DPD RI Serukan Gotong Royong Bantu Korban Gempa NTT

Wakil Ketua DPD RI Yorrys Raweyai. Istimewa

DPD RI Serukan Gotong Royong Bantu Korban Gempa NTT

Whisnu Mardiansyah • 15 August 2026 20:09

Jakarta: Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Yorrys Raweyai, menyampaikan rasa turut berduka sedalam-dalamnya atas peristiwa gempa bumi yang menerjang wilayah Nusa Tenggara Timur pada Sabtu dinihari, 15 Agustus 2026. Ia mengajak seluruh pihak, baik dari jajaran pemerintah pusat maupun daerah, untuk bersinergi secara maksimal demi memastikan setiap korban dan warga yang terdampak mendapatkan penanganan yang responsif dan terarah.

"Sebagai Pimpinan DPD RI, saya menyampaikan duka mendalam atas musibah gempa yang melanda wilayah NTT," ujar Yorrys dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Yorrys mengungkapkan, puluhan nyawa melayang dan ribuan warga yang mengungsi adalah bagian dari anak bangsa yang saat ini sangat memerlukan uluran tangan dan penanganan segera.

Oleh sebab itu, ia meminta pemerintah agar menjamin terpenuhinya keperluan pokok masyarakat terdampak, mulai dari akses layanan kesehatan, pasokan pangan, air higienis, tempat pengungsian yang memadai, hingga perlindungan bagi golongan rentan seperti balita, perempuan, manula, dan difabel.

"Pemerintah harus memastikan setiap korban memperoleh bantuan. Jangan sampai masyarakat yang berada di wilayah terdampak kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar maupun pelayanan kesehatan," tegasnya.
 

Di samping bantuan darurat, Yorrys juga meminta pemerintah agar menyampaikan informasi yang kredibel, akurat, dan berasal dari saluran resmi kepada publik. Hal itu perlu dilakukan guna menekan potensi kepanikan dan penyebaran kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan di tengah situasi darurat pascagempa.

"Saya berharap masyarakat terdampak gempa untuk tetap berkoordinasi dengan BMKG maupun BNPB, termasuk pemerintah daerah. Masyarakat juga harus mengikuti setiap arahan dan informasi resmi terkait kondisi pascagempa," imbuh Yorrys.

Menurut dia, upaya penanggulangan bencana memerlukan kerja sama dan komunikasi lintaslembaga. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), tenaga kesehatan, para sukarelawan, dan seluruh unsur terkait harus bersatu padu untuk mempercepat proses evakuasi, operasi pencarian dan penyelamatan, serta pemenuhan hajat hidup masyarakat.

Yorrys pun menyoroti pentingnya pendataan korban dan kerusakan yang dilakukan secara cepat dan presisi. Data tersebut menjadi landasan penting bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan penanganan, menyalurkan bantuan, serta merancang pemulihan kawasan terdampak.


Kerusakan bangunan yang terdampak gempabumi M7,7 di Kabupaten Manggarai Timur. (Sumber : BPBD Kabupaten Manggarai Timur)
 

"Yang paling utama saat ini adalah keselamatan masyarakat. Setiap perkembangan harus dipantau dan dilaporkan secara berkala sehingga keputusan yang diambil pemerintah benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan," katanya.

Sementara itu, DPD RI akan terus mengikuti situasi pascagempa melalui kantor perwakilan DPD RI di daerah dan para anggota DPD RI dari Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur.

"Pimpinan DPD RI meminta seluruh Anggota DPD dari Dapil NTT untuk memberikan informasi terkini secara berkala terkait gempa di wilayah mereka. Kami ingin memastikan aspirasi dan kondisi masyarakat terdampak dapat diketahui dan menjadi perhatian pemerintah," imbuh Yorrys.

Yorrys menambahkan, seusai masa tanggap darurat berakhir, fokus penanganan juga perlu diarahkan pada upaya pemulihan masyarakat dan rekonstruksi infrastruktur yang hancur. Menurutnya, penanganan bencana tidak boleh terhenti setelah situasi darurat mereda.

"Pemulihan pascabencana juga harus menjadi perhatian. Masyarakat harus mendapatkan kepastian bahwa pemerintah hadir sejak masa tanggap darurat hingga proses rehabilitasi dan rekonstruksi," ujarnya.

Sebelumnya, gempa bumi Magnitudo 7,7 mengguncang kawasan Nusa Tenggara Timur. BMKG melaporkan pusat gempa berada pada kedalaman 15 kilometer, dengan lokasi episentrum sekitar 30 kilometer di Timur Laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan hingga kini sebanyak 38 orang dinyatakan meninggal dunia dan puluhan lainnya menderita luka. Di sisi lain, ribuan warga terpaksa mengungsi guna menghindari ancaman serta imbas susulan dari gempa tersebut.

Yorrys mengajak semua lapisan masyarakat untuk bahu-membahu menolong warga yang tertimpa musibah serta menjaga ketenangan selama proses penanganan bencana berjalan.

"Dalam situasi seperti ini, solidaritas dan gotong royong seluruh anak bangsa sangat dibutuhkan. Mari kita bersama-sama membantu saudara-saudara kita di NTT dan memberikan dukungan agar mereka dapat segera bangkit dari musibah ini," tutupnya.

(Whisnu M)