Hidupkan Semangat Perjuangan dan Persatuan, Kementerian Kebudayaan Luncurkan Aransemen Ulang Lagu 'Hari Merdeka'

Kementerian Kebudayaan luncurkan aransemen ulang lagu “Hari Merdeka”. (Dok. Istimewa)

Hidupkan Semangat Perjuangan dan Persatuan, Kementerian Kebudayaan Luncurkan Aransemen Ulang Lagu 'Hari Merdeka'

Duta Erlangga • 17 August 2026 07:49

Jakarta: Memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Kementerian Kebudayaan mendorong agar lagu-lagu kebangsaan dan lagu perjuangan semakin relevan, disukai, dan digunakan oleh masyarakat, khususnya generasi muda. Gagasan tersebut diwujudkan melalui rilis aransemen ulang lagu “Hari Merdeka” karya Husein Mutahar, yang diciptakan pada 1946, dan merupakan salah satu lagu perjuangan yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan perjuangan bangsa Indonesia.

Penggarapan karya tersebut melibatkan Erwin Gutawa sebagai arranger serta musisi, dan dinyanyikan oleh maestro dan penyanyi lintas generasi, mulai dari Harvey Malaihollo, Ahmad Albar, Judika, Titi DJ, Vina Panduwinata, Rita Butar-butar, Runtah Naya, Sabrina, hingga Novia Bachmid.


Kementerian Kebudayaan luncurkan aransemen ulang lagu “Hari Merdeka”. (Dok. Istimewa)

Penggarapan aransemen baru tidak hanya menjadi upaya menghadirkan warna musikal yang berbeda, tetapi juga menjadi ruang untuk menerjemahkan kembali semangat lagu perjuangan ke dalam konteks pendengar masa kini. Tantangannya adalah menjaga ruh, nilai sejarah, dan pesan yang melekat pada karya, sekaligus membuatnya tetap relevan dan dekat dengan generasi sekarang.

Mengapresiasi hal tersebut, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyampaikan saat ini Indonesia memerlukan lagu-lagu kebangsaan yang semakin relevan, semakin disukai, semakin digunakan. Menurut Menbud, hal tersebut diperlukan karena pilihan lagu sekarang ini banyak sekali, mulai dari lagu-lagu nasional, lagu-lagu Indonesia, hingga lagu-lagu pop yang bertebaran.

Selanjutnya Menteri Fadli menyampaikan kabar menggembirakan bahwa 80 persen rakyat Indonesia memilih mendengarkan musik Indonesia atau lagu-lagu Indonesia. Namun, untuk lagu perjuangan, ungkap Menbud, diperlukan afirmasi agar keberadaannya tetap kuat di tengah perkembangan musik dan perubahan selera masyarakat.

Menbud menilai bahwa generasi yang lebih muda, termasuk generasi milenial dan Gen Z, perlu diperkenalkan kembali kepada lagu-lagu nasional dan perjuangan. Menurutnya, lagu-lagu tersebut tidak hanya memiliki nilai musikal, tetapi juga menyimpan cerita mengenai perjalanan bangsa dan tokoh-tokoh yang turut berjuang pada masanya.

“Tentu karena di balik lagu-lagu ini ada ceritanya. Tokoh-tokoh yang membuatnya juga adalah orang-orang yang waktu itu ikut berjuang,” ungkapnya.


Selanjutnya Menteri Fadli Zon menyampaikan upaya aransemen ulang lagu “Hari Merdeka” merupakan langkah awal untuk menghadirkan kembali lagu-lagu perjuangan.

“Jadi bukan hanya (lagu) ini. Lagu
Hari Merdeka mungkin permulaan. Jadi lagu Syukur, Dari Sabang Sampai Merauke, dan yang lain-lain, kalau dinyanyikan oleh maestro-maestro lintas generasi, pasti akan menarik. Kita berharap nanti Kementerian Kebudayaan mengadakan penciptaan lagu-lagu nasional, lagu-lagu yang berbau nasionalisme dan patriotisme baru,” ungkap Menbud.

Menbud berharap kolaborasi lintas generasi tersebut dapat menghadirkan daya tarik baru bagi lagu-lagu perjuangan sekaligus mempertemukan pengalaman musikal dari berbagai generasi.

Peluncuran video aransemen baru “Hari Merdeka” menjadi bagian dari rangkaian talkshow dan Peluncuran Video Hari Merdeka yang disiarkan secara langsung melalui TVRI pada Minggu, 16 Agustus 2026. Program ini menghadirkan Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, bersama Erwin Gutawa, serta penyanyi Harvey Malaihollo dan Novia Bachmid. Setelah peluncuran perdana di TVRI, video aransemen baru “Hari Merdeka” dapat disaksikan oleh masyarakat luas melalui kanal YouTube Kementerian Kebudayaan https://youtu.be/2d4rA_RWRTY?si=VVsxdCGIFjoSXTUh.

Turut hadir dalam acara peluncuran, antara lain Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra; Inspektur Jenderal Kementerian Kebudayaan, Fryda Lucyana; serta Direktur Film, Musik, dan Seni, Irini Dewi Wanti.

Musik memiliki posisi penting dalam kebudayaan Indonesia. Lagu-lagu perjuangan tidak hanya menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan, tetapi juga merekam semangat suatu zaman dan membangun ingatan bersama. Karena itu, upaya aransemen ulang lagu-lagu tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan ekosistem kebudayaan. Melalui aransemen lagu “Hari Merdeka,” Kementerian Kebudayaan mendorong agar lagu-lagu perjuangan tidak hanya menjadi bagian dari ingatan pada momentum peringatan kemerdekaan, tetapi juga tetap hadir dan digunakan oleh generasi masa kini dan generasi mendatang.

(Rosa Anggreati)