Protes pelajar di Prancis yang berujung rusuh. Foto: Anadolu
Demo Pelajar Prancis Ricuh, Macron Lakukan Rapat Darurat
Fajar Nugraha • 7 October 2026 12:05
Paris: Demonstrasi besar-besaran pelajar di Prancis terkait kondisi sekolah yang buruk berujung kekerasan pada Selasa 6 Oktober. Aksi tersebut menyebabkan hampir 500 orang ditangkap dan mendorong Presiden Prancis Emmanuel Macron menggelar rapat darurat
Mengutip Channel News Asia, protes tersebut dimulai pada akhir September ketika para pelajar memblokir pintu masuk ratusan sekolah menengah atas untuk siswa berusia 15 hingga 17 tahun. Mereka memprotes kondisi fasilitas sekolah yang rusak serta kekurangan guru.
Di Prancis, orang tua, guru, dan pekerja serikat pekerja turut bergabung dalam aksi pelajar sekolah menengah atas di Ibu Kota Paris dan sejumlah kota lainnya.
Kementerian Dalam Negeri Prancis mengatakan 256.000 orang mengikuti aksi protes di seluruh negeri, sementara penyelenggara dari serikat pekerja memperkirakan jumlah peserta mencapai 450.000 orang.
Macron diperkirakan bertemu sejumlah pejabat tinggi pada Selasa malam, termasuk Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez dan Menteri Pendidikan Edouard Geffray, untuk merespons kerusuhan tersebut, menurut seorang sumber pemerintah.
Sedikitnya 488 orang ditangkap dan 43 anggota pasukan keamanan terluka dalam aksi pada Selasa, kata Kementerian Dalam Negeri Prancis.
Diwarnai Tuduhan Kekerasan Aparat
Kelompok hak asasi manusia, serikat pekerja, dan para pelajar menuduh aparat menggunakan kekuatan secara berlebihan dalam menangani aksi protes tersebut.Seorang remaja kehilangan satu tangannya pada Senin setelah polisi menembakkan granat kejut. Seorang pelajar berusia 14 tahun di barat laut Paris juga terkena granat gas air mata di wajah dari jarak sangat dekat hingga kehilangan beberapa gigi. Seorang polisi telah didakwa pada Selasa terkait insiden tersebut.
“Generasi Z telah bangkit dan ingin didengar,” tegas Lilia, 19 tahun, saat mengikuti aksi besar-besaran di pusat Kota Paris. Ia mengatakan berharap Macron mendengarkan tuntutan mereka.
Di Place de la République, Paris, para demonstran berkumpul di bawah spanduk yang menuntut peningkatan pendanaan untuk sekolah. Salah satu spanduk bertuliskan, “Sekolah yang diabaikan, generasi muda yang dikorbankan.”
Kecam Kekerasan dalam Aksi Protes Pelajar
Meski banyak aksi berlangsung damai, sejumlah demonstran mulai membakar benda, merusak halte bus, atau bentrok dengan polisi antihuru-hara.Polisi merespons dengan menggunakan tongkat, gas air mata, dan peluru pengendali massa.
Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu mengecam kekerasan yang terkait dengan aksi protes tersebut. Kepada anggota parlemen, ia mengatakan kekerasan tidak akan ditoleransi.
“Membakar sekolah menengah tidak akan memperbaiki kondisi bangunan sekolah menengah,” ucap Lecornu di hadapan parlemen. Ia membantah tuduhan bahwa pemerintah memerintahkan “represi polisi” terhadap para demonstran.
Ia juga mengatakan sekolah menengah di seluruh Prancis akan ditutup selama setengah hari antara Rabu dan Jumat untuk memungkinkan “demokrasi internal” berlangsung di sekolah-sekolah tersebut.
(Razaqa Hariz)