Direktur Poltekpel Malahayati Minta Maaf atas Meninggalnya Muhammad Rasya Fadhillah

Direktur Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati, Andi Fiardi. Foto: Metrotvnews.com/Fajri Fatmawati

Direktur Poltekpel Malahayati Minta Maaf atas Meninggalnya Muhammad Rasya Fadhillah

Fajri Fatmawati • 30 September 2026 13:29

Banda Aceh: Direktur Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati, Andi Fiardi, menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga Muhammad Rasya Fadhillah, calon taruna yang meninggal dunia saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Zainoel Abidin, Banda Aceh.

Andi turut menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Fadhillah. Ia menyampaikan duka mendalam sekaligus permohonan maaf kepada keluarga atas musibah yang menimpa calon taruna tersebut.

“Atas nama pribadi dan seluruh keluarga besar Poltekpel Malahayati, kami menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya kepada keluarga atas musibah dan kehilangan ini,” kata Andi dalam konferensi pers di Poltekpel Malahayati, Rabu, 30 September 2026.

Andi menjelaskan pihak Poltekpel Malahayati telah memberikan penanganan dan pertolongan sejak Fadhillah mengalami sakit. Upaya medis dan penanganan tersebut dilakukan secara maksimal, tetapi kondisi calon taruna itu tidak dapat diselamatkan.

“Kami dan seluruh jajaran Poltekpel Malahayati telah berupaya memberikan penanganan dan pertolongan secara maksimal sejak ananda mengalami sakit. Namun, dengan segala upaya yang telah dilakukan, kami belum berhasil menyelamatkan ananda Fadhillah,” ujarnya.
 


Selain memberikan penanganan ketika Fadhillah mengalami sakit, pihak Poltekpel Malahayati turut mengurus proses pemulangan jenazah setelah calon taruna tersebut meninggal dunia.

Andi mengatakan pihaknya mendampingi proses pengurusan jenazah sejak berada di rumah sakit hingga diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. Pendampingan dilakukan sesuai prosedur yang berlaku di lingkungan Poltekpel Malahayati.

"Meski masih berstatus calon taruna, Fadhillah telah dianggap sebagai bagian dari keluarga besar Poltekpel Malahayati. Karena itu, kami akan memberikan pendampingan hingga proses pemakaman di daerah asal Fadhillah, Lhokseumawe," jelas Andy.

Poltekpel Malahayati menyatakan pendampingan terhadap keluarga akan dilakukan hingga proses pemakaman Fadhillah di daerah asalnya, Lhokseumawe.


Ilustrasi penganiayaan (ANTARA/HO-IST)


Muhammad Rasya Fadilla, mahasiswa Program Diploma III (D-III) Studi Nautika asal Lhokseumawe, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh pada Minggu, 27 September 2026.

Sebelum meninggal dunia, Rasya sempat mengalami demam tinggi dan nyeri tenggorokan. Kondisinya kemudian disertai ruam kemerahan di sejumlah bagian tubuh. Ia sebelumnya mendapat perawatan di klinik kampus sebelum dirujuk ke RSUDZA karena kondisinya memburuk.

Polresta Banda Aceh masih menyelidiki penyebab kematian Rasya. Polisi juga menelusuri informasi mengenai adanya memar pada tubuh korban yang disampaikan pihak keluarga.

Kasatreskrim Polresta Banda Aceh Kompol Miftahuda Dizha Fezuono mengatakan polisi berkoordinasi dengan dokter forensik serta melakukan pemeriksaan visum dan CT scan untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban. Pihak kampus dan sejumlah saksi juga akan dimintai keterangan terkait kondisi Rasya selama menjalani masa orientasi.

Hingga proses pemeriksaan selesai, penyebab pasti kematian Rasya masih dalam penyelidikan kepolisian. Informasi mengenai dugaan perundungan dan kekerasan juga masih perlu dibuktikan melalui proses penyelidikan serta pemeriksaan medis dan forensik.

(Whisnu M)