Turki Ajak Indonesia Perkuat Kerja Sama Menjaga Demokrasi dan Institusi

Duta Besar Turki untuk Indonesia Talip Küçükcan. Foto: Metrotvnews.com

Turki Ajak Indonesia Perkuat Kerja Sama Menjaga Demokrasi dan Institusi

Muhammad Reyhansyah • 16 July 2026 05:05

Jakarta: Turki mengajak Indonesia memperkuat kerja sama dalam menjaga demokrasi dan memperkuat institusi negara sebagai pelajaran penting dari upaya kudeta yang gagal menggulingkan pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan pada 15 Juli 2016.

Ajakan itu disampaikan Duta Besar Turki untuk Indonesia Talip Küçükcan dalam peringatan 15th July Democracy and National Unity Day di Jakarta, Selasa, 15 Juli 2026. Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa demokrasi hanya dapat bertahan apabila didukung institusi yang kuat serta partisipasi masyarakat.

"Kami berharap dapat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai upaya kudeta 15 Juli di Turki yang bertujuan menghancurkan demokrasi, konstitusi, dan seluruh pejabat yang dipilih rakyat. Kami juga ingin melihat bagaimana Turki dan Indonesia dapat saling membantu dan belajar dari pengalaman masing-masing untuk mempromosikan demokrasi serta memperkuat institusi negara," kata Talip.

Talip mengatakan, percobaan kudeta pada 2016 berbeda dengan intervensi militer yang pernah terjadi sebelumnya di Turki. 

Sejumlah anggota militer yang terlibat, menurutnya, menggunakan tank dan pesawat tempur untuk menyerang warga sipil, gedung parlemen, hingga kompleks kepresidenan. Namun, upaya tersebut berhasil digagalkan berkat perlawanan masyarakat, dukungan seluruh partai politik, media, serta kepemimpinan nasional yang mengajak warga mempertahankan pemerintahan yang sah.

Talip yang saat itu menjabat sebagai anggota parlemen juga mengenang langsung malam ketika kudeta berlangsung. Ia menyebut sebanyak 251 orang tewas dan lebih dari 2.000 lainnya terluka akibat serangan yang dilakukan kelompok pelaku kudeta.

"Parlemen kami benar-benar dibom. Bayangkan jika DPR RI dibom oleh rakyatnya sendiri. Istana kepresidenan juga diserang. Itu sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya," ujarnya.


Mencegah Kudeta Berulang

Menurut Talip, pemerintah kemudian memperkuat berbagai institusi negara untuk mencegah peristiwa serupa terulang. Ia mengakui langkah tersebut sempat menuai kritik dari sejumlah negara Barat, namun menegaskan upaya tersebut dilakukan untuk menjaga demokrasi dan stabilitas negara.

Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Ankara Hac? Bayram Veli University Prof. Erman Ak?ll? mengatakan demokrasi merupakan aset yang diperjuangkan masyarakat Turki selama puluhan tahun. 

Menurutnya, berbagai kudeta yang terjadi sejak 1960 telah menghambat perkembangan negara sehingga masyarakat memilih mempertahankan pemerintahan hasil pemilu saat percobaan kudeta 2016 terjadi.

"Demokrasi di Turki bukan sesuatu yang diberikan begitu saja, melainkan hasil perjuangan panjang rakyat. Karena itu, masyarakat bersedia mempertahankannya," ujarnya.

Sementara itu, akademisi Universitas Indonesia Muhammad Syaroni Rofii yang berada di Istanbul saat peristiwa tersebut mengaku menyaksikan langsung kepanikan masyarakat ketika militer berupaya mengambil alih pemerintahan. 

Ia menilai Indonesia dan Turki memiliki pengalaman yang sama dalam menjaga demokrasi serta terus memperkuat hubungan bilateral di berbagai bidang.

(Fajar Nugraha)