Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)
Podium Media Indonesia
Ide Gila Jelang Piala Dunia
Siti Yona Hukmana • 30 April 2026 08:05
Sepak bola selalu mengeklaim diri imparsial, tapi sejarah berulang kali membantahnya. Pun dengan hari-hari ini jelang gelaran Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Netralitas si kulit bundar sedang dipertaruhkan.
Sulit disangkal, di balik gemuruh stadion, ada tarik-menarik kepentingan yang tak pernah benar-benar padam. Sulit dimungkiri, di balik jargon fair play, ada tangan-tangan kekuasaan yang selalu ingin menjamah FIFA. Katanya sepak bola tak kenal politik. Realitasnya, ia tak betul-betul imun dari campur tangan politik.
Dulu, Yugoslavia disingkirkan dari Piala Dunia 1994 karena Perang Balkan. Posisinya di putaran final digantikan Denmark. Banyak yang mempertanyakan, tak sedikit yang mempersoalkan. Namun, penggantian yang dilakukan FIFA kala itu kiranya cukup bisa dipertanggungjawabkan. Denmark kebagian durian runtuh karena berstatus runner-up kualifikasi. Sistem tak benar-benar dikangkangi.
Nyatanya, fakta bicara beda. Israel yang melakukan genosida di Gaza woles-woles saja. Demikian halnya ketika Amerika yang bersama negeri Zionis itu melakukan agresi ke Iran. Sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026, Amerika jalan terus. Tak ada sanksi dari FIFA.
Yang mungkin menjadi korban justru Iran. Ada upaya untuk mencoret mereka. Negara yang secara sah lolos dari Kualifikasi Zona Asia itu tetiba digoyang wacana penggantian. Siapa dalangnya? Lagi-lagi orang Amerika.
Ide sesat Amerika itu tak cuma wacana. Utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Paolo Zampolli, terus melobi FIFA. Ia menyodorkan tiga alasan kenapa Iran harus digeser. Pertama karena ketidakjelasan situasi di Iran imbas serangan AS dan Israel. Kedua, visa untuk tim Iran bakal sulit diterima. Apalagi, Menlu Amerika Marco Rubio telah memerintahkan larangan khusus kepada orang-orang Iran.
Tak cukup di situ. Zampolli meminta FIFA agar menunjuk Italia sebagai pengganti Iran. Ia serius soal itu. Ia percaya betul Italia akan tampil di Piala Dunia 2026 meski tak lolos kualifikasi. Ia yakin, peluang 'Gli Azzurri' tampil lebih dari 50%. Tak boleh ada Piala Dunia tanpa Italia. Presiden FIFA Gianni Infantino dan Presiden Trump akan memutuskan. Begitu ia bilang.
Begitulah Amerika. Pantang malu, pantang mundur. Meski FIFA sudah bersikap bahwa Iran tetap menjadi kontestan, kendati Italia menyebut upaya itu tak pantas dan memalukan, mereka terus lobi sana lobi sini. Tak cuma bernafsu menghancurkan Iran dengan senjata, Amerika juga kelebihan libido untuk merusak mimpi 'Team Melli' di Piala Dunia. Mereka merasa punya kuasa dalam hal apa pun.
Alasan dibuat-buat. Padahal sebagai penyelenggara Piala Dunia, Amerika berkewajiban menjamu tim tamu sebaik mungkin serta memastikan mereka bertanding senyaman dan seaman mungkin. Siapa pun mereka. Termasuk Iran tentu saja. Namun, begitulah Amerika. Alih-alih memastikan diri sebagai tuan rumah yang baik, mereka justru coba-coba berlaku licik.
Barangkali alasan-alasan yang disodorkan sekadar pembenaran. Jangan-jangan mereka takut Iran akan menampar muka mereka di rumah mereka. Sulit dibayangkan betapa wajah Trump yang merah akan kian memerah jika para pemain Iran menyedot simpati penonton sebelum laga. Jika itu terjadi, betapa malunya 'Paman Sam'.

Amerika Serikat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Meksiko dan Kanada. Foto: The New York Times
FIFA memang masih tegar untuk tak mengutak-atik negara-negara peserta. Akan tetapi, siapa yang tahu nanti? Penolakan mereka untuk memindahkan pertandingan Grup G, tempat Iran bersaing dengan Belgia, Mesir, dan Selandia Baru, dari Los Angeles dan Seattle dikhawatirkan menjadi benih perubahan sikap. Apa susahnya venue untuk Iran dialihkan ke Kanada seluruhnya atau Meksiko? Bukankah Amerika tak mau kedatangan orang-orang Iran?
Begitulah Amerika. Di sepak bola, mereka juga ingin berkuasa. Tak ada dasar selembar pun bagi mereka mengusahakan Italia menggantikan Iran. Apa pun dalihnya, kendati demi memperbaiki hubungan kedua negara yang retak gegara perang di Iran dan setelah Trump menyerang Paus Leo XIV.
Kalau toh Iran mundur, bukan Amerika pula yang semestinya punya kuasa menentukan pengganti mereka. Karena Iran wakil Asia, yang menggantikan sebaiknya dari Asia. Atau dihelat lagi play-off tambahan antarbenua. Itu kalau sepak bola masih netral, kebal dari intervensi para begundal.
Legenda Brasil Pele pernah mengatakan kemenangan lahir dari kerja keras dan pengorbanan, bukan dari keputusan di balik meja. Legenda Argentina Diego Maradona pernah berujar bahwa sepak bola milik rakyat, bukan punya penguasa yang bisa mengatur sesukanya. Legenda Belanda Johan Cruyff pun pernah mengingatkan bahwa sepak bola menjadi rumit ketika terlalu banyak tangan di luar lapangan ikut mengendalikan.
Apa yang terjadi hari-hari ini ialah bentuk paling telanjang dari itu semua. Berupaya mengganti tim yang lolos dengan tim yang gagal bukan cuma pelanggaran teknis. Ia pengkhianatan terhadap prinsip paling dasar olahraga; fair play. Prinsip yang sekali dijual tidak akan pernah bisa dibeli lagi.
Mencoret Iran dari Piala Dunia dan menggantikannya dengan Italia seperti yang diinginkan Amerika ialah ide gila, benar-benar gila. Semoga Italia tetap teguh untuk tidak ikut-ikutan gila. Semoga FIFA tetap setia pada prinsip untuk tidak ikut edan meski mereka sebenarnya tak waras-waras amat.