dari SeaSky, sejumlah fenomena tersebut dapat diamati pada waktu tertentu, terutama setelah tengah malam atau menjelang Matahari terbit. Agar pengamatan lebih optimal, masyarakat disarankan memilih lokasi yang minim polusi cahaya dan memiliki pandangan langit yang tidak terhalang.
Daftar Fenomena Langit Sepanjang November 2026
Berikut daftar fenomena langit yang dapat diamati sepanjang November 2026:1. Hujan Meteor Taurid – 4–5 November
Hujan Meteor Taurid menjadi salah satu fenomena langit yang menghiasi awal November. Puncaknya diperkirakan terjadi pada malam 4 November hingga dini hari 5 November 2026.
Taurid termasuk hujan meteor dengan intensitas relatif rendah, tetapi berlangsung dalam periode yang cukup panjang. Saat mencapai puncak, fenomena ini biasanya menghasilkan sekitar 5–10 meteor per jam.
Hujan meteor Taurid terdiri atas dua aliran, yakni Taurid Utara dan Taurid Selatan. Keduanya berkaitan dengan material yang ditinggalkan benda langit berbeda. Taurid Utara dikaitkan dengan asteroid 2004 TG10, sedangkan Taurid Selatan berasal dari puing-puing Komet 2P/Encke.
Fenomena ini berlangsung setiap tahun sekitar 7 September hingga 10 Desember. Pada 2026, kondisi Bulan yang semakin menyusut diperkirakan tidak terlalu mengganggu pengamatan.
Waktu terbaik untuk menyaksikan Taurid adalah setelah tengah malam dari lokasi yang gelap dan jauh dari lampu kota. Meteor akan tampak seolah-olah berasal dari arah konstelasi Taurus, tetapi dapat melintas di berbagai bagian langit.
2. Hujan Meteor Leonids – 17–18 November

Ilustrasi Pexels
Pertengahan November akan dihiasi Hujan Meteor Leonids yang diperkirakan mencapai puncak pada malam 17 November hingga dini hari 18 November 2026.
Leonids merupakan hujan meteor dengan intensitas sedang yang dapat menghasilkan sekitar 15–25 meteor per jam dalam kondisi pengamatan ideal.
Hujan meteor ini berasal dari partikel debu yang ditinggalkan Komet 55P/Tempel-Tuttle. Leonids juga dikenal memiliki potensi menghasilkan badai meteor setiap sekitar 33 tahun, ketika jumlah meteor yang terlihat meningkat tajam. Salah satu puncak besar terakhir terjadi pada 2001.
Pada November 2026, kondisi Bulan diperkirakan cukup mendukung pengamatan. Cahaya Bulan sabit yang membesar berpotensi mengganggu pengamatan meteor yang redup pada awal malam. Namun, Bulan diperkirakan terbenam tidak lama setelah tengah malam sehingga langit menjadi lebih gelap pada dini hari.
Untuk mendapatkan hasil pengamatan yang lebih baik, pilih lokasi minim polusi cahaya dan biarkan mata beradaptasi dengan kegelapan. Leonids tampak seolah-olah memancar dari arah konstelasi Leo, tetapi meteor dapat terlihat di berbagai bagian langit.
3. Elongasi Barat Terbesar Merkurius – 20 November
Merkurius akan mencapai elongasi barat terbesar pada 20 November 2026. Pada saat itu, jarak sudut Merkurius dari Matahari diperkirakan mencapai sekitar 29,6 derajat.
Elongasi merupakan jarak sudut antara sebuah planet dan Matahari jika dilihat dari Bumi. Ketika mencapai elongasi barat terbesar, Merkurius berada di langit pagi dan memiliki kesempatan pengamatan yang relatif baik dibandingkan waktu-waktu lainnya.
Merkurius dapat dicari di arah timur menjelang Matahari terbit. Namun, karena planet ini berada relatif dekat dengan Matahari dan hanya terlihat dalam waktu terbatas, pengamatan perlu dilakukan sebelum Matahari terbit.
Pilih lokasi dengan pandangan ke arah timur yang tidak terhalang bangunan atau pepohonan. Hindari melihat langsung ke arah Matahari, terutama setelah Matahari mulai terbit.
4. Supermoon – 24 November
Supermoon berikutnya diperkirakan terjadi pada 24 November 2026. Fenomena ini berlangsung ketika Bulan purnama terjadi saat Bulan berada dekat dengan titik terdekatnya dari Bumi, yang disebut perigee.
Fase purnama diperkirakan terjadi pada pukul 14.55 UTC atau 21.55 WIB pada 24 November 2026. Pada kondisi ini, Bulan dapat tampak sedikit lebih besar dan lebih terang dibandingkan purnama ketika berada lebih jauh dari Bumi.
Supermoon November menjadi supermoon kedua dari tiga supermoon yang diperkirakan terjadi sepanjang 2026.
Bulan purnama November juga dikenal dengan sebutan Beaver Moon atau Bulan Berang-berang. Nama tersebut berasal dari tradisi masyarakat di Amerika Utara yang mengaitkan periode ini dengan waktu memasang perangkap berang-berang sebelum musim dingin tiba.
Masyarakat dapat menikmati pemandangan Bulan purnama dengan mata telanjang. Pengamatan akan lebih nyaman dari lokasi yang memiliki pandangan langit luas dan minim polusi cahaya. 5. Oposisi Uranus – 25 November
Sehari setelah supermoon, Uranus diperkirakan mencapai oposisi pada 25 November 2026. Oposisi terjadi ketika sebuah planet berada berseberangan dengan Matahari jika dilihat dari Bumi.
Saat mencapai oposisi, Uranus berada pada posisi yang relatif menguntungkan untuk diamati karena berada di langit sepanjang malam, terbit saat Matahari terbenam, dan terbenam ketika Matahari terbit.
Uranus dikenal sebagai planet berwarna biru kehijauan. Namun, kecerlangannya relatif rendah sehingga planet ini sulit dikenali dengan mata telanjang, terutama jika langit tidak benar-benar gelap.
Pengamatan menggunakan teropong atau teleskop akan membantu memperjelas posisi Uranus. Pilih lokasi yang jauh dari polusi cahaya agar planet tersebut lebih mudah ditemukan.
Berbagai fenomena langit pada November 2026 menawarkan kesempatan bagi masyarakat untuk mengamati objek-objek astronomi. Dengan memilih waktu dan lokasi yang tepat, pengamatan dapat dilakukan lebih optimal, baik dengan mata telanjang maupun menggunakan alat bantu optik.
(Siti Nahdia Usman)