Warisan Tak Benda Kediri, Menjaga Tradisi Moksa dan Air Tirto Kamandanu

Ilustrasi.

Warisan Tak Benda Kediri, Menjaga Tradisi Moksa dan Air Tirto Kamandanu

28 October 2024 10:51

Kediri: Di tengah gempuran wisata modern, Kediri menyimpan sebuah destinasi spiritual dan budaya yang tak lekang oleh waktu: Petilasan Sri Aji Jayabaya. Sebuah situs yang menyimpan kisah klasik Jawa yang hampir dilupakan.

Sri Aji Jayabaya adalah tokoh spiritual dari Kerajaan Kediri yang terkenal dengan warisan berupa Jangka Jayabaya atau Ramalan Jayabaya. Ia merupakan raja bijaksana yang memerintah pada 1135–1157 M.

Salah satu ramalannya berbunyi:

“Akan datang masa kacau di mana yang benar kalah oleh yang licik, rakyat kecil menderita, sementara penguasa hidup berlebihan.”

Banyak yang meyakini bahwa ramalan ini telah terbukti dalam berbagai periode sejarah Indonesia, termasuk masa penjajahan dan era modern saat ini.

Konon, petilasan ini adalah lokasi moksa Sang Prabu Jayabaya — menghilang tanpa meninggalkan jasad, pergi meninggalkan dunia menuju kesempurnaan abadi.

Berikut sembilan alasan mengapa Petilasan Sri Aji Jayabaya layak kamu kunjungi setidaknya sekali seumur hidup.

1. Jejak Moksa Sang Raja Bijaksana

Petilasan ini dipercaya sebagai tempat di mana Prabu Jayabaya mencapai moksa — keadaan sempurna di mana jiwa meninggalkan raga tanpa meninggalkan jasad.

Di kompleks petilasan terdapat tiga situs utama: Loka Mahkota (tempat ia meninggalkan mahkota), Loka Busana (tempat melepas pakaian kerajaan), dan Loka Moksa (tempat terakhir sebelum mencapai kesempurnaan).

2. Sumber Air “Awet Muda” di Sendang Tirto Kamandanu

Daya tarik paling populer di petilasan ini adalah Sendang Tirto Kamandanu, kolam alami yang airnya diyakini memberi manfaat bagi siapa pun yang meminumnya atau sekadar mencuci muka di sana — dipercaya membawa kesehatan dan awet muda.

“Kalau cuci muka di sumur itu bisa bikin bersih aura dan awet muda,” ujar Mbah Sempu (77), juru kunci petilasan yang sudah menjaga tempat ini selama puluhan tahun.

Air sendang mengalir melalui tiga tingkatan — sumber, penampungan, dan kolam pemandian — yang melambangkan kesucian, keseimbangan, dan kemakmuran.

3. Pusat Spiritualitas dan Doa

“Kita sebagai anak-cucu Nusantara tidak boleh lupa pada pahlawan yang sudah berjuang membangun Nusantara, membabat tanah Jawa di masa lalu,” ucap Eko, warga Desa Menang, Kediri.

Setiap hari, Petilasan Jayabaya dipenuhi oleh peziarah dari berbagai latar agama dan niat: mencari ketenangan batin, mendoakan Sri Aji Jayabaya, berharap kesembuhan, hingga mencari jodoh.

Tradisi doa dan meditasi di tempat ini dilakukan dengan cara sederhana namun penuh makna, mencerminkan filosofi kehidupan Jawa: eling lan waspada — selalu ingat dan berhati-hati.

4. Ramalan Jayabaya yang Nyata

Nama Jayabaya lekat dengan Jangka Jayabaya, kumpulan ramalan yang dipercaya menggambarkan perjalanan Nusantara dari masa penjajahan, revolusi kemerdekaan, hingga zaman modern.

Ramalan ini menjadi bagian dari tradisi lisan Jawa. Tak heran jika petilasan ini dianggap sebagai ruang bersemayamnya energi masa lalu — tempat di mana doa, harapan, dan rasa penasaran bercampur menjadi satu.

Salah satu ramalan terkenal berbunyi: “Tanah Jawa akan dikuasai oleh bangsa berkulit putih dan berkulit kuning.” Kalimat ini dianggap menandakan masa penjajahan di Indonesia.

5. Upacara 1 Suro yang Sakral

Tanggal 1 Suro menjadi puncak kegiatan spiritual di petilasan. Ratusan orang datang untuk napak tilas, membawa sesaji, dan berdoa bersama.

Upacara ini bukan sekadar ritual, tetapi bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus waktu untuk membersihkan diri lahir dan batin.

“Tradisi ini adalah warisan leluhur yang harus dijaga, karena mengandung nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap sejarah,” ujar Eko.

6. Arca Syiwa Harihara dan Ganesha yang Menyimbolkan Harmoni

Di sekitar sendang terdapat arca Syiwa Harihara yang melambangkan perdamaian, serta arca Ganesha yang dikenal sebagai simbol kebijaksanaan.

Keberadaan dua arca ini mencerminkan nilai harmoni antara kekuatan spiritual dan intelektual — warisan peradaban Hindu Kediri.

7. Lanskap Alam yang Menenangkan

Perjalanan menuju petilasan disuguhi pemandangan area persawahan khas Kabupaten Kediri. Sesampainya di lokasi, suasananya tenang dan damai. Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk berziarah, tapi juga untuk sekadar duduk merenung dan menikmati ketenangan yang sulit ditemukan di perkotaan.

8. Nilai Sejarah yang Terdaftar Resmi

Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Mustika Prayitno Adi, menjelaskan bahwa Petilasan Sri Aji Joyoboyo merupakan salah satu peninggalan budaya yang harus dilestarikan.

“Petilasan tersebut adalah salah satu peninggalan budaya di Kediri yang harus dilestarikan, dan ritual sesaji Sri Aji Joyoboyo sudah terdaftar sebagai kekayaan intelektual komunal di Kementerian Hukum pada tahun 2021,” jelas Mustika.

9. Daya Tarik Mistis dan Harapan yang Hidup

Terlepas dari kesan mistis, banyak orang justru merasa tempat ini membawa ketenangan. Pengunjung datang dengan niat khusus: mencari petunjuk hidup, memohon kelancaran usaha, hingga berharap dipertemukan dengan jodoh terbaik.

Keyakinan bahwa doa di tempat ini lebih mudah diijabah menjadi daya tarik tersendiri.

Bagi kamu yang bosan dengan destinasi wisata mainstream, Petilasan Sri Aji Jayabaya bisa jadi pilihan unik untuk melepas penat sekaligus mengenal sejarah Jawa lebih dalam.

Selain berziarah, kamu bisa merasakan atmosfer magis dan ketenangan khas pedesaan Kediri. Tempat ini bukan cuma soal legenda, tapi juga pengalaman batin yang tak akan kamu temukan di tempat lain.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com