Iran Khawatir Serangan AS akan Picu Protes Baru dan Guncang Rezim

Ilustrasi: Abedin Taherkenareh/EPA-EFE

Iran Khawatir Serangan AS akan Picu Protes Baru dan Guncang Rezim

Riza Aslam Khaeron • 3 February 2026 09:30

Teheran: Iran secara internal mengakui kekhawatiran bahwa serangan militer terbatas dari Amerika Serikat dapat memicu kembali gelombang protes rakyat dan mengguncang stabilitas rezim. Laporan ini disampaikan oleh Reuters pada Jumat, 2 Februari 2026, berdasarkan kesaksian enam pejabat dan mantan pejabat Iran yang mengetahui diskusi internal di tingkat tinggi.

Menurut laporan tersebut, sejumlah pejabat telah memberi tahu Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei bahwa kemarahan publik atas penindasan berdarah pada Januari lalu telah mengikis rasa takut masyarakat terhadap aparat negara.

Empat pejabat menyampaikan bahwa serangan terbatas dari AS justru dapat mendorong rakyat kembali turun ke jalan dan menimbulkan kerusakan permanen terhadap struktur politik Republik Islam.

"Sebuah serangan yang disertai demonstrasi oleh rakyat yang marah bisa menyebabkan keruntuhan sistem. Itulah kekhawatiran utama di kalangan pejabat tertinggi," ujar salah satu pejabat, yang tidak disebutkan namanya karena alasan sensitivitas.

Laporan ini mengindikasikan adanya perbedaan tajam antara retorika publik pemerintah Iran yang menantang, dan kekhawatiran sebenarnya yang berkembang di balik layar. Kementerian Luar Negeri Iran tidak merespons permintaan konfirmasi atas laporan ini dari Reuters.

Seorang mantan pejabat senior moderat juga mengatakan bahwa rakyat saat ini berada dalam kondisi "sangat marah," dan bahwa dinding ketakutan telah runtuh.

"Tidak ada rasa takut yang tersisa," ujarnya, menambahkan bahwa serangan AS bisa memicu rakyat untuk bangkit kembali.
 

Baca Juga:
Ketegangan AS-Iran: Trump Peringatkan Konsekuensi Jika Negosiasi Gagal

Ketegangan antara Teheran dan Washington semakin meningkat sejak Presiden AS Donald Trump mengirim kapal induk ke kawasan Timur Tengah dan menyatakan siap bertindak menyusul penumpasan brutal terhadap demonstrasi awal Januari.

Saat itu, ribuan orang dilaporkan tewas dan banyak lainnya luka-luka akibat tindakan aparat. Pemerintah Iran menyalahkan kekerasan pada kelompok "teroris bersenjata" yang dituduh memiliki hubungan dengan Israel dan AS.

Mantan Perdana Menteri Mirhossein Mousavi, yang sejak 2011 menjalani tahanan rumah, menyampaikan pernyataan keras bahwa "aliran darah hangat di bulan Januari yang dingin tidak akan berhenti menggelegak sebelum mengubah arah sejarah." Dalam pernyataan yang dirilis situs pro-reformasi Kalameh, Mousavi menegaskan, "Cukuplah sudah. Permainan ini telah berakhir."

Para analis dan sumber internal menyebutkan bahwa meskipun saat ini jalanan terlihat tenang, akar kemarahan publik belum hilang. Ketimpangan ekonomi, represi politik, dan korupsi yang mengakar terus mendorong rasa frustrasi rakyat terhadap sistem.

Seorang pejabat mengatakan bahwa jika tekanan luar meningkat dan aparat kembali menggunakan kekerasan, para demonstran akan lebih berani dari sebelumnya.

"Jika diserang AS, hasilnya bisa jadi pertumpahan darah," ujarnya.

 "Jika Amerika menyerang, saya akan kembali ke jalan untuk membalas kematian anak saya dan anak-anak lain yang dibunuh oleh rezim ini," seorang warga Teheran yang anaknya tewas dalam unjuk rasa pada 9 Januari menyatakan kepada Reuters.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)