Paus Leo XIV saat berada di Vatikan. (Vatican News)
Paus Leo XIV Labeli Metode Suntik Mati sebagai 'Belas Kasih Palsu'
Willy Haryono • 28 September 2026 12:26
Lourdes: Paus Leo XIV mengecam legalisasi kematian yang dibantu secara medis (medically assisted death) seperti metode suntik mati sebagai bentuk “belas kasih palsu” yang tak bermoral.
Ia kembali menegaskan ajaran Katolik tentang kesucian hidup saat mengunjungi Lourdes, Prancis, pada Minggu, 27 September 2026.
Pada hari ketiga kunjungannya ke Prancis, Leo kembali menyoroti perdebatan mengenai akhir kehidupan yang berlangsung di Amerika Serikat dan sejumlah negara lain.
Isu tersebut telah menjadi perdebatan politik selama bertahun-tahun di Prancis sebelum parlemen baru-baru ini menyetujui undang-undang yang memungkinkan orang dewasa dengan penyakit yang tidak dapat disembuhkan memperoleh obat mematikan.
Leo juga bertemu dengan tujuh penyintas pelecehan seksual oleh klerus pada Minggu. Pertemuan dengan penyintas pelecehan seksual telah menjadi agenda rutin paus dalam kunjungan ke luar negeri, sebagai bagian dari upaya Gereja Katolik menebus kegagalan melindungi anak-anak dan kelompok paling rentan dari pelaku pelecehan seksual.
“Itu luar biasa,” kata penyintas Jean-Marie Delbos, yang kemudian bergabung dengan empat penyintas lainnya dalam konferensi pers. Mereka memuji pertemuan tersebut dan mengatakan Leo mendengarkan serta mengetahui kasus mereka.
“Saya tidak pernah berpikir akan berhadapan langsung dengan seorang paus,” kata Delbos, dikutip dari Independent, Senin, 28 September 2026.
Misa di Paris
Kunjungan Leo ke Prancis yang secara resmi berhaluan sekuler tersebut diwarnai kehadiran massa dalam jumlah besar. Sebanyak 800.000 orang menghadiri misa Leo di Place de la Concorde, Paris.Leo juga menyampaikan pesan mengenai penolakannya terhadap aborsi dan assisted dying.
Majelis Nasional Prancis pada 2024 memasukkan hak aborsi ke dalam konstitusi dan baru-baru ini memberikan persetujuan akhir terhadap undang-undang mengenai akhir kehidupan.
Pada Minggu, Paus asal Amerika Serikat itu memimpin misa di hadapan sekitar 150.000 orang di padang rumput di samping basilika utama Lourdes. Banyak di antara mereka menggunakan kursi roda.
Setelah misa, Leo mengunjungi pusat perawatan bagi orang sakit di kompleks tempat ziarah tersebut. Ia berupaya memberikan dorongan kepada mereka yang hidup dalam “rasa sakit yang mengerikan," dengan menegaskan bahwa mereka memiliki martabat yang melekat dan tidak dapat “dihilangkan” oleh hukum maupun algoritma.
“Sebaliknya, justru atas nama martabat manusia yang tidak dapat dicabut inilah kita harus menolak godaan untuk menyebabkan kematian dengan kedok belas kasih palsu,” kata Leo.
“Apa yang legal belum tentu bermoral,” ujar Leo yang disambut tepuk tangan.
Ajaran Katolik menyatakan bahwa seluruh kehidupan manusia harus dilindungi dan dipertahankan sejak konsepsi hingga kematian alami. Pandangan tersebut menjadi dasar penolakan Gereja Katolik terhadap aborsi, eutanasia, dan kematian yang dibantu secara medis.
Leo sebelumnya secara khusus mengkritik undang-undang medical aid in dying yang mulai berlaku pada 12 September di negara bagian asalnya, Illinois. Illinois menjadi negara bagian ke-13 di AS yang memiliki undang-undang semacam itu.
Lourdes menjadi tujuan ziarah utama setelah Gereja Katolik secara resmi mengakui penampakan Perawan Maria yang dilaporkan seorang gadis muda pada 1858.
Lokasi yang berada di dekat perbatasan dengan Spanyol itu menarik jutaan peziarah setiap tahun, terutama umat yang sakit dan penyandang disabilitas yang berharap memperoleh kesembuhan dari air mata air yang terkenal di gua Lourdes, tempat penampakan tersebut diyakini terjadi.
Di Lourdes, Gereja Katolik telah mengakui 72 kesembuhan sebagai “mukjizat” yang autentik. Karena itu, persoalan mengenai penghormatan terhadap mereka yang rapuh, sakit, dan rentan menjadi perhatian khusus di tempat tersebut.
Baca juga: Paus Leo XIV Desak Uskup Prancis Terus Perangi 'Wabah' Pelecehan Seksual