Belarus Ingin Jadi Mitra Industrialisasi Indonesia Lewat Alih Teknologi

Presiden Belarus Alexander Lukashenko. Foto: YouTubes BPMI Setpres

Belarus Ingin Jadi Mitra Industrialisasi Indonesia Lewat Alih Teknologi

Muhammad Reyhansyah • 2 July 2026 15:25

Jakarta: Presiden Belarus Alexander Lukashenko menawarkan kerja sama transfer teknologi, pelatihan sumber daya manusia (SDM), hingga pembangunan industri bersama untuk mendukung upaya Indonesia memperkuat kemandirian industri dan mengurangi ketergantungan pada negara lain.

Lukashenko menyampaikan hal tersebut dalam pernyataan pers bersama Presiden Prabowo Subianto usai pertemuan bilateral dalam rangka kunjungan kenegaraannya ke Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 2 Juli 2026.

Ia mengatakan, Belarus tidak hanya ingin memperluas perdagangan dengan Indonesia, tetapi juga menjadi mitra dalam pengembangan kapasitas industri melalui alih teknologi dan investasi jangka panjang.

"Anda mendiversifikasi ke segala hal. Anda tidak ingin bergantung pada satu atau dua negara besar. Anda ingin Indonesia dapat memproduksi sendiri menggunakan teknologi sendiri. Itulah arti kemandirian," kata Lukashenko, dikutip dari siaran langsung kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Menurut Lukashenko, Belarus memiliki pengalaman dan teknologi yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat sektor industri. Ia menegaskan negaranya siap berbagi pengetahuan, termasuk melatih tenaga kerja Indonesia baik di Indonesia maupun di Belarus.

"Kami siap tidak hanya memasok. Kami bahkan siap mengajarkan ribuan orang Indonesia bekerja di bidang teknik. Kami siap melatih mereka tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di pabrik-pabrik kami di Belarus," ujar Lukashenko.

Belarus Dorong Industri Bersama

Lukashenko mengatakan kerja sama kedua negara tidak seharusnya berhenti pada hubungan dagang semata. Menurutnya, Belarus juga membuka peluang pembentukan perusahaan patungan (joint venture) dan lokalisasi produksi di Indonesia.

Ia menyebut pendekatan tersebut diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi kedua negara sekaligus memperkuat fondasi kerja sama ekonomi jangka panjang.

"Belarus siap membuka berbagai proyek kerja sama dan memperluas kolaborasi di Indonesia, tidak hanya dalam perdagangan, tetapi juga melalui pembangunan perusahaan bersama dan lokalisasi industri di sini," katanya.

Selain sektor industri, Lukashenko mengatakan Belarus siap mendukung berbagai kebutuhan Indonesia di bidang ketahanan pangan melalui penyediaan pupuk, alat dan mesin pertanian, teknologi pertanian, hingga produk pangan seperti susu dan daging.

Menurut dia, ketahanan pangan menjadi salah satu syarat penting bagi setiap negara untuk memperkuat kemandirian nasional di tengah berbagai tantangan global, termasuk gangguan rantai pasok, konflik, dan krisis energi.

Dalam kesempatan itu, Lukashenko juga menyatakan optimistis hubungan ekonomi kedua negara akan semakin berkembang setelah kunjungan kenegaraannya ke Indonesia.

Ia mengatakan kedua negara telah menandatangani sejumlah perjanjian kerja sama dan menyusun peta jalan (roadmap) untuk memperkuat hubungan bilateral dalam berbagai sektor.

Tujuh Kerja Sama Strategis

Sebagai bagian dari kunjungan kenegaraan Presiden Lukashenko, Indonesia dan Belarus turut menandatangani tujuh nota kesepahaman (MoU) di berbagai bidang strategis.

Kerja sama tersebut meliputi sektor industri, kebudayaan, riset ilmiah dan teknis antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Belarus, pencegahan tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme, kerja sama sektor jasa keuangan antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Nasional Belarus, bidang kesehatan, serta standardisasi dan akreditasi.

Indonesia dan Belarus telah menjalin hubungan diplomatik sejak 1993. Kunjungan Lukashenko ke Jakarta merupakan tindak lanjut dari pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto di Minsk pada 2025, yang menjadi landasan penyusunan peta jalan kerja sama kedua negara hingga beberapa tahun ke depan.

(Fajar Nugraha)