Kampung adat Prai Ijing, Kabupaten Sumba Barat, Foto: Metrotvnews.com/Zein Zahiratul Fauziyyah
Menyusuri Prai Ijing, Kampung Adat yang Menjaga Wajah Tradisional Sumba
Zein Zahiratul Fauziyyah • 3 November 2026 16:17
Sumba Barat: Indonesia memiliki kekayaan budaya yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Di wilayah timur Indonesia, salah satu kekayaan itu dapat ditemukan di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pulau ini dikenal dengan rumah adat beratap menjulang, kubur batu megalitik, hingga tradisi leluhur yang masih melekat dalam kehidupan masyarakatnya.
Salah satu tempat yang memperlihatkan kekayaan budaya tersebut adalah Kampung Adat Prai Ijing di Kabupaten Sumba Barat. Saat memasuki kawasan kampung, pengunjung disambut deretan rumah tradisional dengan atap tinggi menyerupai menara. Bentuk bangunannya terlihat khas dan menjadi pemandangan yang sulit dilewatkan.
Di tengah perkembangan zaman, masyarakat Prai Ijing masih mempertahankan rumah adat yang menjadi bagian dari identitas budaya Sumba. Tidak hanya itu, kampung ini juga menyimpan peninggalan megalitik dan tradisi yang berkaitan erat dengan kepercayaan masyarakat setempat.
Kampung Adat Prai Ijing berada di Desa Tebara, Kecamatan Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat. Berada di kawasan perbukitan, rumah-rumah adat di kampung ini tersusun mengelilingi jalan utama. Letaknya yang berada di ketinggian juga memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan perbukitan dan wilayah Waikabubak dari kejauhan.
Prai Ijing pun menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang menarik untuk dikunjungi ketika berada di Pulau Sumba. Ada banyak hal yang bisa dikenali dari kampung ini, mulai dari arsitektur rumah adat hingga jejak tradisi leluhur yang masih dijaga masyarakatnya.
Fakta Menarik Kampung Adat Prai Ijing
Mengenal Rumah Adat Sumba di Prai Ijing

Rumah Adat Sumba di kampung Prai Ijing, Kabupaten Sumba Barat, Foto: Metrotvnews.com/Zein Zahiratul Fauziyyah
Hal pertama yang mencuri perhatian ketika menyusuri Kampung Adat Prai Ijing adalah bentuk rumah tradisionalnya. Rumah-rumah tersebut memiliki atap tinggi dan runcing yang membuatnya tampak menjulang seperti menara.
Dalam kebudayaan Sumba, rumah tradisional ini dikenal dengan sebutan Uma Bokulu yang berarti rumah besar dan Uma Mbatangu yang berarti rumah menara. Bangunannya berbentuk rumah panggung dengan bagian atap yang umumnya menggunakan alang-alang. Material tersebut disusun sedemikian rupa hingga membentuk kerucut dengan ujung yang meruncing.
Namun, keunikan rumah adat Sumba bukan hanya terletak pada bentuk atapnya. Bagian dalam rumah juga memiliki pembagian ruang dengan fungsi yang berbeda-beda. Secara umum, rumah adat ini terdiri atas tiga tingkatan.
Bagian paling bawah digunakan sebagai tempat memelihara hewan ternak. Naik ke bagian tengah, terdapat ruang utama tempat penghuni melakukan berbagai aktivitas sehari-hari, termasuk memasak dan menerima tamu.
Sementara itu, bagian paling atas atau menara digunakan untuk menyimpan bahan makanan serta benda-benda yang memiliki nilai budaya bagi keluarga.
Dapat dikatakan, pembagian tersebut sebenarnya bukan sekadar tempat untuk berteduh dan beristirahat. Setiap bagian memiliki fungsi yang berkaitan dengan kebutuhan hidup sekaligus nilai-nilai budaya masyarakatnya.
Kubur Batu Megalitik, Jejak Penghormatan kepada Leluhur

Kubur Batu Megalitik di kampung Prai Ijing, Kabupaten Sumba Barat, Foto: Metrotvnews.com/Zein Zahiratul Fauziyyah
Selain rumah adat, pemandangan lain yang dapat ditemukan di Kampung Prai Ijing adalah kubur batu megalitik. Batu-batu berukuran besar ini menjadi salah satu peninggalan budaya yang cukup lekat dengan kehidupan masyarakat Sumba.
Keberadaan kubur batu tersebut tidak dapat dipisahkan dari tradisi dan kepercayaan Marapu. Dalam kebudayaan masyarakat Sumba, penghormatan kepada leluhur menjadi bagian penting yang diwariskan secara turun-temurun.
Kubur batu megalitik juga memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan perjalanan manusia setelah meninggal dunia. Dalam penjelasan pengelola Desa Wisata Tebara melalui laman Jadesta Kementerian Pariwisata, bentuk kubur batu tersebut dimaknai seperti perahu yang mengantarkan jiwa menuju dunia arwah.
Dengan begitu, kubur batu di Prai Ijing bukan hanya peninggalan dari masa lalu. Keberadaannya juga menggambarkan bagaimana masyarakat Sumba memandang kehidupan, kematian, dan hubungan manusia dengan leluhurnya.
Tradisi Marapu dan Penyembelihan Kerbau serta Babi

