Korea Utara Uji Sistem Rudal Pertahanan Udara Canggih Terbaru

Korea Utara gencar lakukan uji coba rudal. Foto: KCNA

Korea Utara Uji Sistem Rudal Pertahanan Udara Canggih Terbaru

Muhammad Reyhansyah • 5 November 2026 17:48

Pyongyang: Korea Utara (Korut) mengumumkan telah menguji sistem rudal pertahanan udara canggih yang baru dirancang. 

Pengujian tersebut berlangsung pada Rabu, 4 November 2026, di tengah meningkatnya aktivitas militer Pyongyang dan ketegangan di Semenanjung Korea.

Kantor Berita Pusat Korea, KCNA, melaporkan pada Kamis, 5 November 2026, uji coba tersebut dipimpin Jenderal Kim Jong Sik, anggota Komisi Militer Pusat Korea Utara. Pengujian dilakukan untuk memastikan spesifikasi teknis sistem rudal pertahanan udara tersebut.

KCNA menyebut pengujian membuktikan kemampuan teknis dan keandalan sistem pemandu ganda cerdas yang baru dikembangkan, termasuk kemampuan mengidentifikasi serta melacak sasaran dan memproses informasi deteksi.

Pengumuman tersebut disampaikan sehari setelah Korea Selatan melaporkan Pyongyang meluncurkan sejumlah rudal.

Selain menguji sistem pertahanan udara, unit rudal jelajah strategis jarak jauh militer Korea Utara juga menggelar demonstrasi latihan penembakan pada Rabu. KCNA tidak menyebutkan lokasi pasti kegiatan tersebut.

“Subunit yang terlibat dalam latihan berhasil menjalankan misinya untuk menyerang sasaran bandara simulasi menggunakan rudal jelajah strategis jarak jauh,” demikian laporan KCNA, seperti dikutip Anadolu.

Pengujian terbaru tersebut menjadi aktivitas militer keempat Korea Utara dalam kurun waktu sekitar satu pekan.

Pekan lalu, tepatnya Kamis, Pyongyang menguji peluncur roket multipel berkaliber 600 milimeter yang disebut memiliki presisi sangat tinggi.

Pada Sabtu, Korea Utara menguji bom tandan yang dipasang pada rudal balistik taktis. Sementara itu, pada Senin, negara tersebut menguji hulu ledak penyebar untuk rudal jelajah strategis.

Rangkaian pengujian tersebut berlangsung di tengah latihan militer gabungan Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS), serta meningkatnya ketegangan antara Seoul dan Pyongyang.

Korea Selatan sebelumnya menuduh Korea Utara bertanggung jawab atas ledakan di dalam Zona Demiliterisasi (DMZ) pada 21 September. Insiden tersebut menyebabkan tiga tentara Korea Selatan terluka.

Pyongyang membantah tuduhan tersebut. Korea Utara juga belum memberikan tanggapan terhadap tawaran Seoul untuk memulihkan komunikasi militer sebagai upaya meredakan ketegangan antara kedua negara.

(Fajar Nugraha)