Tengkorak Kerbau untuk tradisi Marapu di kampung Prai Ijing, Kabupaten Sumba Barat, Foto: Metrotvnews.com/Zein Zahiratul Fauziyyah
Kekayaan budaya Sumba juga dapat dilihat melalui berbagai upacara adat yang berkaitan dengan kepercayaan Marapu. Salah satunya adalah upacara kematian yang dalam rangkaian ritualnya dapat melibatkan penyembelihan hewan, seperti kerbau dan babi.
Bagi masyarakat yang menjalankan tradisi Marapu, upacara kematian bukan sekadar prosesi pemakaman. Ritual tersebut juga menjadi bentuk penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal sekaligus bagian dari hubungan spiritual dengan leluhur.
Dalam rangkaian upacara itu, kerabat dan keluarga besar biasanya turut hadir membawa persembahan. Salah satu tradisi yang dikenal adalah Kedde, yakni pemberian hewan atau barang adat dari kerabat kepada keluarga yang sedang berduka.
Kerbau dan babi yang dipersembahkan kemudian digunakan dalam rangkaian ritual adat. Hewan tersebut memiliki makna tersendiri sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang meninggal dan bagian dari tradisi yang menghubungkan kehidupan manusia dengan leluhur.
Upacara ini juga memperlihatkan kuatnya hubungan kekerabatan masyarakat Sumba. Keluarga besar dan kerabat dari berbagai tempat berkumpul untuk memberikan dukungan kepada keluarga yang sedang berduka.
Meski begitu, bentuk dan tahapan upacara adat dapat berbeda antara satu wilayah, kelompok adat, dan keluarga di Sumba. Tradisi tersebut juga tidak serta-merta menggambarkan seluruh aktivitas masyarakat di setiap kampung adat.
Tradisi Menenun yang Masih Dijalankan
.jpeg)
Seorang ibu yang sedang menenun di kampung Prai Ijing, Kabupaten Sumba Barat, Foto: Metrotvnews.com/Zein Zahiratul Fauziyyah
Selain bangunan dan peninggalan leluhur, kekayaan budaya Sumba juga dapat dikenali melalui kain tenunnya. Di Kampung Adat Prai Ijing, aktivitas menenun menjadi salah satu kegiatan masyarakat yang dapat dijumpai.
Kain tenun Sumba memiliki beragam motif yang tidak hanya memperlihatkan keindahan visual, tetapi juga berkaitan dengan identitas dan nilai budaya masyarakat setempat. Proses pembuatannya dilakukan secara tradisional menggunakan alat tenun dan membutuhkan ketelitian serta waktu.
Setiap tahapan pengerjaan menjadi bagian dari keterampilan yang diwariskan antargenerasi. Karena itu, tradisi menenun tidak hanya menghasilkan kain, tetapi juga menjadi salah satu cara masyarakat menjaga warisan budaya mereka.
Kampung Adat Prai Ijing sebagai Destinasi Wisata Budaya

Landmark kampung Prai Ijing, Kabupaten Sumba Barat, Foto: Metrotvnews.com/Zein Zahiratul Fauziyyah
Dengan rumah adat yang khas, peninggalan megalitik, serta tradisi masyarakatnya, Kampung Adat Prai Ijing menjadi salah satu tempat untuk mengenal lebih dekat kebudayaan Pulau Sumba.
Daya tarik tersebut juga mendapat perhatian dalam pengembangan pariwisata. Kementerian Pariwisata mencatat Desa Wisata Kampung Prai Ijing atau Tebara sebagai salah satu desa wisata yang masuk dalam 75 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).
Jika berkesempatan berkunjung ke Sumba Barat, Kampung Adat Prai Ijing bisa menjadi salah satu destinasi yang patut masuk dalam daftar perjalanan. Di sini, pengunjung dapat menyusuri kawasan kampung, melihat langsung rumah-rumah adat dengan atap menjulang, mengenal peninggalan kubur batu, hingga menyaksikan aktivitas menenun kain khas Sumba.
Selain menikmati keindahan suasananya, berkunjung ke Prai Ijing juga bisa menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat budaya dan tradisi masyarakat Sumba. Jadi, tertarik untuk memasukkan Kampung Adat Prai Ijing ke dalam daftar destinasi liburanmu berikutnya?